Kamis, 12 Maret 2015

kamisan#03 - 4 oh!



Pigor bergegas pergi seusai menyerahkan kembang api kepada Asa. Tanpa sepatah kata, meninggalkan Asa dengan kebingungannya. Perempuan itu masih termenung memandangi kembang api di tangannya. Tidak tahu apakah harus senang atau bagaimana. Apakah kembang api itu hadiah? Hadiah apa? Hari itu bukan hari istimewa, tak ada yang berulang tahun pada hari itu. Bahkan, tahun baru belum menjelang.

Lelaki itu selalu penuh kejutan. Tak bisa ditebak. Dahulu, ketika Asa masih kecil, Pigor acapkali membacakan kisah puteri salju padanya sebelum tidur. Setelah dongeng selesai, biasanya Pigor akan mengulurkan sebuah apel.

”Makanlah! Maka kau akan menjadi putri salju.” Lalu Asa akan pura-pura tertidur setelah gigitan kedua atau ketiga.

Sejak malam saat Pigor mendongengkan cerita putri salju sebagai pengantar tidurnya, Asa merasa memiliki pelindung. Ketika berangkat sekolah, perempuan itu tak perlu kalut setiap kali hendak menyeberang jalan. Pigor akan menggandeng tangannya. Kali lain ia akan memegangi tas punggung Pigor yang berjalan di depan. Di sekolah, tak ada yang berani mengganggu Asa begitu melihat Pigor berjalan di sampingnya.

Namun masa-masa itu tak berlangsung lama. Sejak papa dan mama Pigor kerap bertengkar, Asa merasakan lelaki itu berlaku tidak biasa. Pigor mulai memakai sepedanya untuk berangkat sekolah. Ia tidak bersedia membiarkan Asa duduk di sadel belakang. Berangkat pagi-pagi sekali sebelum Asa selesai sarapan. Dan tidak ada lagi cerita tentang Putri yang tertidur setelah memakan apel tukang sihir jahat.

“Mereka baik-baik saja sebelum kamu datang.” tukas Pigor ketika mereka berpapasan. Bahkan, Pigor tidak berhenti atau menoleh saat mengatakannya.

Ketika papa dan mama akhirnya bercerai, Asa tidak tahan untuk tak menangis. Pigor makin malas berbicara. Ia hanya bicara untuk hal-hal yang ia anggap penting. Sekalinya bicara, nada suranya melengking, menyakiti telinga. Asa menjadi rindu pada sosok seorang pelindung. Ia ingin seseorang menggenggam tangannya, menyelimuti tubuhnya ketika hendak tidur. Perempuan itu diam-diam membaca sendiri buku tentang Putri Salju di malam hari. Lalu termangu membayangkan rasa asam buah apel yang akan membawanya pada mimpi-mimpi miliknya sendiri. Asa menggigit bibirnya, kemudian beringsut ke dalam selimut.

Keesokan harinya, Asa menemukan sebuah apel di dalam kulkas. Tanpa pikir panjang, ia segera memakannya seperti orang kelaparan. Begitu habis, perutnya seolah kenyang hanya dengan sebuah apel. Lalu, ketika ia melihat buah apel, di mana saja, perutnya melolong karena lapar. Air liurnya akan terbit setiap kali bertemu apel. Perempuan itu kehilangan minat pada jenis makanan lain. Di kios-kios pedagang buah, Asa mencobai segala jenis macam apel yang ia lihat. Apel hijau, apel merah, apel kuning yang bentuknya kecil, apel kuning bersemburat merah, semua jenis apel. Tapi hingga kini Asa tetap tak berjodoh dengan apel yang telah dimantrai itu. Ia tak pernah jatuh tertidur setelah makan apel. Tetapi perempuan itu tak pernah berhenti mencari. Ia ingin menjadi Putri Salju, jatuh tertidur setelah makan apel. Asa ingin tidur untuk selamanya, agar ia tak perlu merasakan kesedihan itu. Kesedihan tak dihiraukan Pigor. Asa terus makan apel, hanya apel. Tak putus asa ia memberi makan kesedihannya. Hingga tumbuh subur, membengkak seperti badannya ketika ia mulai bekerja di sebuah kantor.

