Kamis, 14 November 2013

kamisan #8 masa kecil - perkenalan pertama


Hari yang tadinya panas tiba-tiba hujan. Aku berlari keluar lapangan, meninggalkan teman-teman sepermaianku yang tetap melanjutkan bermain bola di belakang sana. Aku berteduh di bawah emperan rumah mbah Karto, mengerutkan diri sejauh mungkin dari percikan air hujan. Dengan melipatkan tangan di depan dada, aku terpana menatap kegembiraan teman-temanku merayakan hujan sambil bermain bola di atas lapangan tanah yang kemudian berlumpur. Masih ada sembilan orang yang berteriak-teriak meminta bola di sana. Selain aku, ada dua orang lain yang terbirit-birit menghindari hujan. Anto dan ali, mereka itu masuk ke rumah masing-masing. Kembali pada ibu-ibu mereka.

Hujan makin menjadi. Sementara keringat di dahiku belum sempat tumbuh, Cuma mengilapkan kulit coklatku saja. Kemudian iri dengan cepat memuati diri, berat seperti awan hitam yang mengandung air tapi belum menjadi hujan. Debu sisa tanah di lututku tampak cengeng, seperti merengek minta dikembalikan ke lapangan sana. Tapi bengek yang lembek mengekangku dari keinginan. Aku terbenak pada kemarahan dan kesusahan yang akan ibu tanggung bila aku memaksakan diri.

Bola plastik yang bocor meluncur kepayahan dihadang rintik hujan, jatuh di luar lantai semen, tak jauh dariku. Teman-temanku berteriak membujukku mengembalikan bola itu ke tengah lapangan. Kutatap bola itu dengan ragu. Bentuknya yang bulat dengan mudah menyaru selayaknya wajah yang meledekku. Aku kalap. Kutendang bola itu ke tengah lapangan, dan kukejar, masuk ke arena berlumpur; lupa akan bayangan Ibu.

Air hujan menggenang di bagian yang cekung, menciptakan keceriaan yang tumpah ruah saat bola mampir ke sana. Air coklat di tendang. Adi mengusap-usap wajahnya, mengerjapkan matanya cepat sebelum tertawa dan membalas siapa saja yang berkubang di sana. Aku melonjak dan menghentakkan kedua kaki demi membuat riak air besar yang akan mengenai semua temanku, lalu aku lari membawa bola sebelum siapapun sempat membalasku. Lalu tiba-tiba petir muncul, tangannya yang kurus dan bercahaya menyeruak dari kolong langit, seolah hendak meraih apapun atau siapapun yang sanggup ia raih. Suaranya yang memekakkan telinga mengagetkan aku, dan teman-temanku. Kami serentak tiarap, tanpa suara, dengan kedua tangan menutupi daun telinga. Kemudian semua bubar, lari menghambur ke rumah masing-masing.

Aku bangun, sendirian, tiba-tiba rasa takut mencengkeram tengkukku. Dingin mulai menyerang dadaku. Sekonyong-konyong aku teringat ibu. Aku berlari menuju rumah, lekas, tak peduli pada hujan. Di belokan terakhir aku terjatuh, pikiranku penuh duga dan alasan yang sengaja kusiapkan bila diperlukan. Lututku berdarah, bercampur tanah, tapi tak kuhiraukan. Aku terus berlari.

Pintu rumah masih tertutup. Ibu belum pulang. Aku pergi ke sumur cepat-cepat. Kurendam baju-baju kotorku. Menimba air dari sumur, kusiram lantai dari noda bercak tanah. Selesai mandi, kukerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah agar ibu senang; mencuci piring, menyapu, memasak nasi, mengisi gentong dengan air sumur, memasak air panas, serta mencuci baju kotorku tadi siang. Selesai semua itu, ibu masih belum pulang.

Aku hampir lega, saat mendadak nafasku mulai berat. Tentu saja aku tidak bisa berbohong kalau sesak nafasku kambuh. Ibu pasti tahu aku habis bermain hujan. Aku ke dapur, menyeduh teh. lalu menenggaknya panas-panas. Perlahan hangat mulai menyusupi dadaku, sedikit meringankan tarikan nafasku.

Pintu depan terbuka, Ibu muncul sambil membawa plastik besar ditangannya. Wajah Ibu yang lelah memandangiku seksama. Bulir air hujan menetes dari ujung rambutnya yang basah. Bajunya turut basah sebagian, pasti Ibu berlari juga untuk menghindari air hujan. Tanpa berkata apapun Ibu pergi ke belakang setelah meletakkan plastik hitam bawaannya di atas meja, tak jauh di depanku. Hendak sekali memeriksanya, tapi urung.

Ibu muncul dengan handuk yang dililitkan di atas kepalanya dan segelas teh hangat. Aku berusaha keras menahan nafasku sebiasa mungkin saat Ibu mengambil duduk di sebelahku. Ibu memegang dahiku sesudah meletakkan gelas teh di depanku. Kemudian, masih tanpa kata-kata ibu mengeluarkan kumpulan majalah Bobo dan Donald Bebek serta Asterix dan obelix. Majalah-majalah itu compang-camping, majalah bekas milik anak majikan Ibu, tetapi tetap saja tampak menggiurkan buatku.

“nih baca, biar gak bosan diam di rumah.” Yang aku dengar adalah ‘nih baca, dan jangan main hujan lagi.’

