Jumat, 08 Agustus 2014

#BGANia: Untuk Para Pengembara Yang Selalu Merindukan Rumah

Pada sebuah minggu pagi yang cerah di bulan Ramadhan pada tanggal 12 juli 2014 saya membaca sebuah berita di kolom olahraga yang membuat saya mengambil jeda untuk menghela nafas. "Lebron James pulang ke Cleveland Cavaliers" iya begitu judul berita yang membuat saya tertegun.

Baiklah, Apakah anda mengenal Lebron James? Tidak? Baik ini sedikit mengenai siapa Lebron James. Lebron, sekarang ini adalah salah satu pebasket terbaik yang dipunyai Amerika. Lebron memulai kariernya di klub basket yang bisa dibilang papan bawah di masa dia bermain di klub Cleveland Cavaliers. Sejak 2003 hingga 2010 Lebron nyaris sendirian membawa cavaliers berjuang untuk mencoba memenangkan cincin juara NBA. Setelah selama tujuh tahun, pada akhirnya Lebron memutuskan untuk meninggalkan Cavs(nick name  Cleveland Cavaliers) untuk memperkuat Miami Heats demi sebuah gelar NBA yang diidamkan namun tak jua terengkuh bersama Cavs. Bersama Heats, dua kali Lebron berhasil memenangkan gelar juara NBA dua kali: 2012, 2013. Dari 4 kesempatan ke final NBA, 4 musim dan 4 kali final. Siapa yang tak gentar melawan Heats dengan Lebron?

Lalu datanglah berita itu, di tengah masa kejayaannya bersama Heats, Lebron memutuskan pulang ke Cleveland.

"Anak-anak saya sudah mulai besar sekarang, saya berharap bisa melihat dan mendampingi mereka tumbuh. Dan dalam kepala saya, saya ingin melihat mereka tumbuh di lingkungan yang sama dengan saya tumbuh"

"Sebelum orang tahu di mana saya akan bermain bermain bola basket, saya adalah anak asal Northeast Ohio. Di sanalah saya berjalan. Di sanalah saya berlari. Di sanalah saya menangis. Di sanalah saya terluka. Daerah itu mengisi tempat spesial dalam hati saya. Warga di sana menyaksikan saya tumbuh."

Begitu jawab Lebron dalam sebuah wawancara. Setelah mempertimbangkan banyak hal, Lebron akhirnya memutuskan kembali bermain bersama Cavs. Sebuah klub kecil yang akan kesulitan untuk masuk ke final wilayah.

"Saat aku meninggalkan Cleveland, aku sedang dalam sebuah misi. Aku mencari titel juara, dan kami juara dua kali. Tapi Miami tahu perasaan ini. Tujuanku masih memenangi titel sebanyak mungkin tapi apa yang paling penting bagiku sekarang adalah membawa setidaknya satu trofi juara ke timur laut Ohio."

"Di timur laut Ohio, tidak ada yang gratis. Semuanya dihasilkan. Anda bekerja untuk apa yang Anda miliki. Aku siap menerima tantangan ini. Aku pulang ke rumah," kata LeBron.

Masih ada manusia-manusia yang lebih menghargai tanah tempat dia lahir dan tumbuh. Manusia-manusia yang tak melulu mengagungkan kejayaan. Masih ada manusia seperti Lebron James.

"Sebelum siapapun peduli di mana aku akan bermain basket, aku hanyalah seorang bocah dari timur laut Ohio."

"Itulah tempat di mana aku berjalan, tempat di mana aku berlari, tempat di mana aku menangis. Orang orang di sana telah melihatku tumbuh. Hubunganku dengan timur laut Ohio lebih besar dari bola basket. Aku tidak menyadarinya empat tahun lalu, tapi aku sudah sadar sekarang."


Anda boleh mengatakan saya sentimentil. Tapi, seperti juga Lebron, saya pun mendambakan hidup di kampung di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Sudah terlalu lama saya meninggalkan ibu saya, menelantarkan adik perempuan saya tumbuh tanpa seorang kakak yang bisa melindunginya.