Tetapi apel terkutuk itu tak pernah ia temukan. Apakah apel-apel itu benar-benar sudah tak ada? Baikkah semua pohon-pohon itu sehingga tak ada satu saja apel kena kutuk untuk Asa? Sungguhkah punah apel terkutuk yang tumbuh di pohon-pohon yang lebat? Sudah punahkah para tukang sihir? Atau sudah tak berguna lagi kekuatan sihir mereka? Dunia macam apa yang bahkan sihir terburukpun tak lagi mempan? Atau, apakah sebenarnya ada apel terkutuk itu, tetapi justru jatuh ke tangan orang lain? Oh petaka! Malang sungguh orang yang memakan apel terkutuk itu, lalu jatuh dalam kutukan tidur tak berkesudahan karena ia tak memiliki lagi sebuah cinta yang sejati. Masih adakah manusia yang memiliki cinta sejati? seperti Asa? Betulkah? Betapa bahagia manusia-manusia yang tak mengenal kasih sayang!

Tapi tidak! Asa tak memercayainya. Pada suatu kali, seorang teman mengajaknya pergi menonton pertunjukan ketoprak di taman budaya. Kamu butuh hiburan, kata teman itu. Berada di tengah ruangan besar dengan kursi-kursi berwarna merah dan empuk. Di tengah derai tawa para penonton menyaksikan sebuah lakon, setelah makan apel terakhir yang ia punya di tasnya, tiba-tiba Asa jatuh tertidur. Perempuan itu ingin menangis. Ternyata bukan tidurnya Putri Salju. Ia tidak dibangunkan oleh ciuman orang yang ia cintai. Asa terbangun oleh kilau lampu gedung yang menyala. Pertunjukkan telah selesai. Temannya menggelengkan kepala pada Asa.

“Kamu tidur? Ajaib.”

Asa malu bukan kepalang. Diam menahan alibi di ujung lidahnya. Seolah ada badai besar yang mencerabutnya dari tanah tempat ia tumbuh, hingga ke akar-akarnya. Ia sendiri, betapa mati.  Perempuan itu ingin sekali menancapkan kembali akar-akarnya ke dalam  tanah.

***

Namun, sedingin apapun Pigor, yang Asa ingat hanyalah sosok lelaki yang membacakannya dongeng pengantar tidur. Perempuan itu tidak akan pernah lupa pada hari pertamanya menjadi anak papa dan mama. Setelah enam tahun menghabiskan waktu di panti asuhan, akhirnya Asa bisa memiliki keluarga. Pigor empat tahun lebih tua darinya, dan lima tahun lebih dulu menjadi anak papa dan mama. Asa bisa melihat mata lelaki itu berbinar-binar mendapati kenyataan ia akan memiliki seorang adik. Pigor menunjukkan buku-buku yang dimiliki keluarga itu. Ia mengatakan bahwa Asa boleh membaca buku-buku itu semaunya, kapanpun. Karena Asa masih belum begitu lancar membaca kata-kata di dalam buku itu, maka Pigor dengan senang hati membacakan buku-buku itu untuk Asa. Perempuan itu akan duduk seperti murid TK yang duduk manis di hari pertamanya masuk sekolah saat Pigor membaca dengan suara keras. Lalu ritual itu pun di mulai.

Sejak saat itu Asa tidak pernah kehilangan harapan. Memang, Pigor adalah kakaknya. Namun, mereka hanya saudara angkat, tanpa ikatan darah. Lalu apa yang salah? Hingga saat ini Asa masih percaya Pigor adalah lelaki yang hangat. Ia sudah pernah melihatnya, jauh sebelum masa-masa kehancuran itu datang. Perempuan itu hanya mempercayai apa yang ia ingin ia percaya.

Harapan itu sedikit menemui titik terang ketika siang tadi, Pigor datang ke rumah. Sejak papa dan mama bercerai, mereka tinggal beda rumah. Pigor ikut mama, dan Asa ikut papa. Kadang, pada waktu-waktu tertentu mereka bertukar tempat. Saling mengunjungi orang tua mereka selama seminggu. Dan hari ini Asa tidak pernah menduga bahwa Pigor akan muncul di depan pintu rumah membawa sebatang kembang api untuknya. Sekarang ia baru ingat bahwa besok adalah hari keseribu meninggalnya mama. Dalam kekhusukannya menerka arti hadiah itu, Asa mulai memikirkan segala kemungkinan. Apakah Pigor telah berubah? Kembali menjadi lelaki yang dulu ia kenal sewaktu kecil? Tiga tahun yang sepi barangkali telah membuat Pigor merindukan kehangatan sebuah keluarga?