Aku tersenyum. Ibu tahu aku habis bermain hujan-hujanan, tapi aku tidak khawatir. Untuk kali ini. [ ]

Kamis, 07 November 2013

Tak Semua Hal Memerlukan Alasan


Alasan hanyalah salah satu cara seorang pengecut untuk mengatakan tidak. Tidak! Sesuatu hal seringkali, sesungguhnya, hanya memerlukan iya atau tidak, sedangkan alasan hanyalah salah satu hal penguat cerita, tetapi tetap tidak akan mengubah sesuatu inti cerita tersebut. Alasan adalah hal sepele. Percayalah, sepele. Dalam banyak hal, sesuatu yang terjadi hanya terlihat antara iya atau tidak, tidak ada hal lain.
***
Apa alasan engkau hidup di dunia? Apakah hidup memerlukan alasan? Kenapa hidup memerlukan alasan?
Dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, barangkali alasan itu penting. Alasan mungkin perlu dalam hal ibadah. Tapi tidak semua hal tentang ibadah memerlukan alasan. Saat engkau beribadah, sedekah atau sembahyang, mungkin alasan bisa mempengaruhi nilai ibadahmu. Tapi, bahkan dalam hal ibadahpun alasan tidak mutlak diperlukan. Aku melihat ada dua macam alasan yang bisa dibedakan pada hal ini. Pertama, untuk apa engkau beribadah? Tujuan engkau beribadah? Alasan yang paling sering diberikan adalah untuk mendapatkan ridhla ALLAH. Maka, di sini alasan menjadi perlu dan penting, akan mempengaruhi nilai ibadahmu. Apa motivasimu dalam beribadah itu penting bagi ibadahmu. Namun, pada hal kedua, kenapa engkau beribadah? Apa perlunya engkau beribadah? Pertanyaan ini seharusnya tidak memerlukan alasan. Kenapa? Karena ibadah itu sejatinya bukan untuk ALLAH. Ibadah itu untuk diri sendiri. Karena ALLAH tidak memerlukan pujian dan penghambaanmu, sungguh Maha Besar ALLAH yang tidak akan berkurang kebesaran-NYA tanpa pujian/penghambaanmu, bahkan ALLAH tidak memerlukan manusia. Bahkan, jika seandainya seluruh manusia di bumi ini seluruhnya tidak menyembah ALLAH maka niscaya hal itu tidak akan mengurangi keagungan ALLAH.
Namun, bagaimana saat hal itu harus bersinggungan dengan keikhlasan? Ikhlas; tanpa pamrih; tak mengharapkan imbalan. Masihkah alasan diperlukan? Aku berbuat baik karena ingin mendapatkan pahala dari ALLAH, ingin mendapatkan surga-NYA. Apakah alasan itu bisa diterima? Manusia memang mahkluk lemah yang tak bisa berlepas diri dari Tuhannya, berdoa atau meminta pada Tuhan bahkan dianjurkan. Tapi, apakah aku ikhlas saat aku berbuat baik? Tidak bila aku masih mengharapkan imbalan berupa pahala dari ALLAH. Berbuat baik sepertinya termasuk hal yang tidak memerlukan alasan. Berbuat baik untuk ALLAH dan berbuat baik untuk mengharapkan pahala dari ALLAH, bagiku adalah hal yang berbeda. Berbuat baik untuk mengharapkan pahala dari ALLAH itu boleh, tidak salah. Tetapi apakah itu termasuk ikhlas? Ikhlas itu tidak mengharapkan imbalan, termasuk pahala. Ikhlas itu saat engkau berbuat sesuatu tanpa alasan apapun. Nah, di sini, dalam keikhlasan, alasan tidak diperlukan.
Lalu, di mana alasan berdiri di sebuah peristiwa yang lepas dari kedua hal tadi? Seperti, ambil contoh, ketidakhadiran seseorang dalam sebuah tes wawancara. Saat ia tidak hadir dalam sebuah tes wawancara untuk sebuah lowongan pekerjaan apakah alasan diperlukan? Tidak. Apapun alasanya? Tidak. Bagaimana bila alasannya atas kesengajaan atau karena kecerobohannya? Jelas alasan tersebut tidak diperlukan. Lalu, bagaimana bila alasannya dikarenakan oleh sesuatu yang di luar kuasanya? Bahwa ia tidak bisa hadir dalam wawancara tersebut karena ia terjebak macet karena ada demo buruh misalnya. Barangkali, meskipun sangat aku sangsikan, ia bisa meminta kelonggaran dari pihak perusahaan untuk diberi kesempatan wawancara di lain waktu, tetapi hal itu tidak bisa merubah fakta bahwa ia tidak bisa hadir dalam wawancara di kesempatan pertama. Situasi akan menjadi lebih jelas saat seseorang itu berhadapan dengan situasi jadwal keberangkatan pesawat terbang. Alasan apapun tidak akan diterima, tiket tetap hangus bukan? Di sini, alasan tidak diperlukan (lagi).
Seorang siswa tidak masuk sekolah, alasan dipandang sebagai sesuatu yang perlu, sakit atau ada izin ataukah tanpa keterangan sama sekali. Seorang pegawai yang tidak masuk kerja? Sama dengan kasus pertama, alasan diperlukan.
Dalam hubungan manusia dengan manusia: Di sini posisi alasan menjadi tidak pasti. Alasan yang di luar kuasa seorang manusia dan tersebab dari kelemahan manusia tersebut. Dan juga ada faktor dari toleransi seorang manusia. Apakah manusia tersebut cukup penuh pengertian untuk menerima alasan seseorang yang lain?
