Kamis, 09 Oktober 2014

bermain dengan Teru Teru Bozu



Judul               : Rahasia hujan
Penulis            : Adham T. Fusama
Penerbit          : moka media

Tahun terbit    : 2014


Siapa yang tidak suka hujan? Orang-orang yang kesepian. Tapi bagi orang-orang yang mengaku romantis, orang-orang yang sedang dimabuk asmara, hujan adalah hal yang indah. Seperti halnya senja, hujan dengan rasa dinginnya mampu memicu perasaan sentimentil manusia. Dalam dingin hujan, tidak bisa tidak, seseorang biasanya akan merindukan orang lain, orang yang dikasihinya, keinginan untuk dipeluk. Hujan menyimpan sesuatu untuk manusia. Menyimpan cerita, menyimpan rahasia, menyimpan sesuatu yang tak(mungkin) sama bagi setiap orangnya. Lalu apa yang tersembunyi dalam Rahasia Hujan di buku ini?

Ah ya, tolong jangan tertipu dengan judulnya. Tapi siapa yang tak tertipu jika melihat judulnya? Rahasia hujan, apa yang kalian bayangkan jika membaca judulnya? Kisah romantis? Kisah yang menyayat hati? Ya ya kalian setengah benar. Mungkin memang ada kisah cinta romantis dalam buku ini. Tapi kisah romantis macam apa? Aku sendiri tak pernah merasa sebagai orang yang romantis, tapi beberapa orang menyebutku romantis. Well, who knows? Baik, coba aku tanya pada kalian, apa itu romantis? Yah, tak ada yang bisa memastikan romantis itu seperti apa. Dan mungkin, bagi Anggi, romantis adalah seperti yang ada di dalam buku ini. Barangkali buat Anggi, apa yang ia lakukan untuk Pandu adalah hal yang romantis.

Tentu saja ada percintaan khas ala anak SMA di buku ini. Dan penulis menyajikan kisah cinta yang lain daripada yang biasa kita jumpai dari kisah cinta sepasang remaja yang sedang mencari jati diri. Ketika pacaran di jaman ini adalah sebuah kewajaran dengan segala tingkah polah kenakalan remaja di era informatika, di buku ini penulis mampu menunjukkan betapa mengecup pipi menjadi terasa begitu manis; tanpa hal-hal yang sepertinya akan dilakukan pasangan remaja lain di masa ini. Pandu adalah tipe 'lelaki baik-baik', begitu juga nadine. Dan perilaku yang lain dari remaja kebanyakan itu, bagi saya, dan mungkin bagi pembaca yang lain adalah sesuatu yang menyenangkan. Menjadi berbeda selalu menarik.

Begitu juga Anggi. Menjadi berbeda, menjadi manusia yang memilih untuk mencintai Pandu dengan cara yang berbeda. Seperti apa? Di sinilah penulis dengan piawai menggiring pembaca sampai pada plot utama novel ini. Dengan seksama penulis menyisipkan detail-detail kecil yang sekilas tampak tak memberi efek apa-apa pada keseluruhan inti novel. Seperti kucing putih peliharaan Anggi yang melintas di dekat pohon beringin, gambar sketsa, dan beberapa hal lain.

Membaca buku ini, anda hanya harus bersabar. Bersabar melalui lembar demi lembar adegan hingga mencapai puncaknya di mana novel ini disebut novel thriler. Dengan alur yang menurut saya agak lambat, dengan terus memupuk rasa penasaran pembaca. Suspense nya terasa hingga sampai ending, meskipun endingnya agak terlalu panjang buat saya; tapi itu soal lain. Rasa penasaran itu terutama pengaruh dari judul yang dipilih oleh penulis, Rahasia Hujan. Begitu kuat memancing rasa penasaran saya, ada apa dengan Hujan? Apa rahasianya? Apakah yang tersembunyi itu?

Bagian yang menarik lainnya dari buku ini adalah cuilan adegan-adegan yang pada awalnya tidak saya pahami. Sebuah adegan seorang anak kecil yang pergi memancing, lalu mengamati anak burung yang jatuh dari sarangnya. Meski tampak tidak berhubungan dengan keseluruhan bangunan isi novel, pada akhirnya itu menjelaskan/melengkapi puzle atas siapa Anggi sebenarnya. Sekali lagi di sini penulis bisa dengan jeli mengajak pembaca menerka-nerka, berpikir untuk kemudian menyimpulkan sendiri bagaimana hal itu membentuk Anggi.