Bahkan Asa tergoda untuk berpikir ketika ia menyalakan kembang api itu nanti ia akan melihat sebuah tulisan pernyataan cinta untuknya. perempuan itu tahu bahwa opsi itu mustahil. Tapi ia berkeras tak ingin menghapus kemungkinan itu dari harapannya. Apa yang tidak mungkin di dunia ini? Nihil! Keajaiban masih terjadi sesekali. Asa sudah terbiasa keras kepala, seperti selama ini. Tapi, jika ia menyalakannya, dan Asa tak menemukan apa yang ia inginkan, tentu ia akan kecewa. Kembang api itu hanya akan menjadi selongsong. Dan tak ada lagi yang bisa ia kenang dari pemberian Pigor itu? Ah, bukankah setelah menjadi selongsong Asa masih bisa menyimpan selongsong itu? Berisi atau tidak, kembang api itu telah ia beri arti.

Didorong oleh pemikirannya, Asa pergi keluar sambil membawa pemantik api milik papanya dan kembang api. Malam cerah, tanpa awan. Langit biru ditingkahi kesiur angin meniup-niup nyala api di pemantik api milik papanya. Bau sumbu terbakar. Hati Asa merekah melihat api menjalar seperti tengah melihat senyum Pigor, jelas sekali. Asa menjulurkan tangannya, mencoba meraih mimpinya. Duar! Asa memejamkan matanya. Ledakannya seolah meletus di samping telinganya. Tangannya terasa panas, perih. Asa kemudian tak bisa merasakan kulitnya melepuh oleh serbuk petasan di dalam bungkus kembang api itu membakar kulit rapuhnya. Perempuan itu jatuh tertidur. Di gelap kelopak matanya ia sempat melihat Pigor tersenyum, sudut bibir kanannya naik lebih tinggi tinimbang sebelah kiri. Asa tidur, menjadi Putri Salju. [ ]

Kamis, 26 Februari 2015

Kamisan03 #3 Aha!!



Lelaki itu datang ketika Asa tengah bosan. Rambut dan matanya menyeruak dari celah pintu yang terbuka. Setelah mengumbar senyum dan menyebut nama Asa, ia masuk karena perempuan itu mengangguk. Langkahnya cepat dan pasti. Tanpa pikir panjang, lelaki itu meletakkan kotak kertas di atas meja di sebelah ranjang tempat Asa berbaring. Tidak ada waktu untuk mencurigai bahwa isi kotak itu mungkin berisi bom. Asa sibuk mengingat rupa lelaki itu dalam memorinya. Karena Asa tak mampu mengenali siapa lelaki itu, ia memilih diam. Tangannya sudah siap menekan tombol panggil darurat yang ia sembunyikan di sebelah tubuhnya.  Untuk sesaat, Asa tak tahu harus berbuat apa.

Waktu itu Ayah dan Ibunya sedang mengurus administrasi di bawah. Hari ini adalah hari keempat Asa berada di rumah sakit.  Rombongan terakhir teman-temannya yang menjenguk datang kemarin malam. Perempuan itu tidak sedang mengharapkan seseorang akan datang membesuk seperti saat ini. Ia cuma ingin segera pulang ke rumah dan tidur di kasurnya. Asa sudah kangen dengan buku-bukunya di rumah. Dan lagi, ia sungguh-sungguh tidak tahan dengan dengkuran lelaki tua di ruang sebelah.

Kamar mereka hanya disekat dengan penutup kain. Kain penutup dan temboknya berwarna hijau. Kendati menyukai warna hijau, Asa tidak betah tinggal di sana. Udaranya pahit, bau obat. Asa benci obat,  tidak suka minum obat. Tapi di sini, ia harus minum obat.

Lelaki itu duduk di kursi satu-satunya dalam kamar Asa. Biasanya, ibu Asa yang duduk di kursi itu. Kadang sambil menyuapi Asa; atau menunggui Asa membaca buku; lalu sekali waktu tertidur di sana dengan muka lelah. Lelaki itu mengibaskan tangan sambil meyakinkan Asa bahwa ia tak mengenalnya. Mereka satu sekolah, hanya beda kelas. Bahkan ia baru mengetahui nama Asa dari salah satu temannya siang ini. Lelaki itu merasa harus menengok Asa karena rumahnya ada di seberang jalan, tepat di depan rumah sakit. Yang di depannya ada kolam ikan, ujarnya bangga.