Dalam hal yang lain, saat engkau meminta bantuan dari seorang teman; meminta kesediaan seseorang untuk menjadi kekasihmu, atau meminta kekasih untuk mau menikahimu, alasan apapun yang ia kemukakan tidak akan merubah apapun jawaban yang ia berikan. Seperti aku bilang pada awal tulisan ini, alasan hanyalah cara seorang pengecut untuk bilang tidak, untuk membela diri dan keputusannya. Saat seseorang memberikan bermacam alasan, maka percayalah, dari keberbelit-belitan itu, dari sebanyak apapun penjelasan yang ia berikan, semua itu hampir pasti bisa disederhanakan dengan satu kata, TIDAK. Ia tidak mau, tidak bersedia atau tidak mampu.
Bagiku pribadi? Bila aku berbuat sebuah kesalahan, hal pertama yang aku seringkali lakukan adalah mengakui kesalahan. Aku tidak menyukai alasan untuk membenarkan kesalahanku, meskipun kesalahan itu mungkin terjadi bukan karena kuasaku, di luar kuasaku, sesuatu yang bisa aku cegah. Aku bersalah, engkau terima atau tidak, aku telah bersalah, aku meminta maaf. Alasan adalah hal terakhir yang akan muncul untuk kukatakan. Aku tak memerlukan alasan. Sesuatu terjadi atau tidak, tidak memerlukan alasan, dalam duniaku.
Begitu juga dalam hal-hal yang hendak dan telah aku lakukan. Tidak ada alasan khusus yang aku butuhkan untuk melakukan sesuatu, untuk hidup. Aku tidak memerlukan alasan untuk memberikan uang recehku kepada seorang pengamen; untuk membantu seseorang yang memerlukan bantuan; untuk tetap menjalani hidup yang ini-ini saja; untuk hidup dalam dunia yang serba teratur atau dunia yang penuh spontanitas. Aku tak memerlukan alasan untuk hidup, aku hanya tahu untuk bertahan hidup dan menjalani hidupku yang seperti ini. Ya, engkau boleh bilang hidupku menyedihkan atau apapun. Kau boleh kasihan padaku. Itu jika engkau tidak setuju denganku, tentang hidup yang tak memerlukan alasan. Tapi, izinkan juga aku untuk kasihan kepadamu, kepada orang yang membutuhkan alasan untuk hidup; kepada orang-orang yang membutuhkan alasan untuk tertawa, untuk bahagia. Aku sama tidak habis pikirnya denganmu yang menganggap hidupku menyedihkan, bagaimana mungkin hidup seorang manusia bisa ditentukan oleh sebuah alasan? Penting atau tidak, alasan tetaplah alasan. Dan aku tidak menyukainya.
Seperti juga dengan sebuah peristiwa yang baru saja aku alami. Aku mengecewakan seseorang. Aku telah berjanji memberikan sebuah hadiah untuk seseorang, lewat sebuah sambungan telepon. Namun pada hari yang dijanjikan itu, pada hari yang telah direncanakan, dengan rencana awal aku akan menelpon pada saat hari sedang tua, pada suatu waktu menjelang sore. Dengan estimasi perjalan yang harus aku tempuh dari tanjung(kalimantan selatan) menuju Batu Kajang(kalimantan timur) akan mampu ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam perjalanan darat, maka aku memutuskan untuk berangkat pada pukul 9 pagi dari tanjung. Dengan perkiraan dalam bayanganku, beangkat jam 9, menunggu angkot paling lama satu jam, perjalanan bila lancar akan bisa ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam, maka aku merasa akan punya cukup waktu untuk menunaikan janjiku, menelepon, paling lama aku akan sampai tujuan pukul 2 siang paling lambat. Namun rencana tinggal rencana, ada hal yang memaksa aku pergi melakukan kerja yang tak tertunda, pergi ke lokasi(hutan) setengah jam kemudian, sebelum sempat aku menunaikan janji. Yang lebih celaka adalah di tempat lokasi aku harus melakukan kerja tidaklah menyediakan sinyal seluler untukku menelpon. Aku baru selesai melakukan kerja dan keluar dari lokasi pada pukul sembilan malam dikarenakan jauhnya akses jalan yang harus dilalui. Lalu, keadaan belum selesai, aku dipaksa mengikuti kemauan atasanku, melanjutkan perjalanan lagi ke Balikpapan, dengan estimasi waktu 3 sampai 4 jam perjalanan darat. Karena keadaan sinyal yang tidak merata sepanjang jalan dan situasi aku sedang di jalan dan berada di tengah banyak orang, aku menunda(lagi) menunaikan hutangku. Saat telah tiba di penajam, di atas kapal Feri dengan sinyal yang mendukung barulah aku memutuskan untuk menelepon. Namun itu sudah terlambat, aku sudah membuat seseorang kecewa.
Percayalah, uraian itu bukanlah usahaku untuk membangun sebuah alasan. Aku tak menganggap perlu untuk mencari alasan. Yang jelas adalah aku telah bersalah. Dengan atau tanpa alasan, seseorang telah kecewa karena aku.  Alasan sungguh tidak diperlukan untuk urusan ini, alasan takkan mampu mengubah apa yang sudah terjadi.
Lalu masihkah hidup memerlukan alasan? Apakah alasan masih bisa diterima? Ya atau tidak, terjadi atau tidak, hanya itu.
Aku sudah memilih, hidup tanpa alasan adalah yang paling aku sukai. Kamu?