Ah satu saran dari saya jika anda memutuskan untuk membaca buku ini, jangan baca blurb di belakang buku, itu sungguh-sungguh mengurangi keasyikan saya membaca buku ini. Juga, satu hal yang agak mengganggu saya saat membaca buku ini adalah penggunaan capslock dalam beberapa dialog. Mungkin, penulis hendak mencapai efek dramatis dari penggunaan capslock tersebut; tapi bagi saya, hal itu justru mengurangi kenyamanan saya membaca buku ini. Saya juga menemukan sedikit typo di buku ini, tetapi saya kira itu boleh diabaikan; belum sampai pada tahap mengganggu kenikmatan membaca.

Bagaimanapun, di luar segala kerewelan saya sebagai pembaca, buku ini setidaknya enggak membuat saya capek membaca Rahasia Hujan. Selain membuat saya untuk lebih hati-hati terhadap teman saya sendiri. Buku ini juga menunjukkan betapa pacaran tidak sebodoh, segampang dan secengeng yang kukira, yang kusangka... hahaha oke itu lagunya Bang Iwan. Sebaiknya aku sudahi sampai di sini saja perkara buku ini sebelum saya makin melantur.

Well, bukan buku yang mengecewakan dibanding dengan pengalaman membaca buku teenlit sebelumnya. Nah, silahkan rasakan sendiri bagaimana rasanya bertemu dengan teru teru bozu... selamat membaca!!


Kamis, 25 September 2014

The Maze Runner

Pernahkah kalian membayangkan bagaimana kerasnya kehidupan ketika manusia pertama harus bertahan hidup di dunia, di bumi? Apakah keras ataukah menyenangkan karena tidak ada orang lain yang melarangmu melakukan apapun yang ingin engkau lakukan? Bagaimana rasanya hidup sendirian di dunia ini? Kesepian? Bahkan saat akhirnya engkau bertemu dengan pasanganmu dan memulai hidup baru bersama pasanganmu, akankah itu kesendirian itu hilang? Oke, engkau bersama pasanganmu, tapi apakah itu menghilangkan kenyataan bahwa kalian sendirian? Kalian berdua, sepasang manusia yang sendirian. Satu-satunya pasangan yang ada. Dan ketika sebuah kejahatan pertama terjadi, misalnya ketika anak tertua yang membunuh saudaranya sendiri, apa yang akan kalian lakukan untuk memastikan hal buruk itu tidak terulang lagi? Peraturan! Meskipun saya sendiri tak cukup yakin apakah peraturan yang dibuat oleh manusia adalah peraturan yang akan memastikan manusia lainnya mendapat keadilan atau barangkali peraturan itu dibuat untuk membatasi orang lain agar tidak melakukan hal-hal yang bisa mengikis kepentingan pribadi si pembuat peraturan?

“peraturan di Glade sangat sederhana: saling menghormati, kerjakan bagianmu dan jangan menyakiti anggota Glade yang lain” begitu tokoh Alby berkata kepada Thomas.

Glade adalah sebuah area yang berada di tengah sebuah labirin raksasa yang selalu berubah bentuk setiap malam hari. Setelah tiga tahun semenjak orang pertama dikirim oleh-entah-siapa, Glade berisi sekumpulan orang yang kemudian tinggal dan bertahan hidup di dalamnya.

Glade adalah sebuah miniatur, sebuah dunia/negeri/kota/wilayah di mana untuk menciptakan kedamaian hidup bersama semua manusia yang tinggal di sana, maka dibuatlah sebuah peraturan sederhana yang harus dipatuhi oleh semua penghuni di sana. Aturan adalah aturan. Siapapun yang melanggarnya harus dihukum!