“Kamu harus cepat sembuh. Agar aku bisa secepatnya melihatmu lagi di sekolah.” Ia mengambil kotak yang tadi dibawanya. “Nah makanya kamu harus makan ini biar cepat sembuh.” Ternyata kotak itu memang tidak berisi bom. Lelaki itu meletakkan sepotong kue yang cake-nya sewarna darah di atas selembar tisu di tangannya. Kemudian menyerahkannya pada Asa.

Asa menerimanya dengan tangan kiri. Tangan kanannya masih belum bisa digunakan dengan sempurna. Ada perban memanjang yang menutupi luka bekas operasinya. Asa Cuma bisa membuka mulutnya ketika lelaki itu memaksakan untuk menyuapinya.
 
Usai melihat Asa menelan kue, lelaki itu kemudian pamit. Seperti rasa kue yang tertinggal di lidahnya, Asa masih bisa merasakan senyum keceriaan dan semangat lelaki itu di benaknya. Yang lebih mengherankan Asa adalah kesediaannya menengok orang yang tidak benar-benar ia kenal. Satu-satunya keinginan Asa saat itu adalah membalas lelaki itu. Perempuan itu akan membesuknya suatu saat nanti.

Tapi keinginan itu tinggal khayalan. Tiga bulan kemudian, ketika Asa sudah sembuh dari luka patah tulangnya, ia tak menemukan lelaki itu. Lelaki itu sudah lulus bulan lalu. Kemudian keinginan itu mengendap menjadi kerak dalam dirinya.

***

Sejak saat itu, Asa menjadi rajin membuat kue Red Velvet setiap kali ada kesempatan. Minimal sebulan satu kali tangannya akan belepotan rona warna merah. Mencoba berbagai resep yang ia temukan di internet. Tapi tak pernah sekalipun ia berhasil membuat kue Red Velvet seenak saat pertama kali ia mencicipi kue itu. Semahir apapun ia membuat Red Velvet, di lidahnya selalu terasa ada yang kurang.

Lalu, ketika rasa penasaran itu menjadi tak tertahankan, Asa mulai memburu kue berwarna darah itu ke toko-toko kue terkenal yang ada di kotanya. Warna merah itu merasukinya. Seperti stadion Gelora Bung Karno yang selalu berwarna merah di setiap kali timnas Indonesia bermain. Namun kue-kue yang ia temui, rasanya tak pernah seyahud kue pertama itu. Hingga suatu hari ketika Asa sedang mengantre untuk membayar sepotong kue Red Velvet yang sedianya akan ia bawa pulang, seseorang menyentuh bahunya.

“Jangan bilang kamu ketagihan kue itu gara-gara kue yang aku bawakan waktu itu.”

Asa tersenyum tanpa menoleh. Ia tak bisa memikirkan sesuatu jawaban untuk lelaki di belakangnya. Sesampainya di meja kasir perempuan itu hanya berujar “Bagaimana kalau kamu menraktirku kue ini? Jadi aku bisa menraktirmu minum?”

“Apa ini sebuah undangan?” ada senyum tertahan dalam kata-katanya.

Asa melirik ke atas seolah ada malaikat di atas kepalanya.

Mereka kemudian duduk di depan mini market dengan sebuah meja logam memisahkan keduanya. Dua minuman botol yang segera berembun dan dua kotak kecil kue terhampar di sana. Asa menatap selapis air yang mengambang di atas aspal. Sementara lelaki itu mulai membongkar kotak kue dan mengirisnya kecil dengan sendok plastik. Mereka masih diam. Asa mengurungkan keinginan untuk menceritakan perihal kebiasaan barunya membuat kue Red Velvet. Meraih botol minumannya lalu menenggak satu tegukan.

“Jadi,  ke mana saja kamu selama ini?”

Lelaki itu menggeleng. Rahangnya masih mengunyah. “Kamu yang ke mana saja? Aku bahkan tak melihatmu di pesta perpisahan.”

“Tulangku patah, kau ingat? Aku tak bisa berjalan dan menulis selama 2 bulan. Itu belum terapi untuk mengembalikan fungsi normal tangan dan kakiku.”

“Ah iya.” Ia tersenyum.