kamisan #7 melankholia - saat engkau mengecewakan seseorang


Malam ini bulan tampak begitu pucat. Sinarnya jatuh tanpa gairah memenuhi ruang pandangku. Jalanan sepi, aspal jalan yang hitam menambah muram kesunyian.
Aku sering bilang bahwa aku sudah tidak punya hati lagi, tapi semalam aku merasakan ada yang teriris-iris di dadaku. Memang aku tidak bisa memastikan bahwa yang tengah teriris itu hatiku. Namun aku tak mampu mencari tahu bahwa itu bisa jadi adalah hal lain.
Aku (lagi-lagi) telah mengecewakan seseorang. Sepertinya aku memang berbakat sekali  tentang hal itu. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasinya?
Aku bahkan tengah dalam perjalanan kembali dari kerja ketika aku tahu bahwa aku telah mengecewakan seseorang. Menggigil oleh kegunaan pendingin udara yang dinyalakan untuk mengusir embun pada kaca mobil, aku duduk termenung di kabin belakang mobil, memenggengam telepon seluler yang baru saja mendapat sinyal dari tower relay dan menyampaikan padaku pesan-pesan secara bertubi-tubi dengan barisan huruf kecil yang terserak dan muncul leher serta kaki yang memanjang karena mengambil tempat begitu banyak dan hanya menyisakan sedikit tempat untukku bernapas. Kaca mobil yang dilapisi plastik film tak memberiku banyak kesempatan untukku mencari pemandangan nyata bagi kedua mataku yang lelah, telah lebih dari 10 jam aku berada di dalam mobil ini. Lelah, kursi mobil yang longgar dan berlapis kulit sungguh tak mampu menggairahkan kantukku. Aku tak  bernafsu untuk melampiaskan niatku beristirahat di atas permukaan kulit mati dan berbau keringat itu. Duduk murung sembari mengalihkan perhatiannku darilayar telepon seluler.
Didik, lelaki beranak satu yang jauh dari istri yang barangkali tengah menyusui bayi kecilnya itu tampak serius memandangi ujung cahaya lampu depan berwarna kuning yang seolah berlari menjauh dari kami. Tak ada nyanyian atau celoteh panjang yang biasa ia lontarkan untuk menjaga kesiagaannya agar mobil tak memberontak dan lari ke bahu jalan aspal yang tak mempunyai marka jalan. Aspalnya baru, entah belum sempat dibuatkan marka jalan atau memang uang untuk mengecat garis putih panjang itu telah digunakan seseorang untuk membuat tertawa orang lain yang cukup penting atau cukup berarti. Dalam malam gelap seperti ini jelas hal itu berbahaya, sungguh melelahkan bagi Didik untuk terus sepenuh perhatian menunggu kesempatan untuk sekadar mengendurkan sedikit kewaspadaannya. Bahkan jalanan pun seperti tak mengizinkan aku menikmati perjalanan pulang ini.
Kami bertiga di dalam mobil ini, tetapi tak ada daya hidup yang meu memenuhi udara dingin di antara kami. Pakdhe Hadi sepertinya terlelap dan enggan mempedulikan kesadaran Didik. Membiarkan Didik sendirian membawa kami lebih dekat pada tempat di mana aku biasa memerangkap diri dalam selimut kemalasan, membiarkan diri dikuasai nyamannya tempat tidur. Aku suka membuat diri terlena dan menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang jahat dan mampu melukai mataku, maka aku mengerut bersama khayalan di bawah atap seng yang membohongiku setiap kali aku merasa harus bangun, keremangan di mana-mana selalu berhasil membujukku mematung dan melesak lebih dalam di permukaan kasur yang mengembung pada pinggir-pinggirnya.
Pada akhirnya jalan hitam serta gelap itu berakhir juga. Habis di bibir teluk yang lebar memangsa waktu dan daya manusia yang ingin melompat ke daratan di seberang sana menjemput kemalasan yang melimpah diwartakan setan. Dengan merayap seperti sloth, mobil kami kemudian masuk ke dalam lambung sebuah kapal feri yang besinya sudah tua. Cat-catnya bengak tergusur oleh lubang udara yang terjadi oleh karat yang semakin tua menggerogoti besi pejal dibaliknya, menyembul seperti gundukan tanah dari makam seseorang yang baru dikuburkan siang tadi. Bau garam yang biasanya nikmat di lidah berubah menjadi amis dan menjijikkan bagi hidung dan paru-paruku. Aku turun dari mobil. Bermaksud untuk mencari angin malam berbau garam dan dingin di tingkat atas, aku berjalan miring menghindari untuk tidak terpapar permukaan mengilap dan lengket cat dinding lambung kapal seolah ada noda ataupun bakteri yang barangkali bisa menulari kerentaan kapal ini padaku. Aku agak takut saat harus melewati anak-anak tangga yang begitu sinis padaku. Rentang tangga itu tidak panjang dengan lebar yang tidak ramah bagi orang berpantat penuh. Setelah bersusah payah membawa badan kepada ruangan berangin kencang, kemudian aku mencari tempat yang menurutku nyaman untuk duduk.
Ruangan setengah tertutup itu lengang, seperti goa di sebuah bukit batu. Baunya sama seperti bau amis di dek bawah. Hanya ada bangku-bangkku kesepian yang permukaannya dingin. Kursi-kursi plastik itu seperti rerumputan di musim kemarau, payah dan compang-camping. Bahkan muka penjual makanan di gerai butut dekat tangga tampak mengantuk, matanya cekung, berwarna gelap bundar, tak terawat. Lelaki penjual mie instan itu tampaknya tidak memiliki persediaan senyum lagi, barangkali senyum-senyum itu sudah ia habiskan untuk orang-orang berseragam yang penuh bau keringat, atau pergi mengikuti angin karena tak tahan dikurung di balik petak kecil yang di batasi oleh gerai butut tadi.
Aku berjalan ke kursi berwarna biru gelap di bagian belakang, jauh dari bau mulut manusia. Aku keluarkan telepon selulerku dari kantong tas yang kotor oleh debu. Garis-garis pendek di sudut atas layar telepon selulerku yang sombong tak memuaskan aku. Dalam gerak orang yang kalah aku memencet nomor kontak di phone book. Setelah nada sambung yang menjengkelkan kemudian penghitung waktu di layar teleponku mulai berjalan. Aku memasang headset, dan mulai mendengarkan dengus napas di seberang sana, tanpa suara. Tanpa memedulikan penjelasan yang mungkin seharusnya ingin ia dengar aku mengucapkan maaf. Aku tak peduli akan serapah apa yang mungki ia mampu tujukan padaku, aku bertekad untuk menyerah, melayani semua tuduhannya tanpa bantahan. Kemudian, seiring dengan angin berbau tanah di seberang yang menyapu bau garam dari hidungku, barangkali ia lelah, lalu mulai tersenyum. Aku mendengar senyum yang manis sekali dari suara feminim di sebarang sana. Lalu, seolah kapal melaju dengan daya hidup yang sempurna, riak besar berkecipak dengan riang di bawah sana. Dan penderitaan di bahuku lenyap begitu saja. Tawa dalam suaranya yang merdu benar benar mengangkat kemurungan dari mataku. Kemudian bintang-bintang muncul dengan sopan di hamparan langit, di sana, di sebelah utara, penuh kepercayaan diri memamerkan bintang terindahnya di langit utara.
Tiba-tiba aku rindu pada kasurku yang hangat, aku ingin lelap, mengunjungi mimpi yang baik hati, menyapa hari esok.