Dan peraturan sangat diperlukan dalam sebuah koloni. Sebuah kelompok yang berisi banyak kepala dengan berbagai cara pikirnya. Begitu juga Glade, dengan seluruh penghuninya. Penghuni Glade terdiri dari sekumpulan kelompok yang hidup rukun, bahu-membahu untuk menciptakan sebuah kondisi yang layak untuk bertahan hidup. Ada kelompok pembangun yang bertugas membangun bangunan. Lalu ada kelompok pemasak, orang orang yang bertugas memastikan terpenuhinya kebutuhan makanan untuk mereka. Ada dokter yang beranggotakan 2 orang. Dan ada para pelari, mereka itu setiap hari bertugas berlari memasuki gerbang labirin yang terbuka pada pagi hari dan harus keluar dari dalam labirin untuk kembali ke Glade sebelum matahari terbenam saat pintu labirin tertutup. Selain karena pada malam hari adalah waktu bagi labirin untuk berubah bentuk, juga karena pada malam hari adalah waktu bagi para grievers keluar dari sarangnya di dalam labirin. Grievers adalah semacam robot berbentuk laba-laba yang memiliki ekor penyengat seperti kalajenking yang menyuntikan racun. Mereka semua dipimpin oleh Alby, seorang lelaki yang dianggap sebagai orang pertama yang dikirim oleh-entah-siapa ke dalam Glade.

Alby, mengatur kehidupan di dalam Glade dengan sedemikian rupa sehingga mereka dapat hidup damai di dalam Glade. Tetapi kedamaian itu terusik oleh kedatangan seorang lelaki bernama Thomas. Thomas dengan segala rasa ingin tahunya mulai mempertanyakan segala hal. Pendatang baru itu kemudian segera menjadi pusat kehidupan di Glade ketika Thomas memutuskan melanggar aturan yang selama ini dipegang kukuh; Thomas menerobos masuk ke dalam pintu labirin sesaat ketika pintu labirin akan tertutup karena Thomas ingin menolong Alby yang tersengat Grievers dan tidak mampu keluar sebelum matahari terbenam. Aturan tetap aturan. Siapapun yang melanggarnya harus dihukum!

Tak hanya itu, Thomas juga melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh siapapun: membunuh seekor Grievers. Meskipun berhasil menyelamatkan Alby, hal itu tidak serta merta menjadikan Thomas sebagai seorang pahlawan. Adalah Gally, orang yang memiliki kekuatan yang besar karena badan kekarnya yang terlatih selama menjadi kelompok pembangun; Gally menyalahkan Thomas karena telah membunuh seekor Grievers. Selama ini mereka hidup berdampingan, selama tiga tahun, tidak ada yang pernah membunuh Grievers dan mereka bisa hidup tenang di dalam Glade tanpa diganggu oleh para Grievers. Apakah Thomas telah melakukan kesalahan karena telah membunuh mahkluk yang secara matematis tidak sanggup dilawan oleh seorang manusia? Yang kekuatannya dapat menghancurkan siapapun dengan kaki-kaki robotnya dan dengan penyengatnya? Siapa yang bisa memastikan keadaan akan tetap sama seperti ketika belum ada Grievers yang dibunuh? Siapa yang tidak mempunyai dendam saat ada saudara dibunuh oleh orang lain? Kalian tentu ingat dengan film the beach yang dibintangi Leonardo Di Caprio yang berhasil membunuh seekor hiu yang hendak memangsanya. Yang terjadi kemudian adalah sekelompok hiu melakukan balas dendam. Membuat kawasan pantai yang tadinya aman kini menjadi berbahaya oleh ancaman serangan hiu.

Tidak sampai di situ, sebuah kejadian yang membuat kedamaian di dalam Glade kian terusik adalah kedatangan seorang pendatang baru yang membawa secarik kertas bertuliskan ‘yang terakhir, selamanya’ dalam selang waktu hanya tiga hari setelah kedatangan Thomas. Ini menyalahi kebiasaan bahwa kedatangan pendatang baru adalah satu orang pada setiap bulannya. Dan kenyataan pendatang baru itu bahkan membawa sebuah pesan ‘yang terakhir, selamanya’. Apa maksud pesan itu? Dan yang lebih penting lagi adalah pendatang baru itu, Teresa, seorang perempuan. Perempuan satu-satunya di dalam Glade.