Asap kendaraan yang lalu lalang bergelung di udara. Seorang perempuan berdiri di tengah jalan sambil menutup hidungnya dengan tangan, hendak menyeberang. Seperti patung, berdiri menunggu kendaraan memberinya jalan untuk menyeberang. Asa mulai memotong kuenya, sambil memperhatikan perempuan itu. Ia belum juga menemukan kata-kata yang  dirasa tepat.

“Aku masih ingin menjengukmu.”

“Kamu ingin aku sakit?”

“bukan begitu, hanya saja rasanya tidak pantas. Kamu bahkan tidak mengenalku saat membesukku ke rumah sakit.”

“Ayolah... lupakan hal itu. Aku tak pernah bermaksud apa-apa.” Lelaki itu tersenyum, menyuapkan satu potongan kecil kue ke mulutnya. “Lagi pula, orang yang bahagia sepertiku tak bisa sakit.”

Asa memandang ke jalan di depannya, perempuan tadi masih berdiri di tengah jalan.

“Kamu tahu,  kalau aku tahu hal itu akan menjadi beban buatmu, aku tak akan menengokmu waktu itu.”

“Ya jangan dong...”

“Apa kamu tahu alasan sesungguhnya kenapa aku menengokmu saat itu?”

Asa menoleh, mendengarkan lelaki itu membual tanpa ampun. Waktu itu ia membolos dari sekolah. Di rumah ada kue buatan ibunya. Melihat kue itu, entah kenapa ia teringat kabar teman satu sekolahnya yang masuk rumah sakit karena tertabrak motor ketika pulang sekolah. Dan karena rumah sakit itu ada di seberang jalan maka ia memutuskan untuk menengok  temannya itu, yang adalah Asa.

Asa menunduk, menatap sepatunya. Ada noda merah di sana. Entah kenapa Asa ingin pulang dan membersihkan noda itu. “Aku harus pulang.” Perempuan itu melangkah pergi. Kemudian, sebelum begitu jauh ia berucap “Itu tak mengubah apapun.”

***                          

Rumah itu tampak sepi. Pintu dan jendela semua tertutup. Asa masih berdiri menunggu setelah ketukan pertamanya. Hari itu tepat seminggu setelah pertemuan terakhir mereka di depan mini market. Kemarin sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Asa. Aku sakit.

Setelah ketukan kedua, pintu rumah itu terbuka. Lelaki itu tersenyum, tidak mempedulikan wajah pucatnya. Tanpa mempersilahkan masuk, ia duduk di sofa ruang tamu. Asa turut duduk di sebelahnya. Kotak kuenya ia letakkan di meja.

“Nah... sekarang kita impas.” ujar lelaki itu ringan.

Asa tersenyum. Ia bisa mencium bau keringat yang menguar dari lelaki di sebelahnya. “Kukira orang yang bahagia tidak bisa sakit.”

“Ya, memang.” Lelaki itu membuka tutup kotak kertas di depannya, lalu melirik sambil menarik ujung bibirnya melebar.

“Lalu... ?”

“Aku sengaja tidak makan selama seminggu terakhir ini.” Senyum lelaki itu terekam ngeri di benak Asa. Perempuan itu tak menduga masih sungguh-sungguh ada manusia semacam ini. Kerak keinginan di dalam dirinya kini menghitam, hangus. Menebal! [ ]

Kamis, 29 Januari 2015

Kamisan03 - #1 - Bagaimana Seseorang Mati Sia-Sia



Pigor  membanting koran yang ia baca ke atas meja, kesal karena merasa telah dibohongi oleh judul yang bombastis, sementara isi beritanya tak seberapa penting. Bukan soal uang yang telah ia keluarkan untuk membeli koran tersebut yang ia perkarakan. Tetapi lebih kepada betapa penipu telah menggerogoti semua unsur kehidupan. Seperti seorang tukang masak yang menghias masakan tak sedapnya dengan tampilan aduhai agar orang-orang lapar itu tak tega memakan masakannya yang hambar.

Ketika membuang muka dari koran di depannya, lelaki itu melihat seorang perempuan muda tengah berdiri memegangi payungnya di seberang jalan. Di luar, hujan tengah berlangsung. Jalanan sepi. Tak ada banyak orang yang menghalangi pandangannya pada perempuan itu. Sehingga ia bisa dengan seksama memperhatikan kulit perempuan itu memucat dipulas oleh hawa dingin. Lengannya yang telanjang tampak berkilau di tengah latar tembok tua muram. Di tengah kota yang kedinginan oleh hujan, ia berdiri teguh seperti patung lilin yang dipamerkan.

