Sabtu, 20 Juni 2015

Anggap saja aku menulis ini karena aku rewel!



“Kamu terlalu baik kepada banyak lawan jenismu, kepada banyak perempuan. Membuat mereka terlalu nyaman di dekatmu dan membuat mereka merasa aman untuk membuka cerita kepadamu.
Aku hanya sekadar mengingatkan, berhati-hatilah, kamu menumbuhkan apa yang tidak mereka tanam. Perasaan aman dan nyaman itu lebih berbahaya dari perasaan cinta. Kau perlu tahu itu, teman.
Bahwa aku mengenalmu sejak kecil adalah hal yang membuatku paham padamu. Kau sudah merusak masa depan dirimu dan banyak perempuan. Mereka kemudian bisa saja memiliki perasaan masa lalu yang tumbuh ketika kamu sudah bersanding dengan orang lain.
Kau paham sesuatu?
Aku katakan sekali lagi, jangan terlalu baik kepada banyak perempuan. Sikapmu itu seperti bom waktu, tinggal menunggu kapan meledaknya. Jagalah dirimu lebih baik. Kau tidak perlu terlalu dekat kepada mereka semua jika sekadar ingin menjadi laki-laki yang baik, bukankah demikian?” Surat ~~ halaman 63

Jadi, jika seandainya engkau menerima surat seperti ini, apa yang akan kalian lakukan? Aku sendiri, paling tidak, setuju benar dengan maksud surat tersebut. Aku cuma mau bilang ‘Terlalu baik itu kutukan!’

Kalimat yang indah selalu menyenangkan untuk dibaca. Tetapi, bagaimana bila keindahan itu justru menipu? Ketika seorang penulis mencoba menulis sesuatu dengan susunan kata-kata yang menurutnya indah, kadang hal itu justru membuat si penulis jatuh pada lubang yang tak ia sadari.

‘Setiap manusia adalah kekosongan, mereka saling mengisi satu sama lain.’ Sepi, halaman 14.

Seharusnya kalimat di atas bisa dengan mudah kita pahami. Bagaimana mungkin kekosongan saling mengisi? Ah, mungkin benar mereka bisa saling mengisi, tetapi kosong diisi dengan kosong hasilnya tetap kosong, kan? Jadi bagaimana penulis maupun editor atau proofreader buku ini bisa meloloskan kalimat ini?

Pada ‘Hujan yang Jatuh’, saya menemukan sebuah cerita tentang seorang penulis yang setiap hari datang dan membeli bukunya sendiri, setiap kali, saat ia dengan cermat mengamati seorang perempuan yang ia sukai yang bekerja sebagai kasir di toko buku tersebut. Yang menjadi pertanyaan saya adalah buat apa? Buku itu, apakah akan dijual lagi? Okelah kita sepakati saja bukunya akan dijual lagi atau diberikan kepada orang lain, itu boleh, sah. Hanya saja, entah sengaja atau tidak, dengan mengatakan kalau ia sedang membeli bukunya sendiri, setiap hari, saya merasakan apalah-apalah. Mungkin itu hanya perasaan saya, tapi yang jelas, saya terganggu dengan hal itu.

Ah iya, buku ini sendiri lebih merupakan kumpulan prosa pendek. Entah sebab apa prosa-prosa pendek itu dipilih, barangkali karena pada mulanya tulisan-tulisan ini adalah tulisan di blog pribadi penulis. Sebenarnya bentuk seperti itupun tidak masalah. Yang kemudian menjadi masalah adalah, bagi saya, di beberapa bagian, saya mendapat kesan tanggung; seringkali hanya terdapat pengenalan poin yang hendak disampaikan, lalu serta merta kemudian diakhiri dengan jawaban, apa yang seharusnya dilakukan saat seseorang berada di posisi seperti itu. Tetapi yang terjadi adalah seperti saya tiba-tiba jatuh dari langit dan tiba di depan sebuah rumah indah yang ingin diperlihatkan oleh penulis kepada saya.