Yang menarik bagi saya adalah jelas, Teresa. Sebagai seorang perempuan satu-satunya, seandainya benar ia adalah orang terakhir yang dikirim oleh-entah-siapa ke dalam Glade, maka Teresa adalah satu-satunya yang diperlukan untuk memastikan kelangsungan hidup para penghuni di dalam Glade. Tanpa Teresa, mereka bisa hidup berkecukupan dengan semua yang telah mereka usahakan selama tiga tahun terakhir untuk bertahan hidup di dalam Glade; terus hidup, menua sampai akhirnya mati dibunuh waktu. Dan kehidupan akan berhenti. Tapi, dengan Teresa, semua dapat berjalan sama sekali lain. Dengan Teresa, mereka bisa memastikan akan adanya keturunan berikutnya dengan beranak-pinak hingga kemudian memenuhi bumi, seperti Adam dan Hawa, yang dengan keturunan merekalah, kita, manusia memenuhi bumi seperti sekarang ini.

Yang bahkan lebih hidup dalam imajinasi liar saya adalah, bagaimana jadinya jika seandainya mereka, para lelaki itu, kemudian saling berperang untuk memperebutkan Teresa, seperti Troy pada akhirnya harus menghadapi Yunani/Agamenon untuk seorang Helen. Akan sehebat apa kira-kira perang itu saat yang diperebutkan adalah seorang perempuan terakhir yang berpotensi meneruskan darah mereka hingga menjadi manusia-manusia yang kemudian memenuhi dunia ini, sama seperti kita, keturunan Adam dan Hawa.

Saya juga menjumpai dua tipe manusia di dalam film ini; yang sampai saat ini masih membuat diri saya sendiri terus bertanya-tanya; seandainya saya adala salah satu dari penghuni Glade, akan ke manakah berpihak? Tipe manusia pertama adalah Thomas, yang dengan rasa ingin tahunya, dengan selalu memupuk harapan, siap mengambil resiko apapun yang mungkin akan dia hadapi di luar sana_jika dunia luar itu benar-benar ada_dengan terus-menerus mencari jalan keluar dari dalam Glade. Dan tipe manusia lainnya itu tentu saja Gally. Si orang perkasa itu adalah manusia yang memilih bermain aman. Gally lebih memilih sebuah tempat di mana dia bisa memastikan eksistansinya. Untuk apa meninggalkan tempat yang telah menjamin kehidupannya di dalam Glade? Meninggalkan sebuah tempat yang aman dan nyaman, untuk sebuah dunia yang mungkin hanya ada dalam angan mereka? Dan kalaupun dunia itu memang ada, apakah dunia yang lain itu adalah tempat yang baik buat mereka? Sebuah dunia yang tak akan membiarkan mereka kelaparan, atau dunia tanpa orang jahat yang mungkin sekali akan menindas mereka?


Sampai saat ini saya masih bertanya-tanya, apakah saya ini Gally ataukah Thomas?

Jumat, 08 Agustus 2014

#BGANia: Untuk Para Pengembara Yang Selalu Merindukan Rumah

Pada sebuah minggu pagi yang cerah di bulan Ramadhan pada tanggal 12 juli 2014 saya membaca sebuah berita di kolom olahraga yang membuat saya mengambil jeda untuk menghela nafas. "Lebron James pulang ke Cleveland Cavaliers" iya begitu judul berita yang membuat saya tertegun.

Baiklah, Apakah anda mengenal Lebron James? Tidak? Baik ini sedikit mengenai siapa Lebron James. Lebron, sekarang ini adalah salah satu pebasket terbaik yang dipunyai Amerika. Lebron memulai kariernya di klub basket yang bisa dibilang papan bawah di masa dia bermain di klub Cleveland Cavaliers. Sejak 2003 hingga 2010 Lebron nyaris sendirian membawa cavaliers berjuang untuk mencoba memenangkan cincin juara NBA. Setelah selama tujuh tahun, pada akhirnya Lebron memutuskan untuk meninggalkan Cavs(nick name  Cleveland Cavaliers) untuk memperkuat Miami Heats demi sebuah gelar NBA yang diidamkan namun tak jua terengkuh bersama Cavs. Bersama Heats, dua kali Lebron berhasil memenangkan gelar juara NBA dua kali: 2012, 2013. Dari 4 kesempatan ke final NBA, 4 musim dan 4 kali final. Siapa yang tak gentar melawan Heats dengan Lebron?

Lalu datanglah berita itu, di tengah masa kejayaannya bersama Heats, Lebron memutuskan pulang ke Cleveland.