“Siapa perempuan itu?” ujar lelaki yang duduk di sebelahnya entah sejak kapan.

“Bukan kekasihku. Kalau aku kekasihnya, takkan aku biarkan ia kedinginan di tengah hujan begini.”

"Apakah kau memikirkan apa yang aku pikirkan?" Pigor menoleh heran. "Kau ingat lelaki yang dibunuh tempo hari? Mungkin perempuan itu kekasihnya."

Pigor teringat lelaki gendut hampir telanjang yang ditemukan mati kemarin malam di gang sebelah. "Jangan becanda! Perempuan secantik itu, mau jadi kekasih seorang lelaki gendut seperti orang itu? Kau jangan menghinaku!"

"Loh, apa salahnya? Kaupikir lelaki gendut tak boleh punya kekasih perempuan cantik??"

"Tentu tidak, kecuali si gendut itu orang kaya."

"Kau naif sekali. Bisa saja dulunya dia mirip atlet binaraga, lalu jadi gendut karena bahagia punya kekasih secantik perempuan itu."

"Berapa besar kemungkinan perempuan itu tidak meninggalkannya ketika ia menjadi sebesar karung tepung seperti itu?"

"Besar. Lihat, dia berdiri di sana. Menungguinya. Menangisinya."

"Omong kosong! Aku berani bertaruh satu juta dia bukan kekasih lelaki gendut itu."

"Kau punya uang sebanyak itu?"

"Tidak penting. Karena aku tak akan kalah." Pigor melihat perempuan itu memeluk dirinya sendiri dengan satu tangan.

"Lihat, dia memeluk dirinya sendiri. Dia pasti merindukan lelaki gendut itu."

"Dia kedinginan. Tidak kaulihat, di luar sedang hujan?"

"Bangsat. Kepala batu!" Lelaki itu mendengus, menyesap rokoknya. "Apa kau pernah memeluk seorang perempuan di kala hujan begini?" Pipinya tiba-tiba memerah seperti pipi seorang perempuan yang tersipu malu.

Pigor menggeleng. "Menurutmu, siapa yang membunuh lelaki itu?"

"Mana kutahu. Bangsat! Kenapa kau tanya aku?"

"Demi Tuhan. Aku cuma tanya, kenapa kau berang, betul?"

"Karena kau tolol. Itu bukan kerjaku. Tanyalah ke polisi kalau kau hendak tahu! Buat apa kita bayar polisi-polisi pemalas itu kalau hal begini saja kita yang harus cari tahu sendiri? Heh? Bangsat betul."

"Kau tahu sendiri apa jadinya kalau aku macam-macam sama mereka. Tak sudi. Cih. Kau tahu, begitu kau tanya macam-macam, bukannya menjawab, kau bakal ditanya balik. Pada hari kamis, jam sekian kau di mana? Sedang apa?"

"Kau bisa mencium bau penjara di belakang kalimat itu."

"Tepat sekali." Pigor menggenggam cangkir kopi dengan kedua tangannya.

"Sial sekali orang gendut itu ya?"

"Ya, melihat lemaknya, kukira ia lelaki yang tak pernah kelaparan."

"Apakah ia dirampok?"

"Demi Tuhan!! Bangsat. Bisakah kau berhenti menanyakan hal itu padaku?"

"Demi Tuhan! Apa masalahmu? Aku cuma bertanya. Tak perlu kau jawab kalau kau tak ingin."

"Berhentilah bertanya tentang hal-hal yang tidak aku tahu."

"Apa yang kau tahu?"

"Banyak. Selain bangsat gendut itu."

Pigor menatap perempuan di seberang jalan itu lagi. Perempuan itu tiba-tiba berbalik, berjalan memunggunginya.

“Ayo!”

“Ke mana?”

“Memeluk perempuan!”

Pigor tergopoh-gopoh mengikuti lelaki itu.


***

Asa menyambar payung dan pergi keluar. Hanya payung. Jaket dan tas tidak terlalu menggiurkannya ketika itu. Langit tidak biru. Jalanan tak sedikitpun dijamah sinar matahari. Angin lembut mempermainkan ujung roknya. Hiruk pikuk pengguna jalan menyapa gendang telinganya. Ia lalu mengembangkan payung dan berjalan pergi menyusuri trotoar.

Tidak mengindahkan kenyataan bahwa hujan tidak turun dan panas matahari tak sampai di kulitnya, Asa tetap menaruh payung itu di bahunya. Memutar-mutar gagangnya dengan riang sambil mendendangkan nada sebuah lagu dalam benaknya. Perempuan itu terus berjalan tanpa tahu akan kemana. Melangkah ia menuruti kaki. Ia hanya ingin menghabiskan hari dengan apapun yang ia suka. Itu adalah hari pertamanya setelah memutuskan untuk berhenti kerja. Asa ingin menikmatinya, dengan berjalan menyia-nyiakan waktunya.

Setelah tiga tahun mengurung diri dalam bilik kerja bersama segala perangkat kerja tanpa hati di atas mejanya, Asa, siang kemarin, tanpa aba-aba, juga tidak dengan alasan yang cukup bagi atasannya, mengajukan surat pengunduran diri. Tidak mengetahui apa yang ia inginkan, Asa meninggalkan surat pengunduran dirinya di ruangan bosnya. Lelaki itu mengatakan bahwa Asa harus mencari pengganti dulu sebelum berhenti bekerja dan ia tidak boleh mengundurkan diri secara mendadak seperti itu. Tetapi Asa tidak peduli. Ia pulang ke rumah saat itu juga, meninggalkan apapun yang ada di atas meja kerjanya. Dan tidak masuk kerja hari ini, meskipun atasannya tiga kali menelpon ke ponsel miliknya, yang tak satupun ia angkat.

Asa masih berjalan tidak acuh ketika tetes hujan pertama jatuh dari langit. Ia mencondongkan payungnya ke depan untuk menghadang hujan yang jatuh miring dari depan. Sisa hujan yang tak terhalang payung jatuh di kaki. Sebagian hinggap sebentar di permukaan rok, yang lalu melesap mencetak noda bulat gelap. Langkahnya kemudian melambat. Asa berhenti di trotoar pinggir jalan. Ragu-ragu hendak menyebrang, ia tetap berdiri di sana.

Sekonyong-konyong, terbit gagasan mematung di sana. Mula-mula ia mengamati bercak air yang jatuh di sepatunya. Sepatu itu baru saja ia beli minggu lalu. Sepatu kain berhak rendah. Polos tanpa ornamen. Hijau seperti warna kesukaan anak semata wayangnya. Sudah lama sekali rasanya, ia rindu menggendong putri kecilnya itu. Sedang apa kau nak? Asa ingin menangis seperti ibu-ibu lainnya. Tapi ia tak mampu.

Asa memeluk dirinya sendiri dengan satu tangan. Dingin yang datang menegaskan ketidakberadaan anaknya. Sudah hampir setahun dari saat suaminya menghilang membawa putrinya yang waktu itu berumur tiga tahun. Ia tak pernah menduga pelukan mantan kekasihnya harus dibayar dengan hilangnya pelukan anaknya.

Tak ada yang hebat dari pelukan kekasihnya itu, dingin seperti pelukan hujan. Tak berharga sama sekali. Tapi, itu cukup untuk membuat suaminya pergi. Alasan bukan perkara penting untuk suaminya. Dan Asa tak berminat menjelaskan apapun. Seminggu kemudian, suaminya menghilang membawa putrinya.

Hujan mulai reda. Kulit Asa telah mengeras. Jalanan kosong. Masih ragu-ragu hendak menyebrang, Asa merasa lelah. Udara basah, Asa menghirupnya tanpa ragu. Seketika rongga dadanya menjadi lega. Ia berbalik pulang. Perempuan itu tak menyadari dua orang lelaki mengikutinya.

***

Sembilanbelas orang lainnya telah lebih dulu hilang. Waktu begitu singkat. Hidup begitu pendek. Kau takkan tahu kapan ajal menjemputmu. Tapi seolah maut mengalir di nadimu. Ia begitu dekat.

Baiklah, aku beritahu sebuah rahasia. Tak akan ada yang mati di sini. Tidak Asa atau siapapun. Sembilanbelas temanmu yang lain, sudah pergi lebih dulu sebelum sampai bagian ini. Ya, mereka pintar. Mereka tak mau mati konyol. Karena itu mereka pergi meninggalkan cerita membosankan ini. Itupun jika tulisan ini boleh disebut cerita.

Nah, sekarang jadi pilihanmu. Bagaimana? Apa engkau masih mau meneruskan membaca cerita ini sampai engkau mati sia-sia? Atau kita sudahi sampai di sini saja? [ ]