Sabtu, 20 Juni 2015

Anggap saja aku menulis ini karena aku rewel!



“Kamu terlalu baik kepada banyak lawan jenismu, kepada banyak perempuan. Membuat mereka terlalu nyaman di dekatmu dan membuat mereka merasa aman untuk membuka cerita kepadamu.
Aku hanya sekadar mengingatkan, berhati-hatilah, kamu menumbuhkan apa yang tidak mereka tanam. Perasaan aman dan nyaman itu lebih berbahaya dari perasaan cinta. Kau perlu tahu itu, teman.
Bahwa aku mengenalmu sejak kecil adalah hal yang membuatku paham padamu. Kau sudah merusak masa depan dirimu dan banyak perempuan. Mereka kemudian bisa saja memiliki perasaan masa lalu yang tumbuh ketika kamu sudah bersanding dengan orang lain.
Kau paham sesuatu?
Aku katakan sekali lagi, jangan terlalu baik kepada banyak perempuan. Sikapmu itu seperti bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya. Jagalah dirimu lebih baik. Kau tidak perlu terlalu dekat kepada mereka semua jika sekadar ingin menjadi laki-laki yang baik, bukankah demikian?” Surat ~~ halaman 63

Jadi, jika seandainya engkau menerima surat seperti ini, apa yang akan kalian lakukan? Aku sendiri, paling tidak, setuju benar dengan maksud surat tersebut. Aku cuma mau bilang ‘Terlalu baik itu kutukan!’

Kalimat yang indah selalu menyenangkan untuk dibaca. Tetapi, bagaimana bila keindahan itu justru menipu? Ketika seorang penulis mencoba menulis sesuatu dengan susunan kata-kata yang menurutnya indah, kadang hal itu justru membuat si penulis jatuh pada lubang yang tak ia sadari.

‘Setiap manusia adalah kekosongan, mereka saling mengisi satu sama lain.’ Sepi, halaman 14.

Seharusnya kalimat di atas bisa dengan mudah kita pahami. Bagaimana mungkin kekosongan saling mengisi? Ah, mungkin benar mereka bisa saling mengisi, tetapi kosong diisi dengan kosong hasilnya tetap kosong, kan? Jadi bagaimana penulis maupun editor atau proofreader buku ini bisa meloloskan kalimat ini?

Pada ‘Hujan yang Jatuh’, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang penulis yang setiap hari datang dan membeli bukunya sendiri, setiap kali, saat ia dengan cermat mengamati seorang perempuan yang ia sukai yang bekerja sebagai kasir di toko buku tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya adalah buat apa? Buku itu, apakah akan dijual lagi? Okelah kita sepakati saja bukunya akan dijual lagi atau diberikan kepada orang lain, itu boleh, sah. Hanya saja, entah sengaja atau tidak, dengan mengatakan kalau ia sedang membeli bukunya sendiri, setiap hari, saya merasakan apalah-apalah. Mungkin itu hanya perasaan saya, tapi yang jelas, saya terganggu dengan hal itu.

Ah iya, buku ini sendiri lebih merupakan kumpulan prosa pendek. Entah sebab apa prosa-prosa pendek itu dipilih, barangkali karena pada mulanya tulisan-tulisan ini adalah tulisan di blog pribadi penulis. Sebenarnya bentuk seperti itupun tidak masalah. Yang kemudian menjadi masalah adalah, bagi saya, di beberapa bagian, saya mendapat kesan tanggung; seringkali hanya terdapat pengenalan poin yang hendak disampaikan, lalu serta merta kemudian diakhiri dengan jawaban, apa yang seharusnya dilakukan saat seseorang berada di posisi seperti itu. Tetapi yang terjadi adalah seperti saya tiba-tiba jatuh dari langit dan tiba di depan sebuah rumah indah yang ingin diperlihatkan oleh penulis kepada saya.

Begini, kalau boleh saya bilang bahwa gagasan bisa diibaratkan sebagai rumah/istana, maka untuk sampai ke sana diperlukan jalan. Bagaimana orang-orang akan sampai ke rumah/istana itu dan mengetahui apa isi rumah/istana itu, jika jalan menuju ke sana tidak ada? Atau jalan itu ada tetapi jalan itu berlubang, lubang kecil bolehlah, tapi bagaimana jika lubang itu bahkan tak terlompati? Atau bagaimana jika engkau justru membuat tembok di tengah jalan menuju rumah/istanamu sendiri? Apakah orang itu(pembaca) bisa sampai di rumah/istanamu dengan berbagai rintangan seperti itu? iya bisa, dengan susah payah. Lalu pertanyaannya adalah, apakah orang-orang itu cukup memiliki tenaga untuk menempuh jalan yang melelahkan itu? Bisa, tetapi tidak semua orang.

Baiklah, permisalan lagi; ‘maka fitrahnya yang memang perempuan mendorongnya pada tempat yang tidak semestinya.’ Ada yang bisa membantu saya memahami kalimat ini? Bahkan kadang saya berpikir, apakah penulis tahu arti kata fitrah? Atau barangkali memang saya saja yang bebal.

Apapun, buku ini adalah buku-yang-aku-banget. Kalian tahu, kan? Jenis buku yang saat membacanya maka pembaca akan dengan sendirinya berkata dalam hati, ‘wah ini sih aku banget.’  Begitulah. Saya memberi 2 bintang untuk buku ini. Nah, silahkan! Rasa suka kadang menutupi kekurangan yang ada pada apa yang kita sukai, dan begitu pula sebaliknya, rasa tidak suka kadang menutupi kebaikan yang ada pada apa yang kita benci.

Judul              : Hujan Matahari
Penulis          : Kurniawan Gunadi
Penerbit        : Canting Press
Terbit tahun : Februari 2015, cetakan ketiga
ISBN               : 978-602-19048-1-7

Tidak ada komentar:

Posting Komentar