Kamis, 31 Oktober 2013

Buku Nh. Dini pertamaku



Judul            : Namaku Hiroko
Penulis         : Nh. Dini
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  : cetakan kesembilan, mei 2009
ISBN             : 978-979-655-587-1


Namaku Hiroko, adalah buku Nh. Dini pertama yang kubaca. Waktu itu sebenarnya aku mencari buku Nh. Dini yang lain, Pada Sebuah Kapal, tapi karena justru buku ini yang aku temukan, akhirnya tetap aku ambil. Dan agak takjubnya, buku 247 halaman ini selesai dalam 3 hari saja. Dan itu aneh buatku.


Namaku Hiroko adalah sebuah buku tentang seorang gadis desa yang dibesarkan dalam sopan santun keluarga yang taat. Hiroko muda adalah gadis desa yang lugu dan terbiasa hidup keras. Seorang perempuan desa yang hanya lulusan sekolah dasar. Hidup bersama seorang ayah, ibu tiri, dan dua orang adik lelaki. Ayahnya petani, ibu tirinya baik hati, dan kedua adik lelakinya adalah pangeran di rumah mereka. Dalam budaya jepang, di buku ini, betapa anak lelaki hidup dengan manja, tidak seperti anak perempuan yang justru dituntut lebih bekerja keras, dari sinilah Hiroko mulai tumbuh.

Perjalanan hidup Hiroko dimulai saat Hiroko disuruh tanpa kata oleh ayahnya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Dalam masa Hiroko menjadi pembantu inilah Hiroko kemudian mengetahui kehidupan yang menurut Hiroko lebih baik. Hiroko mengenal kebersihan dan kerapihan, sebuah rumah yang bersih dan rapi kemudian menjadi sebuah rumah yang ia inginkan, tidak seperti rumah ayahnya di desa. Pada suatu hari, nenek Hiroko meninggal, Hiroko kemudian terpaksa pergi dari rumah tempat ia bekerja. Ketika Hiroko masih di desa, Hiroko kemudian mendapat kabar dari majikannya bahwa ia tak perlu kembali bekerja, sudah ada orang lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama di rumah, Hiroko selalu mendambakan rumah yang lebih baik untuk tinggal.

Lalu, Hiroko bertemu dengan Tomiko, yang bekerja di kota Kansai, yang ada di pulau lain dari Kyushu, pulau tempat mereka tinggal. Setelah sepakat akan dicarikan pekerjaan di Kansai, Hiroko pun pergi turut dengan Hiroko ke Kansai. Selama perjalanan ke Kansai, Hiroko kemudian melihat Tomiko sebagai orang yang melekat ke dalam pikirannya sebagai orang panutannya. Selama belum bekerja, Hiroko untuk sementara tinggal berama Tomiko di rumah majikan Tomiko. Di sana, Hiroko bertemu dengan Emiko, salah seorang yang kemudian Hiroko belajar banyak hal darinya. Juga Michiko, seorang perempuan yang bekerja di kabaret. Dari merekalah kemudian Hiroko mulai belajar tentang hidup yang ia ingini.

Hiroko mendapatkan pekerjaan pertamanya di rumah sebuah keluarga kecil, suami istri yang mempunyai seorang anak balita. Dan dari rumah ini pulalah Hiroko mengenal cinta. Adalah Sanao, adik lelaki dari nyonya rumahnya, yang mengenalkan Hiroko pada tahap hidup yang ia anggap sebagai tahap ia melangkah ke dunia orang dewasa. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama, karena Sanao harus mengakhiri kunjungannya ke rumah kakak perempuannya dan pulang kembali ke Yokohama. Kemudian, Hiroko keluar dari rumah tempat ia bekerja saat tuannya melakukan hal-hal lebih yang ia—sebagai orang desa yang polos dan pembantu rumah tangga kedudukkannya—tidak bisa tolak. Hiroko memilih keluar dari rumah itu dengan dibantu Tomiko.

Selepas itu, nasib membawa Hiroko menjadi seorang pegawai toko besar. Di tempat itu Hiroko bertemu dengan Nakajima-san, atasannya, yang darinya Hiroko melengkapi dirinya menjadi seorang perempuan yang tahu apa yang ia inginkan. Hiroko berubah dari gadis desa menjadi perempuan kota yang komplit. Didorong oleh kehidupannya yang miskin di desa, Hiroko kemudian bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, punya hidup yang terjamin dan tentu saja kebebasan. Hiroko menyukai uang, namun tak sampai mendewakan uang. Meski sempat terjebak pada hal yang tak ia inginkan, Hiroko mampu berlepas diri dari hal yang mungkin bisa dibilang menjual prinsip hidupnya, dan Hiroko pada akhirnya tidak sudi menjual hidupnya demi uang.

Kisah hidup Hiroko kemudian berlanjut menjadi rumit, terutama perihal lelaki yang ia anggap  sebagai kekasih. Tapi Hiroko sudah matang, Hiroko tahu apa yang ia inginkan, dan barangkali, novel ini telah selesai bagi saya di sini.

Dengan tulisan yang ringan dan rapi, Nh. Dini sungguh memukau dengan menyajikan sebuah cerita yang memikat hati saya. Sebuah buku yang harus anda baca. Setelah buku ini, maka saya tidak akan heran jika pada akhirnya nanti, saya takkan kapok membaca tulisan Nh. Dini yang lain. Jadi, selamat membaca!

Review Burung-burung Manyar


Judul : Burung-Burung Manyar
Penulis : Y. B. Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tahun terbit : 1999, cetakan kedelapan
ISBN : 979-428-358-4


Saya termasuk orang yang tidak peduli dengan cover buku, jadi saya tidak akan membahas cover buku ini. Judul, selain cover, juga bukanlah hal yang membuat saya tertarik pada sebuah buku atau tidak.
Buku ini terbagi atas tiga bagian, bagian pertama menceritakan peristiwa antara tahun 1934-1944, lalu bagian kedua menceritakan peristiwa antara tahun 1945-1950, dan bagian ketiga menceritakan peristiwa antara tahun 1968-1978.


Bagian pertama, seperti kita tahu, tahun 1934-1944 adalah tahun sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Bagian pertama buku ini menceritakan masa kecil Teto dan Atik, tokoh Utama buku ini. Teto, atau yang mempunyai nama asli Setadewa, adalah anak dari seorang ningrat Jawa yang menjadi seorang Letnan KNIL, yang lahir dari rahim seorang perempuan Belanda. Sementara Atik, Larasati, anak dari ibu yang masih punya hubungan dengan lingkungan keraton, dan seorang ayah dari rakyat, bukan keturunan ningrat Jawa. Pada bagian pertama ini diceritakan bagaimana Teto dan Atik tumbuh dalam dunia yang berbeda. Teto, yang Papi dan Maminya yang kental dengan pengaruh dari Belanda, tumbuh dengan menjalani kehidupan anak kolong, yang sedikit banyak kemudian mempengaruhi bagaimana Teto memandang hidup. Sementara Atik, tumbuh menjadi perempuan berpendidikan yang bisa dibilang perempuan modern, namun tetap tidak melupakan akar budayanya sendiri.

Pada bagian kedua buku ini, menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di rentang tahun 1945-1950. Diceritakan bagaimana peristiwa selama masa kemerdekaan mengubah kehidupan Teto dan Atik secara drastis, dan bertolak belakang. Teto, yang menaruh kebencian kepada Jepang, yang telah merenggut keluarganya, kemudian menjadi tentara KNIL, melawan republik yang menurut pemahamannya adalah sekutu Hepang. Sementara Atik yang berpendidikan baik, berdiri di pihak republik.

Di bagian ketiga buku ini, diceritakan Teto dan Atik pada usia matang mereka. Ah, sebaiknya saya tak bicara terlalu banyak tentang bagian ketiga ini, tidak adil rasanya kalau saya bicara terlalu banyak, saya takut bahwa ada kemungkinan saya merenggut keasyikan membaca buku ini.

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1981, dari sana saya kemudian menjadi maklum dengan begitu banyaknya kata-kata yang masih menggunakan bahasa Jawa dan Belanda. Tapi tak menjadi soal, sebab ada banyak catatan kaki seandainya tidak paham dengan beberapa kata bukan dalam bahasa Indonesia. Dengan ejaan dan tata bahasa yang belum menggunakan EYD bahasa Indonesia mutakhir, hal itu justru membuat saya menikmati bahasa yang digunakan penulis, seperti juga saya menikmati tulisan-tulisan klasik penulis Indonesia.



kamisan #6 insomnia - lanturan lelaki tengah malam


Lampu kamar masih menyala terang, tiada lelah melawan malam. Sinarnya yang putih menerangi langit-langit kamar dimana aku sering menggantungkan angan. Di sudut sana, di atas pintu kamar, terdapat noda kuning yang melebar bekas air hujan musim hujan tahun lalu. Nodanya tampak masih muda. Aku suka melukis bermacam khayalan di sana, mulai  dari wajah perempuan ercantik yang mampu aku inginkan hingga tentang masa depan yang tak jauh dari hal-hal Wah yang sering aku lihat di dalam layar televisi. Barangkali, dalam kubangan kecil warna kuning pudar itu terkumpul seluruh hidupku, kini maupun nanti.

Alunan lembut musik dari laptop yang sedari tadi menyala membangunkanku dari lamunan. Sebuah lagu syahdu terlantun dari suara Monita yang mengcover lagu keliru yang dulu dipopulerkan Ruth Sahanaya. Dengan cara yang aneh lagu itu membawaku larut dalam memori lama tentang kisah asmaraku yang telah lama mati. Entah kenapa aku teringat pada sosok Ira kembali muncul dibenakku. Sebenarnya, kalau aku pikir-pikir lagi, tak ada yang terlalu istimewa dari Ira. Ira adalah gadis lugu yang sempat mengisi hariku dengan senyum malu-malunya setelah aku berlepas dari bayangan cinta pertamaku. Ira sempat lama menjadi bagian cerita hidupku yang kurasa tak bisa terlalu kubanggakan. Tidak ada yang cukup mampu kuingat darinya kecuali senyum tipisnya saat aku goda dengan pujian yang sengaja kuucapkan untuk membuatnya senang. Dan kenyataan bahwa Ira menyukai Ruth Sahanaya adalah kemungkinan paling masuk akal yang membuatnya muncul dipikiranku malam ini. Secepat itu dia datang, secepat itu pula sosoknya pudar bersama selesainya lagu Monita di laptop.

Layar laptop tampak bosan memamerkan tugas yang masih setia menunggu untuk kuselesaikan. Namun aku sendiri justru yang tak bergairah untuk menyentuhnya. Ada yang lelah di diriku menghadapi layar laptop terus-terusan. Aku sudah lupa kapan terakhir aku memanjakan diri. Ada agenda atau mungkin lebih tepat bisa dibilang wacana, hendak pergi ke lombok yang sudah kuangankan semenjak tahun lalu, tetapi masih belum terwujud juga hingga hari ini. Akhir-akhir ini terasa sekali kalau aku sudah tak bisa menikmati hari-hariku, entah kenapa. Ada yang kurang atau hilang atau apalah itu namanya, seringkali ada perasaan hampa setiap kali aku melakukan hal-hal yang pada hari biasanya seringkali membuatku tersenyum dan merasa ceria, tapi kini tidak lagi. Aku sendiri tak pernah berhasil mengidentifikasi jenis perasaan itu, apa yang salah, apa yang sebenarnya hilang dari diriku. Jenuh, jenuh pada rutiniitas harian yang sudah otomatis, terikat keteraturan, barangkali. Ah, mungkin refreshing itu memang perlu!

Sebuah jam keramik pemberian teman yang berdiri diam di sebelah layar laptop tiba-tiba menarik perhatianku, mengalihkan pandanganku. Sebuah logo klub sepakbola kesayanganku terpampang manja tepat ditengahnya, tertindih jarum-jarum yang bergerak teratur dan mengkultuskan diri sebagai panutan waktu. Warnanya merah menyala, dengan gambar meriam di atasnya. Jam itu adah jam pemberian seorang teman sebagai hadiah ulang tahunku. Seorang teman yang tergabung dalam komunitas penggemar klub sepakbola yang sama denganku. Seorang teman yang aku temukan di jejaring sosial. Karir pertemananku dengannya sungguh memuaskan, bisa dibilang istimewa. Meskipun hanya sekilas lintas bertemu di dunia maya, aku sudah bisa dengan sombong menyebutnya saudaraku, entah jika itu dari pihaknya. Hanya saja aku sudah memutuskan bahwa ia adalah orang yang pantas untuk aku sebut saudara. Sepele saja, pada suatu malam ketika aku sedang berada di kotanya dalam perjalanan pulangku dari rumah seorang teman di semarang waktu itu, dalam kondisi lelah dan sudah kemalaman, dengan mudahnya dia bilang untuk tidur di rumahnya. Dan cara dia serta keluarganya memperlakukan aku kala itu sungguh tidak memalukan untuk dikenang. Yah, engkau tidak tahu siapa saja yang mungkin mau menganggapmu sebagai seorang teman atau saudara, bahkan mungkin musuh.

Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, dan aku belum mampu tertidur. Sudah tiga gelas kopi yang tandas menemani malam ini. Seharusnya aku tak perlu heran bukan kenapa aku masih terjaga? Ah, besok masih ada kerja tetapi hingga saat ini aku masih belum ada akal untuk menidurkan diri. Mataku sepertinya jenis mata yang tengah tidak disukai apa yang biasa disebut kantuk itu. Tak peduli sekuat apapun aku meniatkan diri untuk tidur, setiap aku menutup mata selalu saja kelopak mataku berubah menjadi layar bioskop yang memutar film yang disutradarai dan dikehendaki pikiran. Pikiranku terlalu kreatif, itu kata seorang teman yang suka meremehkan kemampuan tidurku. Disuruhnya aku mencari seorang teman tidur, seseorang yang cukup tabah untku aku panggil istri. Biasanya, aku hanya tertawa saja menanggapi gurauan serius temanku itu. Jujur saja, aku masih belum berani memikirknkehidupan berumah tangga. Ah mungkin bkan belum berani, Cuma belum ada bayangan dalam pikiranku perihal pernikahan. Itu bukan alasan, sungguh, aku bilang dengan kesungguhan hati. Namun bila engkau bilang itu hanya alasanku saja, lalu apa hakku untuk melarang anggapan-anggapan itu? Mentang-mentang pikiran itu bukan Cuma pikiran satu atau dua orang, tidak berarti pendapat banyak orang adalah pendapat yang paling benar, bukan? Tetapi, kupikir lagi, buat apa aku memikirkan hal itu, yah barangkali hal itu sama pentingnya dengan perihal pernikahan, tetapi kiranya bukan itu yang perlu aku khawatirkan saat ini. Belum!