"Anak-anak saya sudah mulai besar sekarang, saya berharap bisa melihat dan mendampingi mereka tumbuh. Dan dalam kepala saya, saya ingin melihat mereka tumbuh di lingkungan yang sama dengan saya tumbuh"

"Sebelum orang tahu di mana saya akan bermain bermain bola basket, saya adalah anak asal Northeast Ohio. Di sanalah saya berjalan. Di sanalah saya berlari. Di sanalah saya menangis. Di sanalah saya terluka. Daerah itu mengisi tempat spesial dalam hati saya. Warga di sana menyaksikan saya tumbuh."

Begitu jawab Lebron dalam sebuah wawancara. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Lebron akhirnya memutuskan kembali bermain bersama Cavs. Sebuah klub kecil yang akan kesulitan untuk masuk ke final wilayah.

"Saat aku meninggalkan Cleveland, aku sedang dalam sebuah misi. Aku mencari titel juara, dan kami juara dua kali. Tapi Miami tahu perasaan ini. Tujuanku masih memenangi titel sebanyak mungkin tapi apa yang paling penting bagiku sekarang adalah membawa setidaknya satu trofi juara ke timur laut Ohio."

"Di timur laut Ohio, tidak ada yang gratis. Semuanya dihasilkan. Anda bekerja untuk apa yang Anda miliki. Aku siap menerima tantangan ini. Aku pulang ke rumah," kata LeBron.

Masih ada manusia-manusia yang lebih menghargai tanah tempat dia lahir dan tumbuh. Manusia-manusia yang tak melulu mengagungkan kejayaan. Masih ada manusia seperti Lebron James.

"Sebelum siapapun peduli di mana aku akan bermain basket, aku hanyalah seorang bocah dari timur laut Ohio."

"Itulah tempat di mana aku berjalan, tempat di mana aku berlari, tempat di mana aku menangis. Orang orang di sana telah melihatku tumbuh. Hubunganku dengan timur laut Ohio lebih besar dari bola basket. Aku tidak menyadarinya empat tahun lalu, tapi aku sudah sadar sekarang."


Anda boleh mengatakan saya sentimentil. Tapi, seperti juga Lebron, saya pun mendambakan hidup di kampung di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Sudah terlalu lama saya meninggalkan ibu saya, menelantarkan adik perempuan saya tumbuh tanpa seorang kakak yang bisa melindunginya.

Kalau dihitung kembali, sudah terlalu lama. 2004-2008 saya menjadi sisiphus di Karawang. Pada 2009 saya menengok saudara di Riau. 2010, pada bulan April, saya kembali memutuskan untuk mendamparkan diri di Kalimantan. Sampai saat ini(sebenarnya sejak januari ini saya sedang di rumah, cuti sakit, tapi tanggal 3 September nanti saya harus kembali ke kalimantan). Dan keinginan untuk pulang itu masih wacana.

Tapi suatu saat nanti, secepatnya, saya bisa membayangkan tinggal di rumah menemani ibu. Menemani kesepiannya. Bahkan membayangkannya saja sudah bisa membuat saya tersenyum. :)

Meskipun kampung saya telah tumbuh, berubah, barangkali tak lagi senyaman pada masa kecil saya, dan telah begitu banyak hal yang saya lewatkan. Takkan pernah ada bau tanah yang bisa memuaskan rongga di dadaku selain aroma tanah kampungku yang basah oleh air hujan.


"Kadang kala saya merasa saya anak mereka. Saya ingin memberi mereka harapan selagi saya bisa. Saya ingin menginspirasi mereka kapan pun saya bisa. Hubungan saya dengan Northeast Ohio lebih besar dibandingkan bola basket. Saya tak menyadari itu empat tahun lalu. Sekarang saya sadar," kata James seperti dikutip Reuter.


Sebentar lagi Agustus akan segera habis. Saya akan kembali meninggalkan rumah. Sementara Lebron tengah memulai kembali kegairahannya untuk memberikan secercah harapan pada penduduk Cleveland agar bisa turut mencicipi rasa bahagia kala Lebron merengkuh gelar juara NBA.