Kalau dihitung kembali, sudah terlalu lama. 2004-2008 saya menjadi sisiphus di Karawang. Pada 2009 saya menengok saudara di Riau. 2010, pada bulan April, saya kembali memutuskan untuk mendamparkan diri di Kalimantan. Sampai saat ini(sebenarnya sejak januari ini saya sedang di rumah, cuti sakit, tapi tanggal 3 September nanti saya harus kembali ke kalimantan). Dan keinginan untuk pulang itu masih wacana.

Tapi suatu saat nanti, secepatnya, saya bisa membayangkan tinggal di rumah menemani ibu. Menemani kesepiannya. Bahkan membayangkannya saja sudah bisa membuat saya tersenyum. :)

Meskipun kampung saya telah tumbuh, berubah, barangkali tak lagi senyaman pada masa kecil saya, dan telah begitu banyak hal yang saya lewatkan. Takkan pernah ada bau tanah yang bisa memuaskan rongga di dadaku selain aroma tanah kampungku yang basah oleh air hujan.


"Kadang kala saya merasa saya anak mereka. Saya ingin memberi mereka harapan selagi saya bisa. Saya ingin menginspirasi mereka kapan pun saya bisa. Hubungan saya dengan Northeast Ohio lebih besar dibandingkan bola basket. Saya tak menyadari itu empat tahun lalu. Sekarang saya sadar," kata James seperti dikutip Reuter.


Sebentar lagi Agustus akan segera habis. Saya akan kembali meninggalkan rumah. Sementara Lebron tengah memulai kembali kegairahannya untuk memberikan secercah harapan pada penduduk Cleveland agar bisa turut mencicipi rasa bahagia kala Lebron merengkuh gelar juara NBA.


Aku masih di sini, selalu bertanya-tanya, seraya terus melangkah menyusuri jalan yang entah kemana akan membawaku. Sampai nanti. Sampai mati! Sampai aku berani membuat jalan sendiri!  [  ]




Tulisan ini diikutsertakan di dalam lomba #BGANia yang diadakan di sini  http://kata-nia.blogspot.com/2014/07/BGANia.html?m=1

Selasa, 05 Agustus 2014

Harga Sebuah Kesedihan

Suatu kali saya baru saja menonton film The Counselor. Ada sebuah chapter yang hingga kini masih menempel dalam kepala saya. Dan aku ingin membaginya kepada kalian: 

"Pada suatu masa dalam sebuah dunia, hiduplah seorang penyair yang begitu mencintai kekasihnya. oleh suatu sebab yang saya lupa, sang kekasih meninggal, meninggalkan cinta yang bagi sang penyair. Sang penyair dengan kesedihannya kemudian , menuliskan sajak-sajak cinta untuk sang kekasih. Kemudian berkat sajak-sajak itu Sang penyair ditahbiskan menjadi seorang penyair besar. Syahdan, Sang penyair mendapatkan penghargaan atas sajak-sajaknya, mendapatkan uang dari sajak-sajaknya, dari kesedihannya.

Pada akhirnya penyair itu menjadi orang kaya. Segala hal yang mau melacurkan dirinya pada uang mampu ia beli. Namun, Kehilangannya akan Sang kekasih tak pernah bisa hilang dari jiwanya. Sang penyair masih dirundung kesedihan yang dalam akan cintanya yang hilang, kekasihnya.

Seorang kawan yang melihat hal itu kemudian bertanya kepada sang penyair "Dengan segala kekayaanmu, kenapa engkau masih bersedih?"

sang penyair tak bisa menjawab pertanyaan itu. ia lalu menawarkan "aku bersedia menukar seluruh kekayaanku dengan sebuah kebahagiaan. ambillah kesedihanku bersama seluruh kekayaanku."

sahabatnya tampak berpikir sejenak. namun kemudian ia menggelengkan kepalanya.

Begitulah, bahkan seluruh negeri tak ada yang mau menukarkan kebahagiaannya untuk kekayaan sang penyair beserta segepok kesedihan yang ia pelihara. [ ]


tanggung jawab dan kejujuran


 judul           : Semusim, dan semusim lagi
penulis        : Andina Dwifatma
penerbit       : Gramedia
tahun terbit  : 2013
isbn             : 9789792295108



Pada jaman sekarang ini, tanggung jawab dan kejujuran sudah seperti barang langka. Dan yang lebih menyedihkan lagi, terkadang menjadi jujur itu sulit. Kejujuran menjadi sulit karena karena sebuah stigma bahwa orang jujur itu langka. Lalu yang terjadi adalah manusia membentengi diri dari orang jujur, mudah curiga, alhasil orang yang sudah bicara jujur seringkali tidak dipercaya sedang berkata jujur. Tentu kita semua pernah mengalami hal ini kan?
Tapi orang yang mempunyai kejujuran dan ganggung jawab di dunia ini, masih ada, masih banyak. Salah satu orang itu adalah Tuan Meursault. Tuan Meursault adalah jenis manusia yang akan mengakui kesalahannya bila ia memang bersalah. Begitu juga saat Tuan Meursault menghadapi seorang lelaki asing yang mengancamnya menggunakan sebilah pisau, dalam posisi terdesak, Tuan Meursault yang membawa pistol di tangannya kemudian menembak orang itu. Mati. Namun yang terjadi kemudian adalah Tuan Meursault ini melepaskan tiga kali tembakan lagi ke orang yang sudah ditembaknya. Empat kali. Empat kali tembakan membuat niat Tuan Meursault yang tadinya hendak membela diri kemudian menjadi diragukan. Apa yang terjadi? Tuan Meursault sendiri sebenarnya tidak begitu yakin apa sebab dia menembak hingga empat kali. Tapi sudah terjadi. Tuan Meursault dibawa ke pengadilan dan dengan sadar mengakui kalau ia menembak sebanyak empat kali, dan mengabaikan kemungkinan tindakan membela diri. Tuan Meursault secara sadar menerima hukuman mati yang kemudian diputuskan oleh hakim. Nah kalian lihat sendiri kan kalau orang yang bertanggung jawab itu masih ada, dan dia jujur meskipun dia bersalah.
Meskipun adegan yang saya jabarkan secara panjang lebar tadi hanya terjadi di dalam novel, saya tetap percaya bahwa orang yang jujur dan bertanggung jawab itu masih ada. Tidak seperti manusia-manusia tak tahu malu yang hanya tahu menyelamatkan diri sendiri. Kalian pasti paham siapa yang saya maksud, mereka orang-orang berduit yang menyewa pengacara mahal yang mau melakukan apa saja agar ia lepas dari hukuman akibat kesalahannya.
Novel the outsider karya Albert Camus dengan Tuan Meursault-nya, kemarin malam mendadak menyembul dalam ingatan saya ketika membaca buku Semusin, Dan Semusim Lagi karya Andina Dwifatma yang memenangkan sayembara novel DKJ 2012.
Persamaan kedua buku itu saya kira jelas, tokoh utama kita yang tercinta melakukan kesalahan dan mengatakan sejujurnya tentang apa yang telah ia lakukan, terlepas apa yang ia lakukan tidak dapat disangkal. Dan kedua tokoh utama kita bersedia menerima hukumannya. Bahwa yang bersalah memang harus membayar kesalahannya. Perbedaannya, Tuan Meursault menembak orang dengan sadar tanpa pengaruh siapapun, sedangkan tokoh di dalam buku semusim, dan semusim lagi menusuk orang di bawah pengaruh sobron(siapa sobron? Sebaiknya baca sendiri yes!). Tapi pada akhirnya kedua orang yang telah melakukan kesalahan(oke saya memperhalusnya, seharusnya saya bilang kejahatan) itu menerima kenyataan bahwa mereka menerima hukumannya.
Yang sering tidak kita sadari adalah, seperti hewan yang memiliki naluri bertahan hidup, terkadang manusia, pada saat yang terdesak setelah berbuat kesalahan, secara reflek seseorang sangat mungkin untuk menuruti naluri bertahan hidupnya saat terancam. Termasuk terancam ketahuan saat berbuat salah. Seseorang kadang dengan tanpa sadar mengelak, tidak mengakui kesalahannya demi keselamatannya, atau demi keyakinan bahwa dia tidak bersalah, dan membangun argumen untuk membenarkan tindakannya. Alih-alih mengakui kesalahannya secara jujur dan bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Begitulah tokoh utama kita yang tercinta pada akhirnya siap menerima hukuman apapun yang mungkin bisa dia dapatkan.
Dari segi penulisan, buku ‘semusim, dan semusim lagi’ adalah sebuah perayaan kalau tidak boleh saya sebut sebagai hiburan. Latar belakang penulis yang seorang wartawan membuat tulisannya begitu mengalir, tidak terasa dipaksakan, bahkan saat penulis menghadirkan keberadaan sosok ikan mas koki yang bisa bicara dan membuat teh sendiri. Semua terasa wajar. Maka tidak heran bila buku ini kemudian memenangkan sayembara novel dewan kesenian jakarta tahun 2012.
Pada mulanya membaca buku ini fokus saya adalah mencari dan mencoba menemukan kaitan antara buku ini dan puisi Sitor Situmorang yang ada di bagian belakang buku. Saya sempat berpikir penulis menggunakan setiap baris puisi tersebut di dalam bukunya, satu baris di setiap bab. Tapi ternyata saya hanya menemukan satu baris saja puisi tersebut di dalam buku ini, dan itupun ada di bab terakhir buku ini. Yah, tetapi hal itu tidak terlalu mengecewakan, karena penulis mampu membayarnya dengan sebuah cerita yang menarik.
Kelebihan: saya menyukai cara penulis membangun karakter tokoh utama kita. Bahasanya lancar.
Kekurangan: ada sebuah adegan yang meloncat dan itu sungguh membingungkan bagi saya. Itu terjadi pada adegan ketika si tokoh utama menusuk leher Muara menggunakan pisau sebanyak empat kali. Yang begitu mengganggu adalah, empat tusukan di leher tidak membuat Muara mati, ia hanya kehilangan banyak darah. Oke mungkin itu memang bisa tertolong bila cepat-cepat ditemukan dan ditangani. Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah berapa lama selang antara Muara ditusuk dengan pisau sebanyak empat kali di bagian leher dan saat Muara ditemukan? Dan siapa yang menemukan mereka? Pertama, karena si tokoh utama tinggal sendirian di rumah di tempat kejadian perkara. Kedua, Berbeda misalnya yang ia tusuk adalah di bagian perut. Ini di bagian leher, tempatnya pembuluh darah berada.
Saya memberikan 4 dari 5 bintang untuk buku ini.

Kamis, 19 Desember 2013

kamisan #12 Lemari - Pintu Masuk


Doni terbangun dari tidurnya karena suara deritan pintu yang terbuka. Dalam kegelapan kamar pada tengah malam, Doni memerlukan satu dua menit untuk membiasakan matanya dengan pekatnya malam. Bukan pintu kamar yang terbuka, Samar-samar, Doni mendapati pintu lemarinya telah terbuka. Dengan memicingkan mata, Doni sungguh-sungguh berusaha mencermati lubang hitam yang tersibak. Namun semua gelap. Doni tak mendapati apapun selain lengan kemejanya yang tertimpa keremangan.

Srek. Tersirap, bukannya memalingkan pandangan, Doni justru makin serius memusatkan perhatiannya pada lubang hitam yang menganga itu. Hati Doni berdesir saat kemudian saat sebuah suara lelaki keluar dari dalam lemari pakaiannya.

“Tunggu dulu, kenapa kita melulu harus masuk dari dalam lemari?” tanya sebuah suara yang terdengar berat.

“Apa maksudmu? Memang seperti ini sudah jalannya, terima saja!” sahut suara yang lain.

“Tidak bisa! Sudah akan terlambat kalau harus masuk lewat lemari di kamar ini. Tahukah kau berapa lama untuk sampai ke dapur? Aku harus menghentikan perempuan itu sebelum ia mulai memasukan ulekan bawangnya ke wajan panas. Aku tak tahan kalau harus mencium bau harum itu lagi. Aku akan lewat dinding dapur langsung!” tukas suara berat itu dengan lebih garang.

Doni tak bergerak dari kasurnya. Entah apa yang dicarinya. Tangan Doni lambat merabai permukaan kasur dingin di sebelahnya. Mira, istrinya, tak ada di sana.

Tercekat, Doni diam, tak berusaha membuat sedikitpun suara. Setelah menajamkan pendengaran dan yakin kalau suara-suara tadi benar-benar tak ada lagi, Doni pun dengan naif menganggap suara-suara itu hanyalah apa yang ia bawa dari alam mimpi. Doni merapatkan selimutnya, tanpa ada kemauan untuk sekedar menutup pintu lemari yang telah terbuka.

***

“Kenapa kita harus masuk dari dalam lemari?” protes suara berat itu sengit di dalam sebuah forum dalam bentuk melingkar di sebuah ruangan gelap tanpa sebuahpun sumber cahaya.

“Apa maksudmu? Itu sudah tradisi dari ratusan tahun yang lalu, kenapa kau ribut-ribut?” tukas seorang perempuan setengah baya yang hanya mengenakan daster selutut yang tak jelas warnanya karena gelap sehingga menyamarkan bercak darah di daerah perutnya.

“Tahukah kalian berapa jauh jarak dari lemari di sana ke dapur rumah itu?”

“lalu?” buru perempuan itu menyela.

“Aku harus mencegah perempuan di rumah itu sebelum ia memasukkan ulekan bawangnya ke dalam wajan panas. Kalau aku harus pergi ke dapur melewati lemari pakaian itu tentu saja aku pasti akan terlambat.”

“Memangnya kenapa kau harus melakukan itu?”

“Ya, kenapa kau harus melakukan itu?” sambung yang lain meminta penjelasan.

“karena... “ suara berat itu tiba-tiba meluruh. Ada jeda di sana, ada kesedihan yang menghambatnya.”waktu itu, bau harum bawang itulah yang terakhir aku ingat malam itu, ketika istriku membuatkanku nasi goreng sialan itu.” Ada kemarahan yang getir dalam nada suara beratnya.

Yang lain-lain ada yang menutup mulutnya yang terbuka, ada yang mengelus dada. Seluruh simpati kini menjadi persembahan untuknya.

“Anak muda,” seorang lelaki keriput yang tak berdaging menepuk pundaknya. “lihat orang itu.” Kulitnya menggelambir jelek saat ia menunjuk pada seorang perempuan berambut panjang yang bola matanya hampir putih seutuhnya, tak ada warna hitam di matanya, putihnya mencolok sekali di dalam keremangan.”kau mau menjadi seperti orang itu? Yang rusak pengelihatanya karena dulu ia selalu suka masuk lewat layar televisi yang menyala. Kau tahu, matanya tetap rusak meski ia menutupi matanya dengan rambut di dahinya saat ia masuk. Kau mau matamu rusak sepertinya kalau kamu nekat langsung masuk lewat dinding dapur? Dekat kompor pula, apinya sungguh tak baik, berbahaya.”

Sesaat ia ragu akan kengototannya. “Jadi karena hal itu?”

“Ya, setidaknya baru itu gejala awal yang nampak, tak tahu kalau ia tetap saja melanjutkan kegemarannya itu! Jadi, pikirkan itu baik-baik, sebelum kau melaksanakan niatmu. Ada yang sudah lama hidup di alam ini jauh lebih lama darimu, mereka tahu hal-hal yang mungkin tak kau ketahui.” Ditepuknya sekali lagi pundak lelaki muda itu.

Lelaki muda itu pun pergi meninggalkan forum. Tanpa kata.

***

Doni terkesiap oleh hempasan tubuh istrinya, di kasur, di sebelahnya. Nafasnya memburu hebat seperti atlet lari jarak pendek yang baru saja menyentuh garis finish. Kepayahan Doni mengamati raut muka istrinya itu, dan keremangan malam makin menyembunyikan wajah istrinya yang ketakutan. Tapi tidak suara terikan istrinya tadi, Doni tahu ia harus peduli pada istrinya dan mengabaikan sebentar mimpi indahnya.

“Ada apa sayang?”

“Ada... Hantu mas.. “ suara istrinya tergagap.

“Maksudmu?” Doni seolah tak yakin dengan apa yang didengarnya barusan.

“Iya Mas, ada hantu yang mengenakan kacamata hitam muncul dari dinding dapur saat aku hendak membuat nasi goreng.” [ ]





*tulisan ini untuk pipit yang kemarin menanyakan ‘kenapa hantu selalu muncul dari dalam lemari pakaian?’ saat nonton film Insidous 2 beberapa waktu lalu :)

Kamis, 05 Desember 2013

kamisan #11 Lem kertas - Hari Lebaran


Wawan menuangkan air panas ke dalam ember bekas cat yang berisi tepung pati kanji. Sedikit demi sedikit air panas itu dituangkan sambil diaduk pelan hingga adonan menjadi semacam bubur tetapi sedikit lebih encer.

“Bikin apa Wan?” tanya Ibu wawan yang baru saja selesai melayani seorang pembeli di warungnya, duduk di lincak di area bengkel tambal ban yang dikelola suaminya.

“Lem kertas.” jawab Wawan ringan dengan bibir tersungging.

“Buat apa?” sahut Ayah Wawan yang sejak tadi mengamati Wawan.

“Tuh... “ Wawan menunjuk selebaran pengumuman Salat Ied di halaman Kantor pos.

“Oh... jadi lebaran tanggal berapa?” tanya Ayah Wawan sambil berjalan ke mesin kompresor saat Ustadz Hari datang hendak mengisi angin ban motornya yang kurang angin.

“Tanggal 9 nanti.”

“Loh, tidak menunggu sidang isbat dulu to Mas Wawan?” Ustadz Hari menimpali.

“Awal puasa kemarin sudah bareng kan Mas?” tanya Wawan pada Ustadz Hari. Tanpa menunggu jawaban, Wawan melanjutkan. “Lalu kenapa tidak Hari Raya-nya bareng juga? Di rapat PHBI kemarin, disepakati Hari Raya tanggal 9 Mas.”

Ustadz Hari tak menanggapi, ia menyalakan motornya dan pergi meninggalkan mereka. Tepat sebelum Anto, Andri, Wiwit dan Tanto datang.

“Ada apa?” tanya Anto yang menyadari kehadiran Ustadz Hari barusan.

“Sudah, tak usah dipikirkan. Memang begitu sejak dulu, tak pernah sejalan dengan PHBI kan orang itu.” sergah Ibu Wawan.”Paling banter seperti tahun kemarin, supaya dia yang mengurusi salat Ied di Kantor Pos, dia hanya menginginkan uang infaq-nya saja.”

“Yah, nggak usah dipedulikan orang yang seperti itu, sebaiknya kita kerjakan saja tugas kita.” tukas Anto yang lalu mengambil pamflet yang harus mereka sebarkan.

Wawan mengambil dan menenteng ember berisi lem yang tadi dia buat. “Aku hanya ingin kampung kita rukun, tidak lagi terpecah-pecah karena perbedaan Hari Raya. Itu saja!” Wawan menyusul teman-temannya yang sudah berangkat. [ ]




Catatan kaki:
Lincak : kursi panjang dari bambu
PHBI    : Panitia Hari Besar Islam, yang mengurusi perayaan-perayaan hari besar Islam, meliputi penyelenggaraan Salat Ied.

Kamis, 28 November 2013

kamisan #10 semut - Semut Naif



“Gawat, tampaknya sebentar lagi akan hujan.” ujarku saat melihat gugusan awan yang sibuk berduyun-duyun datang dari utara. Di luar, pada tali jemuran yang melengkung, tergantung seragam sekolah Dewi, anak kecil yang suka menyisihkan rotinya untukku, meskipun itu lebih karena Dewi tak pernah menyukai roti bekal makan siangnya itu.

Melihat itu, aku segera menjatuhkan butiran roti di bahuku dan mengejar semut Cak. “Cak, kita harus menghentikan sebentar pengumpulan makanan kita.” Tukasku sambil menghadang jalan Cak.

“Apa maksudmu, Bon?” sahut Cak dengan nada suara yang tinggi. “koloni kita bakal kelaparan kalau kita tidak bekerja mengumpulkan makanan.”

“Bukan begitu, Cak. Tapi lihat awan dari utara itu, dan angin yang lembab ini,  sebentar lagi pasti turun hujan.”

“Justru itu kita seharusnya mempercepat kerja kita agar bisa lebih cepat selesai memindahkan roti yang dibuang Dewi ke sarang kita.” potong Cak cepat dengan suara yang lebih tegas.

“Tapi, Cak, lihat itu,” aku menunjuk seragam Dewi yang masih tergantung di tali jemuran. “kalau seragam itu kehujanan dan Dewi besok tidak masuk sekolah karena seragamnya basah maka kita tidak akan mendapatkan roti bekal makan siang yang dibuang Dewi.”

“Ya, Bon benar Cak.” timpal Jun yang berdiri di belakangku. Barisan semut yang sedari tadi berhenti bergerak karena jalur mereka aku potong kini bertambah gelisah.

Cak mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, tapi bagaimana kita memberitahu Bu Wulan?”

“Tidakkah kau pernah dengar cerita bahwa manusia mempunyai kepercayaan bahwa jika semut berkerumun tanpa adanya gula atau makanan itu adalah sebuah pertanda akan turun hujan?” ujar Dob tiba-tiba. Sebagai semut yang paling berumur tentu saja ucapan Dob dipercaya oleh semut-semut yang lain.

‘Apa kau yakin dengan yang kau ketahui itu, Dob?” tanya Cak untuk meyakinkan diri.

“Tentu saja.” jawab Dob tanpa keraguan.

“Baiklah kalau begitu. Ayo semua ikuti aku. Kita harus memastikan Bu Wulan melihat kita berkerumun, tapi kita juga harus menjaga jarak dari jangkaun Bu Wulan agar kita punya kesempatan untuk menyelamatkan diri sekiranya ada hal yang tidak kita inginkan terjadi.”

Cak berjalan paling depan. Cak memutuskan untuk masuk dari pintu samping, dikuti oleh semua kawananku. Setelah melewati celah bagian bawah pintu samping, Cak memberi isyarat dengan kaki depannya. Bu Wulan sedang duduk di ruang tengah, sedang menonton televisi.

“Bon, pancinglah agar Bu Wulan melihat kemari. Kami akan berkerumun di sini. Hati-hati.” pesan Cak sebelum aku meninggalkan koloniku.

Dengan cemas yang mengiringi, aku pun berjalan cepat mengikuti alur semen hitam yang tercipta di antara ubin keramik. Saat hendak mencapai pinggiran karpet tempat Bu Wulan duduk, tiba-tiba aku merasakan keramik yang aku pijak berdebum. Sebuah kaki raksasa jatuh di sampingku, hampir saja menindas tubuhku. Sambil meletakkan kedua kaki depanku ke atas kepala dalam usaha melindungi diri yang sia-sia, aku melihat Pak Agus berjalan melintasiku. Pak agus menghampiri koloniku, dari jauh aku diam melihat Pak Agus menyemprotkan semacam cairan putih yang kemudian membinasakan seluruh koloniku. [ ]