Begini, kalau boleh saya bilang bahwa gagasan bisa diibaratkan sebagai rumah/istana, maka untuk sampai ke sana diperlukan jalan. Bagaimana orang-orang akan sampai ke rumah/istana itu dan mengetahui apa isi rumah/istana itu, jika jalan menuju ke sana tidak ada? Atau jalan itu ada tetapi jalan itu berlubang, lubang kecil bolehlah, tapi bagaimana jika lubang itu bahkan tak terlompati? Atau bagaimana jika engkau justru membuat tembok di tengah jalan menuju rumah/istanamu sendiri? Apakah orang itu(pembaca) bisa sampai di rumah/istanamu dengan berbagai rintangan seperti itu? iya bisa, dengan susah payah. Lalu pertanyaannya adalah, apakah orang-orang itu cukup memiliki tenaga untuk menempuh jalan yang melelahkan itu? Bisa, tetapi tidak semua orang.

Baiklah, permisalan lagi; ‘maka fitrahnya yang memang perempuan mendorongnya pada tempat yang tidak semestinya.’ Ada yang bisa membantu saya memahami kalimat ini? Bahkan kadang saya berpikir, apakah penulis tahu arti kata fitrah? Atau barangkali memang saya saja yang bebal.

Apapun, buku ini adalah buku-yang-aku-banget. Kalian tahu, kan? Jenis buku yang saat membacanya maka pembaca akan dengan sendirinya berkata dalam hati, ‘wah ini sih aku banget.’  Begitulah. Saya memberi 2 bintang untuk buku ini. Nah, silahkan! Rasa suka kadang menutupi kekurangan yang ada pada apa yang kita sukai, dan begitu pula sebaliknya, rasa tidak suka kadang menutupi kebaikan yang ada pada apa yang kita benci.

Judul              : Hujan Matahari
Penulis          : Kurniawan Gunadi
Penerbit        : Canting Press
Terbit tahun : Februari 2015, cetakan ketiga
ISBN               : 978-602-19048-1-7

Cinta-Cinta yang Ganjil



Membaca kisah-kisah cinta memang selalu mengasyikan, ya? Entah itu kisah cinta seperti dalam ftv-ftv yang kadang telah dapat kau tebak jalan ceritanya, atau kisah-kisah cinta yang bikin merinding karena air mata sedihmu bahkan telah habis saat belum mencapai klimaks cerita. Apalagi cerita tentang kisah-kisah cinta yang tak biasa seperti dalam buku ‘Kecamuk Cinta’ karangan Italo Calvino ini.  Gli Amori Difficili, judul asli buku ini dalam bahasa Italia, berisi 13 cerita tentang kisah-kisah asmara yang ganjil.

Jadi, seperti apakah kisah-kisah cinta yang tak biasa itu? Dalam cerpen ‘Petualangan Suami Istri’ misalnya, dikisahkan tentang sepasang suami istri tanpa anak yang masing-masing bekerja. Situasi menjadi rumit tatkala hal itu dibenturkan dengan jam kerja yang berbeda sepenuhnya. Sang suami bekerja di waktu malam, sementara istrinya bekerja di siang hari. Di pagi hari, ketika Arturo pulang dari bekerja, Elide terkadang masih mendengkur halus di balik selimut. Ketika gairah bergejolak mencekik leher Arturo, keinginan untuk mencumbu Elide dengan serta merta luruh melihat wajah istrinya yang begitu damai. Betapa sederhana wujud kasih sayang; sesederhana keinginan tidak hendak mengganggu kedamaian tidur sang kekasih.

Biasanya, Arturo lalu pergi ke kamar mandi, membersihkan diri. Yang tak lama kemudian akan disusul Elide yang terbangun karena aktivitas suaminya di kamar mandi. Menjalani rutinitas mereka masing-masing di sana, terkadang saling mengosok punggung mereka dengan sabun. Lalu, ketika keintiman mulai menjangkiti mereka, tiba-tiba Elide akan berteriak ketika menyadari pagi telah merangkak. Betapa!! Pada detik berikutnya Arturo akan terpaku di pintu kamar mandi melihat istrinya sibuk menyiapkan diri untuk berangkat kerja. Perasaan tak berdaya memang selalu menyebalkan*. Dan kesepian itu selalu menyedihkan. Bagaimana tidak? Ketika Arturo berangkat tidur, menatap ranjang kosong sambil melamun; satu sisi, sisi tempat ia seharusnya tidur, rapi seperti baju yang di setrika, dan sisi lainnya tempat istrinya tertidur, berantakan. Arturo mula-mula tidur di sisinya, kemudian berguling ke sisi istrinya untuk mencari kehangatan.