Aku masih di sini, selalu bertanya-tanya, seraya terus melangkah menyusuri jalan yang entah kemana akan membawaku. Sampai nanti. Sampai mati! Sampai aku berani membuat jalan sendiri!  [  ]




Tulisan ini diikutsertakan di dalam lomba #BGANia yang diadakan di sini  http://kata-nia.blogspot.com/2014/07/BGANia.html?m=1

Selasa, 05 Agustus 2014

Harga Sebuah Kesedihan

Suatu kali saya baru saja menonton film The Counselor. Ada sebuah chapter yang hingga kini masih menempel dalam kepala saya. Dan aku ingin membaginya kepada kalian: 

"Pada suatu masa dalam sebuah dunia, hiduplah seorang penyair yang begitu mencintai kekasihnya. oleh suatu sebab yang saya lupa, sang kekasih meninggal, meninggalkan cinta yang bagi sang penyair. Sang penyair dengan kesedihannya kemudian , menuliskan sajak-sajak cinta untuk sang kekasih. Kemudian berkat sajak-sajak itu Sang penyair ditahbiskan menjadi seorang penyair besar. Syahdan, Sang penyair mendapatkan penghargaan atas sajak-sajaknya, mendapatkan uang dari sajak-sajaknya, dari kesedihannya.

Pada akhirnya penyair itu menjadi orang kaya. Segala hal yang mau melacurkan dirinya pada uang mampu ia beli. Namun, Kehilangannya akan Sang kekasih tak pernah bisa hilang dari jiwanya. Sang penyair masih dirundung kesedihan yang dalam akan cintanya yang hilang, kekasihnya.

Seorang kawan yang melihat hal itu kemudian bertanya kepada sang penyair "Dengan segala kekayaanmu, kenapa engkau masih bersedih?"

sang penyair tak bisa menjawab pertanyaan itu. ia lalu menawarkan "aku bersedia menukar seluruh kekayaanku dengan sebuah kebahagiaan. ambillah kesedihanku bersama seluruh kekayaanku."

sahabatnya tampak berpikir sejenak. namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.

Begitulah, bahkan seluruh negeri tak ada yang mau menukarkan kebahagiaannya untuk kekayaan sang penyair beserta segepok kesedihan yang ia pelihara. [ ]


tanggung jawab dan kejujuran


 judul           : Semusim, dan semusim lagi
penulis        : Andina Dwifatma
penerbit       : Gramedia
tahun terbit  : 2013
isbn             : 9789792295108