Nah dengar, adzan Subuh sudah berkumandang. Sebaiknya aku segera mengambil air wudlu, ada hutang tidur yang harus kukejar setelah selesai dua raka’at. Semoga masih ada berkah tidur untukku. Nah selamat pagi, dan jangan lupa doakan aku untuk nikmat tidur yang semoga masih tersisa untukku, jika manusia tak terlalu tamak dan rela menyisakan barang secuil nikmat itu untukku, ah engkau tahu itu hanya harapan. Atau bangunkan aku jam tujuh, itu lebih berguna bagiku, kiranya! Nah selamat pagi, selamat merayakan hari.

Kamis, 24 Oktober 2013

kamisan #5 Lupa - Urusan Sepele Tentang KTP


Hendra berjalan cepat menghindari terik matahari. Rumah Pak RT sudah tampak di ujung jalan. Temboknya yang berwarna putih mengilap terlihat seperti mengejek pohon pisang kepok yang tumbuh di halaman depan. Daun-daun pohon pisang itu compang-camping. Hendra berhenti dalam jarak satu langkah dari rumpun pohon pisang itu, mengatur nafas dan menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan. Kemudian, dengan langkah teguh Hendra mulai mendekati rumah itu.

Hendra mengetuk pintu, mengucap salam. Sambil memandang celana panjang miliknya, Hendra tersenyum setelah memastikan lipatan celananya tak rusak. Terbayang sudah pekerjaan yang telah dijanjikan Karyo di kota. Sebentar lagi Hendra akan mampu membelikan emaknya baju baru untuk lebaran tahun ini. Pintu dibuka dari dalam, wajah Pak RT yang keras muncul dari balik pintu, keningnya berkilat seperti bekas keringat yang mengering.

"Eh kamu Hen, mari masuk"
"Iya, Pak. Maaf mengganggu istirahat Bapak."
"Ah tidak apa-apa. Mari silahkan duduk." Hendra duduk di kursi yang menghadap Pak RT. "Jadi, ada urusan apa?"
"Ini Pak, saya mau mengambil KTP." jawab hendra dengan sudur bibir yang ditarik keatas.

"Ah iya, soal itu. Ini tadi Bapak sedang terburu-buru Hen, jadi Bapak kelupaan untuk membawa KTPmu, masih di kelurahan. Besok lah kamu ambil kemari lagi." sahut Pak RT sambil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Senyumnya tipis terangkat tanpa beban.

Hendra diam, tatapannya jatuh ke meja kayu di antara mereka.

"Nah begitu saja ya Hen, saya ambilkan KTP-mu besok." ulang Pak RT mencoba menegaskan.
"Iya, Pak. Saya ke sini lagi besok." jawab Hendra datar. Hendra bangkit dari duduknya. "Maaf, Pak, sudah mengganggu istirahatnya. Terima kasih."

Sekonyong-konyong Hendra gelisah sendiri, langkah kakinya cepat dan panjang-panjang. Pikirannya melayang, sudah terlambat kalau ia berangkat ke kelurahan sekarang, kelurahan sudah tutup saat ia sampai nanti. Satu-satunya harapan Hendra adalah Karyo yang saat ini menunggu di warung mbok Darmi. Hendra melangkah cepat lewat jalan terdekat yang ia tahu.

Karyo masih duduk di kursi panjang warung Mbok Darmi. Karyo meletakkan gelas kopinya yang masih sisa setengah. Tersenyum panjang melihat Hendra datang. Tapi saat melihat Hendra tak membalas senyumnya, Karyo buru-buru menyembunyikan bekas senyumnya. Raut wajahnya menjadi serius.

"Yo, Pak RT lupa membawa KTPku." Hendra langsung menyudutkan Karyo dengan kabar KTP itu.

Karyo mengerutkan keningnya, agak lama tak langsung menanggapi berita itu. Karyo menenggak sisa kopinya sebelum bicara "Bagaimana kalau kita ke kelurahan sekarang?"
"Terlambat Yo, kalaupun kita berangkat sekarang, kelurahan sudah tutup saat kita sampai nanti."
"Bangsat memang Pak RT-mu itu!"

"Apa tidak bisa kau tunda sehari keberangkatanmu?" Tanya Hendra menaruh harap.
"Tidak bisa Hen, kalau aku berangkat besok, jangankan kamu, bisa-bisa aku tak punya pekerjaan."
"Bagaimana kalau aku tetap ikut berangkat hari ini?"
"Tanpa KTP?" Hendra mengangguk. "Tidak bisa Hen, mandorku takkan mau mempekerjakanmu tanpa KTP. Kau lihat sendiri kan di berita tentang razia KTP di jakarta?"
"Jadi bagaimana?"
Karyo menepuk bahu Hendra. "Apa boleh buat Hen, tahun depan saja kau ikut aku."

Karyo membayar kopinya lalu meninggalkan Hendra di warung. [ ]