Lalu bagaimana mungkin sepasang suami istri mampu bertahan dalam situasi seperti itu? Jawabannya tentu saja dapat kita ketahui sejak semula, karena cinta. Cinta macam apa? Cinta yang ada di mana-mana; cinta yang biasa. Ketika Elide pulang kerja dan Arturo telah lama bangun dari tidurnya; Elide akan mengulangi pekerjaan-pekerjaan rumah arturo yang tidak pernah sesuai standar Elide. Sementara itu, Arturo akan mengingat betapa hangat Elide di saat-saat seperti itu. Kala Arturo berangkat kerja dan Elide pergi tidur, mula-mula ia akan tidur di sisi ranjangnya, lalu berguling ke sisi Arturo untuk memeluk bekas tubuh Arturo; tetapi, begitu menyadari sisi itu begitu dingin, Elide akan berguling ke sisinya karena yakin Arturo juga berbaring di sisi itu. Di sana, Elide akan dihangatkan bekas tubuh Arturo ketika tidur.

Pada ‘Petualangan Seorang Penjahat’, Italo Calvino dengan jenaka mengisahkan cerita seorang buronan polisi yang bersembunyi di kamar salah seorang perempuan (kata apa yang tepat untuk perempuan itu ya?)simpanannya. Betapa menyebalkannya, ketika buronan itu baru saja masuk ke dalam selimut yang hangat di sebelah tubuh seorang perempuan, dengan menyedihkan, pintu kamar itu diketuk; yang mengetuknya adalah sersan polisi yang mengejarnya. Alamak!! Tanpa pikir panjang, buronan itu langsung masuk ke dalam bilik kamar mandi; diam menyimak semua kejadian di luar sana. Setelah mempercayai kebohongan si perempuan yang mengatakan bahwa lelaki yang dicari sang sersan tidak datang ke kamarnya, sersan itu serta merta memutuskan untu beristirahat di ranjang si perempuan, alih-alih pulang atau kembali ke kantor polisi karena hari telah menjelang subuh. Si buronan mendadak terjebak di dalam kamar mandi, tanpa rokok, yang ia tinggalkan tanpa sengaja di meja samping tempat tidur. Dengan menyebalkan si buronan keluar dari kamar mandi untuk menyerahkan diri kepada sang sersan karena hanya karena tidak bisa merokok. Menyebalkan, bukan? Si buronan mungkin tak akan menang melawan polisi, tetapi ia juga dengan menyebalkan tak membiarkan sang sersan nyaman bersembunyi di balik selimut sementara dirinya meringkut di kamar mandi, tanpa rokok pula!!

Selain 2 kisah di atas, buku ini juga mengisahkan cerita-cerita lain yang akan membuat pembaca geregetan sendiri. Seperti dalam cerpen ‘Petualangan Seorang Pembaca’, seorang lelaki yang tengah asyik membaca sebuah buku berkeras tak ingin melepaskan perhatiannya meski seorang perempuan dengan gamblang mencoba membuka sebuah percakapan dengannya. Kendati begitu, di akhir sebuah bab, lelaki itu masih sudi meminjam korek api ketika perempuan itu tak bisa menyalakan rokoknya karena tak memiliki korek api sementara si lelaki itu bukanlah perokok. Barangkali hanya seorang pembaca buku yang merasakan mengerti betapa ketika adegan sedang menuju klimaks seorang pembaca buku akan membayar berapapun untuk bisa dibiarkan sendiri. Namun, sekaligus menjadi gemas karena dengan tampak begitu bodoh sebab telah dengan tidak sopan mengabaikan seorang perempuan berusaha dengan daya untuk mencoba dekat dengan seoreng lelaki. Gemas!! Geregetan bukan buatan.

Lalu, ada seorang lelaki yang tengah bahagia karena sebuah affair namun tak bisa membagi kebahagiaan itu dengan orang lain, atau lebih buruk lagi, tak ada yang peduli bahwa ia sedang bahagia. Bahkan sepi pun dapat menghampiri orang-orang yang sedang bahagia! Betapa kejam!! Kemudian seorang lelaki yang dilanda derita meski tengah jatuh cinta. Bukankah menyedihkan jika penghalang cinta itu lantaran si lelaki merasa inferior di depan seorang perempuan yang—misalkan—jauh lebih kaya atau glamour. Selain itu, pembaca juga akan disuguhi sebuah masalah sosial seperti kehidupan para buruh, tanah-tanah berubah menjadi lahan-lahan untuk bangunan apartemen bertingkat 4 atau 5, pabrik-pabrik yang mengotori udara dengan debu dan asap.

Dibandingkan dengan kota-kota imajiner yang lebih masyur dan dikenal khalayak luas, Gli Amori Dificili lebih mudah untuk dipahami. Dan masih dengan keahliannya menguliti watak seorang manusia, pembaca dibawa untuk menyelami pergulatan batin manusia. Seperti salah satu bukunya yang mengisahkan tentang seorang prajurit yang terbelah pedang, menjadi dua, alih-alih mati, dua bagian tubuh itu  hidup seperti manusia lain pada umumnya. Hanya saja, bagian sebelah kiri tubuh itu berisi sifat-sifat jahat, sementara bagian sebelah kanan tubuh itu berisi sifat-sifat baik. Di buku ini lagi-lagi Italo calvino dengan begitu cermat mampu menguliti setiap tokohnya hingga lapis terakhir pikirannya hingga tidak bisa dikuliti lagi, sehingga pembaca dapat memahami jalan pikiran setiap tokohnya.
                

Judul : Kecamuk Cinta
Penulis : Italo Calvino
Penerbit : Jalasutra
Alih bahasa : Intan Fitriana Suwandi
Tahun terbit : 2004
ISBN : 979-3684-15-1

#MBRCKBI Sepi, Sendiri, Aku Iri!



Kesunyian bertamu tanpa kenal tempat. Sepi selalu memburu jiwa-jiwa yang sebatang kara. Kesunyian tanpa ampun membungkam siapa saja. Kesunyian bukanlah hukum yang buta dan bisa mengabaikan orang yang mampu membayarnya. Sepi memangsa siapa saja. Kesunyian bahkan mampu menikammu di tengah keramaian.

Saya baru saja menyelesaikan 6 bab di bagian pertama buku ini ketika pikiran saya tiba-tiba terlempar ke periode akhir tahun kemarin. Waktu itu saya mendapatkan kesempatan untuk menghadiri konser Payung Teduh. Yang menggembirakan adalah saya, beruntungnya, tidak harus datang sendiri ke konser tersebut. Saya bersama David, yang telah jauh-jauh datang dari kota seberang. iya, kami, kebetulan sama-sama menggemari lagu-lagu Payung Teduh.

Malam itu seharusnya saya senang. Mmmmm sesungguhnya saya memang merasa gembira. Namun, meskipun saya tidak sendirian malam itu, bahkan saya ditemani seorang kawan, yang spesialnya sama-sama menyukai lagu-lagu Payung Teduh; nyatanya, saya tetap merasa sendiri. Saat ketika seluruh penonton bersama-sama bernyanyi mengikuti alunan musik Payung Teduh, saat saya menengok pada David, saya sadar bahwa sesungguhnya saya sedang sendirian. Dalam satu cara yang entah bagaimana saya terbawa oleh nada dan lirik lagu yang sedang mengalun. Sementara itu saya merasa tidak mengetahui apa yang sedang David rasakan ketika menyanyikan lirik lagu tersebut. Dan entah orang lain yang tidak saya kenal yang juga tersihir oleh syahdunya lagu itu. Tiba-tiba saya merasa sendiri. Sepi. Saya merindukan sebuah pelukan. Tetapi, kendatipun saya memaksakan diri untuk memeluk David_sebenarnya, saya pikir, tidak salah juga jikalau saya memeluknya_niscaya rasa sepi itu tak akan hilang.

Sesungguhnya, sejak saya menyelesaikan bab pertama pun angan saya sudah tidak utuh mampu duduk di depan halaman-halaman buku ini. Sebentar-sebentar saya dibawa pada rasa sepi yang dulu-dulu acapkali saya rasakan. Seperti anda tahu, Chairil Anwar pernah berujar dalam salah satu puisinya, Nasib adalah kesunyian masing-masing.

The Heart is A Lonely Hunter adalah buku pertama Carson McCullers, yang ditulis pada saat McCullers berumur 23 tahun. Buku ini terbit di amerika pertama kali pada tahun 1940. McCullers dengan begitu jeli menghadirkan kesepian-kesepian yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya dalam buku ini. Ya, tokoh-tokohnya, buka satu orang, melainkan ada 5 karakter utama dalam buku ini yang hidup dalam kesepiannya masing-masing.

Buku ini berpusat pada John Singer, seorang bisutuli yang kehidupannya berubah setelah Antonapoulos dikirim ke rumah sakit jiwa oleh Charles Parker, sepupu Antonapoulos. Sebelum itu, John Singer merasa hidupnya baik-baik saja. Meskipun sesungguhnya Antonapoulos tidak bisa dibilang teman yang baik, menurut pembacaan saya. Antonapoulos tidak pernah memperhatikan apapun yang dikatakan John Singer ketika John singer sibuk menceritakan segala hal yang ada dalam pikirannya melalui isyarat tangannya. Antonapoulos juga mengabaikan ketika John singer mengajaknya bermain catur, sehingga bisa dibilang John Singer seolah bermain melawan dirinya sendiri.

Lalu ada Biff Branoun, pemilik kedai New York Cafe. New York Cafe adalah hal kedua yang menghubungkan keseluruhan buku ini selain John Singer. Biff sehari-hari menjalani hidupnya untuk menjaga kedai miliknya, bergantian dengan Alice, istri Biff. Seperti Singer, Biff juga menjalani kesepiannya sendiri. Dikisahkan bahwa Biff merasa kesepian meskipun ia hidup dengan Alice. Bahkan, ketika hendak berangkat tidur usai shif malam, alih-alih memeluk atau basa-basi lain, Biff justru mengusir istrinya dari ranjang agar ia bisa mulai tidur.

Kemudian ada Mick Kelly, remaja perempuan yang kepalanya diisi mimpi-mimpi yang sepertinya tidak mampu ia raih. Ia menulis musik/simfoni-nya sendiri karena terpikat oleh permainan piano yang ia dengar di radio, radio milik tetangga atau orang yang indekos di rumah milik ayahnya. Mick terpisah dari dua kakak perempuannya, Hazel dan Etta, ia lebih suka mengikuti Bill, kakak lelakinya. Mick tidak ingin menjdi seperti Hazel dan Etta, terlebih tidak ingin mengenakan pakaian bekas milik Hazel dan Etta.

Sementara itu, Jake Blount adalah seorang pengembara, seorang sosialis yang telah meninggalkan rumahnya sendiri sejak kecil. Jake Blount selalu berbicara panjang lebar tentang ketidakadilan yang menimpa para orang kecil, para buruh. Jake kesepian karena merasa tidak ada yang mengetahui apa yang ia ketahui, kebenaran yang ia yakini akan mengubah hidup semua orang miskin jika saja mereka(orang-orang miskin) mengetahui apa yang ia yakini.

Dan terakhir ada Bennedict Copeland, seorang dokter kulit hitam yang hidup di masa ketika rasisme masih menjadi hantu yang menakutkan. Yang lebih menakutkan adalah fakta bahwa Dokter Copeland seolah-olah tercerabut dari akarnya sendiri. Sebagai seorang kulit hitam, Bennedict Copeland tidak mau hidup seperti orang-orang kulit hitam lainnya. Bennedict memutuskan pergi dari rumahnya dan belajar untuk menjadi seorang dokter. Keadilan baginya adalah ketika orang-orang tidak lagi dipandang dari warna kulitnya.

Namun, yang menyedihkan adalah ketika bahkan keluarganya sendiri justru tidak sejalan dengan keinginannya, apa yang ia anggap sebagai cita-cita sejati. Alih-alih mengikuti apa yang Dokter Copeland percayai, Anak-anaknya justru merasa lebih nyaman untuk hidup seperti orang kulit hitam lainnya. Portia dan Willie sudah puas dengan pekerjaan sebagai pembantu di rumah keluarga Kelly dan karyawan di kedai New York Cafe.

Selain berbicara soal kesepian, McCullers juga tidak luput berbicara tentang keadaan sosial di lingkungannya ketika itu. Melalui Willie yang diperlakukan tidak adil saat tengah menjalani hukuman di penjara yang mengakibatkan kaki-kaki Willie harus diamputasi, Portia dan orang-orang kulit hitam lainnya berkeras untuk membiarkan kejadian itu. Namun Bennedict tidak mau tinggal diam. Bennedict berusaha memikirkan cara untuk mencari keadilan untuk Willie. Pada suatu titik, Bennedict Copeland memutuskan untuk pergi ke pengadilan. Yang terjadi kemudian adalah, Dokter Copeland dipenjara oleh sherif kulit putih ketika ia pergi ke pengadilan untuk mencoba menemui seorang hakim dan bicara mengenai apa yang terjadi pada Willie. Dokter Copeland sedang duduk di kursi antrian di luar ruang hakim ketika seorang sheriff datang kepadanya, lalu memenjarakannya tanpa suatu alasan apapun.

Biff, Mick, Jake dan Bennedict sendiri menganggap Singer sebagai satu-satunya orang yang bisa mengerti kesepian mereka. Tanpa sepengetahuan mereka, Singer merasa bingung akan apa yang mereka inginkan dari dirinya. Singer masih merasa Antonapoulos adalah satu-satunya orang yang bisa mengerti dirinya karena mereka sama-sama bisu-tuli. Sementara Antonapoulos hanya peduli pada makanan.

Hubungan Singer-Antonapoulos ini sama seperti hubungan Lucile(adik ipar Biff Branoun) dengan Leroy, suaminya yang brengsek. Leroy datang dan pergi semaunya. Leroy datang untuk menghamburkan uang yang dikumpulkan Lucile dari pekerjaannya sebagai karyawan pabrik pemintalan kapas. Lalu pergi tanpa alasan, lagi. Saat Leroy, lagi-lagi datang, tanpa kekuatan menolak, Lucile akan menerima kedatangan lelaki itu untuk mengacaukan hidupnya.

The Heart is A Lonely Hunter adalah buku tentang kesepian yang dialami oleh manusia-manusia di bumi ini. Sebuah buku yang mampu membawa saya kembali ke masa-masa yang telah lewat dan memikirkan kembali, ‘Sebenarnya, aku kesepian enggak sih, seperti karakter di dalam buku ini?’. Tidak memiliki lawan bermain catur itu sepi. Tidak memiliki teman untuk berbincang-bincang tentang apa yang kita tahu itu sepi. Tidak memiliki teman yang juga membaca buku yang kita baca itu sepi. Tidak bisa melakukan/mendapatkan hal yang kita inginkan itu sepi. sepi, sendiri, aku benci!

Saya memberikan 5 dari 5 bintang untuk buku ini.


Judul         : The Heart is A Lonely Hunter
Penulis       : Carson McCullers
Penerbit      : Qanita
Alih Bahasa  : A. Rahartati Bambang Haryo
Terbit tahun  : cetakan 1, Februari 2007. Terbit pertama di Amerika tahun 1940.
Isbn          : 979-326-57-X



* Sepi, Sendiri, Aku Iri! ~ dikutip bebas dari puisi di film Ada Apa Dengan Cinta. lirik aslinya adalah 'Sepi, Sendiri, aku benci!'

Kamis, 18 Juni 2015

Kamisan03 #11 Sinting!!


Sustri tidak bisa beristirahat karena yang ia hadapi bukan sekadar rasa lelah. Bis malam yang ia tumpangi masih melaju pelan di jalan yang gelap. Sesekali lampu kuning menyorot tajam dari depan. Bila itu terjadi, Sustri akan cepat berlindung di belakang sandaran punggung kursi di depannya. Sudah sejak dari berangkat ia tak mampu memejamkan mata untuk sekadar tidur-tidur ayam. Di luar, kegelapan berlalu, ditinggal tanpa ampun. Sustri mengusap lengannya sambil membayangkan udara beku menjelang fajar.


Perempuan itu membelitkan kedua tangannya di depan dada. Memeluk dirinya sendiri lebih erat. Kulitnya mengeras oleh udara dingin. Tak ada gunanya menyesali naik bis patas-ac sekarang ini. Cuma bis patas-ac ini saja sekarang yang melayani rute Jogja-Karawang. Memang kini ia tak perlu repot memilih bis apa yang akan ia tumpangi. Namun juga tak gembira. Meski semuanya masuk akal. Ya, dilayani dengan satu armada pun tak semua kursi terisi. Hanya ada 12 orang lain selain dirinya di bis itu. Lelaki dengan parfum wangi yang tadinya duduk di sebelah kini telah menghilang di salah satu kursi tak berpenghuni di belakang sana. Baguslah! Sepi itu indah. Percayalah! Membisu itu anugrah.1

Lampu di langit-langit menyala ketika bis melewati jembatan Cikampek. Sustri menaikkan tudung jaketnya. Pandangannya terlempar ke sepanjang jalan raya yang terasa akrab di benaknya. Tiga tukang ojek telah sedia di pertigaan jalan menuju kawasan industri di mana salah satunya adalah tempat Sustri mendapat gaji bulanan di masa lalu.

Itu lima tahun yang lalu. Telah lama rupanya, Sustri terserap oleh kesadarannya. Perempuan itu membungkukkan tubuhnya. Merosot sedemikian rupa sampai tangannya terjulur ke dalam goodie bag yang ia taruh di bawah kursi. Ia mengeluarkan selembar kertas putih ukuran A4 yang ia terima kira-kira seminggu lalu. Sustri mengamati lagi gambar itu dengan teliti. Seorang lelaki berpakaian daun sedang berbisik di depan sekuntum bunga merah dan perempuan yang duduk di atas sulur pohon yang sama tampak khidmat mencoba menangkap apa yang dibisikkan lelaki itu. “Apa yang hendak kau sampaikan?” bisiknya lemah sambil mengusap pipi lekaki di dalam gambar itu.

Sustri meletakkan kertas itu di pangkuannya. Gambar itu tiba tiga hari setelah ia bercerai dengan suaminya. Entah dari mana Pigor mengetahui kabar perceraiannya. Tahukah Pigor? Ah lelaki itu masih saja tak dapat ditebak. Sejak kapan Pigor bisa menggambar sebagus gambar di pangkuannya itu? Sustri hanya tahu bahwa Pigor suka membaca.

Dahulu, setiap hari gajian Pigor selalu menyeret Sustri ke toko buku pertama yang ada di Karawang, yang ia tahu. Setelah memilih satu eksemplar buku yang mereka anggap menarik, mereka akan pergi ke Karang Pawitan. Duduk membaca di sebelah lapangan basket yang garis-garis pembatasnya telah memudar, hilang di beberapa bagian. Saat banyak orang mengambil jeda hidup mereka dari kerja tanpa lelah bersama mesin-mesin pabrik yang tidak mempedulikan kemampuan manusia, dengan bermain basket, atau berjalan-jalan memutari lapangan luas di sebelah lapangan basket, atau duduk-duduk memandangi orang-orang itu sambil menikmati jajanan serta makan malam, maka mereka akan duduk di sana berdiam-diam dengan menekuri buku masing-masing sambil menghadapi semangkuk wedang ronde.

Mereka akan di sana sampai larut malam. Seringkali sampai buku-buku itu selesai mereka baca. Mendekati tengah malam, mereka akan beranjak ke Karawang Teather, atau naik ke arena permainan billiard. Pernah suatu malam, ketika mereka pulang dalam malam hujan, Pigor nekat menawar jaket seorang penumpang dalam angkot yang mereka tumpangi hanya karena Sustri tak mengenakan jaket malam itu. Jaket hitam bergambar lambang band Red Hot Chilli Peppers dengan tudung kepala. Jaket itulah yang Sustri kenakan saat ini.

Itu adalah malam terakhir Sustri di karawang. Pagi berikutnya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal. Sehabis Maghrib Pigor mengantarkannya ke Cikopo, lalu naik bis malam jurusan yang pertama lewat malam itu. Hari berikutnya, Sustri tahu bahwa ia tidak bisa kembali ke karawang, tidak tega membiarkan ibunya hidup sendirian di kampung. Empat bulan kemudian, seorang tetangga melamarnya. Hampir lima tahun ia melupakan sosok Pigor sebelum gambar itu tiba dalam sebuah paket bersama buku farewell party-nya Milan Kundera. Buku pertama yang Pigor beli di Karawang bersama Sustri. Perempuan itu menyukai buku itu.

Sustri terkesima ketika bis yang ia tumpangi tiba di sebuah jalan besar yang tidak ia kenali. Jalan itu besar dan hitam, tampak baru. Perempuan itu seolah tercerabut ke kenyataan. Di mana ia berada saat itu? Ia tak pernah ingat ada jalan sebesar itu di karawang. Sustri tidak lagi mengenali wajah baru pasar Kosambi. Yang membuatnya sadar bahwa ia akan turun sebentar lagi adalah kios bubur Bandung di pengkolan pertigaan pasar Kosambi.

Gambar di pangkuannya ia masukkan kembali ke goodie bag-nya. Perempuan itu berdiri untuk menurunkan tas ransel dari tempat tas di atas. Pom bensin Duren telah tampak tak jauh di depan sana. Sustri pergi ke depan lalu duduk di kursi dekat pintu. Tak ada kondektur. Bis itu berhenti tepat di jalan masuk kampung Duren.

Sustri diam sejenak ketika ia turun dari bus. Debu tebal mengepul di belakangnya. Bau comberan di pinggir 
jalan anyir terhidu cuping hidungnya yang bergerak-gerak menghirup udara pagi. Langit telah terang meski matahari belum jatuh ke tanah. Gapura di depannya masih sama. Tak jua terlihat cat baru di sana.
Seorang penjual nasi kuning tengah melayani para karyawan yang menunggu bus jemputan di pinggir jalan. Nasi kuning langganan yang sambalnya nikmat, manis serta pedas bercampur dengan liat. Sustri pergi duduk di kursi plastik berwarna merah. Ia tidak buru-buru memesan nasi kuning untuknya. Jantungnya bergemuruh, ramai seperti riuhnya celoteh para karyawan pabrik yang berebut dilayani. Mata perempuan itu tak lepas dari ujung gang tak jauh dari tempat ia duduk. Benaknya memainkan sebuah adegan ketika Pigor akan terkejut menemuinya di sana. Namun alam bawah sadarnya seakan berkhianat padanya. Sustri tidak mampu menemukan bayangan wajah Pigor di ingatannya.

Angin pagi berhembus. Dinginnya menembus tudung jaketnya, menggigit tengkuk. Ujung sinar matahari telah jatuh di kakinya. Tak seorangpun ia kenali di antara gerombolan manusia dengan seragam kerja yang munkin bekas dipakai kemarin. Tiada pula orang yang mengenalinya. Sustri tidak lagi merasa yakin bahwa keputusannya tepat. Ia teringat saat-saat ketika ia menunggu suaminya pulang ke rumah. Sehari, seminggu, sebulan... yang pulang pada telinganya hanyalah gunjingan tetangga. Wajahnya pucat disaput ingatan.

Sustri berdiri, lalu memesan dua bungkus nasi kuning. Kenyataan bahwa penjual nasi kuning itu masih mengenali tak sedikitpun mengusik kelusuhan dari raut mukanya. Sustri meminta ekstra sambal lalu membayarnya.

Langkah kakinya gamang. Ketika berdiri di depan gang, ia menghela nafas panjang. Dulu, sependek ingatannya, lorong gang itu agak sempit, dan tidak sepanjang saat ia melewatinya pagi itu. Biasanya, ia akan menoleh ke belakang untuk mengajak Pigor bicara. Tembok lorong itu makin kotor dan berlumut setelah lima tahun. Sustri memasukkan sebelah tangannya ke saku jaket.

Teleponnya bergetar tepat ketika perempuan itu keluar dari lorong dan tiba di areal petakan kamar. Sustri berhenti di teras kamar yang dulunya adalah bekas kamarnya. Ia duduk di dudukan pembatas kamarnya dulu dengan kamar Pigor. Keset karet berwarna merah dengan logo klub bola Liverpool terpasang di depan pintu kamar di sebelah bekas kamar kontrakannya dulu. Pigor masih tingal di sana.

 “Yaa... “ sapanya cepat-cepat ketika melihat nama Pigor di layar ponsel.

“Hai... kamu di mana?” tawa Pigor masih sama seperti dulu.

“Kenapa memangnya?”

Lagi-lagi ia tertawa. Menyebalkan. “Coba tebak aku di mana!”

“Ah paling di kasur!”

“Ngawur! Sudah, buruan mandi, dandan yang cantik! Aku di Terminal Jombor. 15 menit lagi aku sampai rumahmu.”

“Sinting!!”

“Kenapa? Kamu tak suka aku main ke rumahmu?”

“Bukan begitu...”

“Lalu?” Sustri menjatuhkan bungkusan nasi kuningnya ke lantai. Entah bagaimana, dia tiba-tiba menangis. 

”Heh.. kamu kenapa? Malah nangis? Aku salah ya datang ke jogja?”

“Beleguk! Aku di depan pintu kamar kontrakanmu sekarang!” hardik Sustri setengah berteriak.

“Apa?” seolah lelaki itu tak mendengar teriakan Sustri. Lalu ia tertawa. keras sekali. Sustri turut tertawa, meskipun kecil, masih dengan menangis. [ ]





 
1. Sepi itu indah. Percayalah! Membisu itu anugrah. = lirik lagu Hujan Di Mimpi ~ Banda Neira