Pada jaman sekarang ini, tanggung jawab dan kejujuran sudah seperti barang langka. Dan yang lebih menyedihkan lagi, terkadang menjadi jujur itu sulit. Kejujuran menjadi sulit karena karena sebuah stigma bahwa orang jujur itu langka. Lalu yang terjadi adalah manusia membentengi diri dari orang jujur, mudah curiga, alhasil orang yang sudah bicara jujur seringkali tidak dipercaya sedang berkata jujur. Tentu kita semua pernah mengalami hal ini kan?
Tapi orang yang mempunyai kejujuran dan ganggung jawab di dunia ini, masih ada, masih banyak. Salah satu orang itu adalah Tuan Meursault. Tuan Meursault adalah jenis manusia yang akan mengakui kesalahannya bila ia memang bersalah. Begitu juga saat Tuan Meursault menghadapi seorang lelaki asing yang mengancamnya menggunakan sebilah pisau, dalam posisi terdesak, Tuan Meursault yang membawa pistol di tangannya kemudian menembak orang itu. Mati. Namun yang terjadi kemudian adalah Tuan Meursault ini melepaskan tiga kali tembakan lagi ke orang yang sudah ditembaknya. Empat kali. Empat kali tembakan membuat niat Tuan Meursault yang tadinya hendak membela diri kemudian menjadi diragukan. Apa yang terjadi? Tuan Meursault sendiri sebenarnya tidak begitu yakin apa sebab dia menembak hingga empat kali. Tapi sudah terjadi. Tuan Meursault dibawa ke pengadilan dan dengan sadar mengakui kalau ia menembak sebanyak empat kali, dan mengabaikan kemungkinan tindakan membela diri. Tuan Meursault secara sadar menerima hukuman mati yang kemudian diputuskan oleh hakim. Nah kalian lihat sendiri kan kalau orang yang bertanggung jawab itu masih ada, dan dia jujur meskipun dia bersalah.
Meskipun adegan yang saya jabarkan secara panjang lebar tadi hanya terjadi di dalam novel, saya tetap percaya bahwa orang yang jujur dan bertanggung jawab itu masih ada. Tidak seperti manusia-manusia tak tahu malu yang hanya tahu menyelamatkan diri sendiri. Kalian pasti paham siapa yang saya maksud, mereka orang-orang berduit yang menyewa pengacara mahal yang mau melakukan apa saja agar ia lepas dari hukuman akibat kesalahannya.
Novel the outsider karya Albert Camus dengan Tuan Meursault-nya, kemarin malam mendadak menyembul dalam ingatan saya ketika membaca buku Semusin, Dan Semusim Lagi karya Andina Dwifatma yang memenangkan sayembara novel DKJ 2012.
Persamaan kedua buku itu saya kira jelas, tokoh utama kita yang tercinta melakukan kesalahan dan mengatakan sejujurnya tentang apa yang telah ia lakukan, terlepas apa yang ia lakukan tidak dapat disangkal. Dan kedua tokoh utama kita bersedia menerima hukumannya. Bahwa yang bersalah memang harus membayar kesalahannya. Perbedaannya, Tuan Meursault menembak orang dengan sadar tanpa pengaruh siapapun, sedangkan tokoh di dalam buku semusim, dan semusim lagi menusuk orang di bawah pengaruh sobron(siapa sobron? Sebaiknya baca sendiri yes!). Tapi pada akhirnya kedua orang yang telah melakukan kesalahan(oke saya memperhalusnya, seharusnya saya bilang kejahatan) itu menerima kenyataan bahwa mereka menerima hukumannya.
Yang sering tidak kita sadari adalah, seperti hewan yang memiliki naluri bertahan hidup, terkadang manusia, pada saat yang terdesak setelah berbuat kesalahan, secara reflek seseorang sangat mungkin untuk menuruti naluri bertahan hidupnya saat terancam. Termasuk terancam ketahuan saat berbuat salah. Seseorang kadang dengan tanpa sadar mengelak, tidak mengakui kesalahannya demi keselamatannya, atau demi keyakinan bahwa dia tidak bersalah, dan membangun argumen untuk membenarkan tindakannya. Alih-alih mengakui kesalahannya secara jujur dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Begitulah tokoh utama kita yang tercinta pada akhirnya siap menerima hukuman apapun yang mungkin bisa dia dapatkan.
Dari segi penulisan, buku ‘semusim, dan semusim lagi’ adalah sebuah perayaan kalau tidak boleh saya sebut sebagai hiburan. Latar belakang penulis yang seorang wartawan membuat tulisannya begitu mengalir, tidak terasa dipaksakan, bahkan saat penulis menghadirkan keberadaan sosok ikan mas koki yang bisa bicara dan membuat teh sendiri. Semua terasa wajar. Maka tidak heran bila buku ini kemudian memenangkan sayembara novel dewan kesenian jakarta tahun 2012.
Pada mulanya membaca buku ini fokus saya adalah mencari dan mencoba menemukan kaitan antara buku ini dan puisi Sitor Situmorang yang ada di bagian belakang buku. Saya sempat berpikir penulis menggunakan setiap baris puisi tersebut di dalam bukunya, satu baris di setiap bab. Tapi ternyata saya hanya menemukan satu baris saja puisi tersebut di dalam buku ini, dan itupun ada di bab terakhir buku ini. Yah, tetapi hal itu tidak terlalu mengecewakan, karena penulis mampu membayarnya dengan sebuah cerita yang menarik.
Kelebihan: saya menyukai cara penulis membangun karakter tokoh utama kita. Bahasanya lancar.
Kekurangan: ada sebuah adegan yang meloncat dan itu sungguh membingungkan bagi saya. Itu terjadi pada adegan ketika si tokoh utama menusuk leher Muara menggunakan pisau sebanyak empat kali. Yang begitu mengganggu adalah, empat tusukan di leher tidak membuat Muara mati, ia hanya kehilangan banyak darah. Oke mungkin itu memang bisa tertolong bila cepat-cepat ditemukan dan ditangani. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah berapa lama selang antara Muara ditusuk dengan pisau sebanyak empat kali di bagian leher dan saat Muara ditemukan? Dan siapa yang menemukan mereka? Pertama, karena si tokoh utama tinggal sendirian di rumah di tempat kejadian perkara. Kedua, Berbeda misalnya yang ia tusuk adalah di bagian perut. Ini di bagian leher, tempatnya pembuluh darah berada.
Saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini.