Kamis, 07 November 2013

kamisan #7 melankholia - saat engkau mengecewakan seseorang


Malam ini bulan tampak begitu pucat. Sinarnya jatuh tanpa gairah memenuhi ruang pandangku. Jalanan sepi, aspal jalan yang hitam menambah muram kesunyian.
Aku sering bilang bahwa aku sudah tidak punya hati lagi, tapi semalam aku merasakan ada yang teriris-iris di dadaku. Memang aku tidak bisa memastikan bahwa yang tengah teriris itu hatiku. Namun aku tak mampu mencari tahu bahwa itu bisa jadi adalah hal lain.
Aku (lagi-lagi) telah mengecewakan seseorang. Sepertinya aku memang berbakat sekali  tentang hal itu. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasinya?
Aku bahkan tengah dalam perjalanan kembali dari kerja ketika aku tahu bahwa aku telah mengecewakan seseorang. Menggigil oleh kegunaan pendingin udara yang dinyalakan untuk mengusir embun pada kaca mobil, aku duduk termenung di kabin belakang mobil, memenggengam telepon seluler yang baru saja mendapat sinyal dari tower relay dan menyampaikan padaku pesan-pesan secara bertubi-tubi dengan barisan huruf kecil yang terserak dan muncul leher serta kaki yang memanjang karena mengambil tempat begitu banyak dan hanya menyisakan sedikit tempat untukku bernapas. Kaca mobil yang dilapisi plastik film tak memberiku banyak kesempatan untukku mencari pemandangan nyata bagi kedua mataku yang lelah, telah lebih dari 10 jam aku berada di dalam mobil ini. Lelah, kursi mobil yang longgar dan berlapis kulit sungguh tak mampu menggairahkan kantukku. Aku tak  bernafsu untuk melampiaskan niatku beristirahat di atas permukaan kulit mati dan berbau keringat itu. Duduk murung sembari mengalihkan perhatiannku darilayar telepon seluler.
Didik, lelaki beranak satu yang jauh dari istri yang barangkali tengah menyusui bayi kecilnya itu tampak serius memandangi ujung cahaya lampu depan berwarna kuning yang seolah berlari menjauh dari kami. Tak ada nyanyian atau celoteh panjang yang biasa ia lontarkan untuk menjaga kesiagaannya agar mobil tak memberontak dan lari ke bahu jalan aspal yang tak mempunyai marka jalan. Aspalnya baru, entah belum sempat dibuatkan marka jalan atau memang uang untuk mengecat garis putih panjang itu telah digunakan seseorang untuk membuat tertawa orang lain yang cukup penting atau cukup berarti. Dalam malam gelap seperti ini jelas hal itu berbahaya, sungguh melelahkan bagi Didik untuk terus sepenuh perhatian menunggu kesempatan untuk sekadar mengendurkan sedikit kewaspadaannya. Bahkan jalanan pun seperti tak mengizinkan aku menikmati perjalanan pulang ini.
Kami bertiga di dalam mobil ini, tetapi tak ada daya hidup yang meu memenuhi udara dingin di antara kami. Pakdhe Hadi sepertinya terlelap dan enggan mempedulikan kesadaran Didik. Membiarkan Didik sendirian membawa kami lebih dekat pada tempat di mana aku biasa memerangkap diri dalam selimut kemalasan, membiarkan diri dikuasai nyamannya tempat tidur. Aku suka membuat diri terlena dan menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang jahat dan mampu melukai mataku, maka aku mengerut bersama khayalan di bawah atap seng yang membohongiku setiap kali aku merasa harus bangun, keremangan di mana-mana selalu berhasil membujukku mematung dan melesak lebih dalam di permukaan kasur yang mengembung pada pinggir-pinggirnya.
Pada akhirnya jalan hitam serta gelap itu berakhir juga. Habis di bibir teluk yang lebar memangsa waktu dan daya manusia yang ingin melompat ke daratan di seberang sana menjemput kemalasan yang melimpah diwartakan setan. Dengan merayap seperti sloth, mobil kami kemudian masuk ke dalam lambung sebuah kapal feri yang besinya sudah tua. Cat-catnya bengak tergusur oleh lubang udara yang terjadi oleh karat yang semakin tua menggerogoti besi pejal dibaliknya, menyembul seperti gundukan tanah dari makam seseorang yang baru dikuburkan siang tadi. Bau garam yang biasanya nikmat di lidah berubah menjadi amis dan menjijikkan bagi hidung dan paru-paruku. Aku turun dari mobil. Bermaksud untuk mencari angin malam berbau garam dan dingin di tingkat atas, aku berjalan miring menghindari untuk tidak terpapar permukaan mengilap dan lengket cat dinding lambung kapal seolah ada noda ataupun bakteri yang barangkali bisa menulari kerentaan kapal ini padaku. Aku agak takut saat harus melewati anak-anak tangga yang begitu sinis padaku. Rentang tangga itu tidak panjang dengan lebar yang tidak ramah bagi orang berpantat penuh. Setelah bersusah payah membawa badan kepada ruangan berangin kencang, kemudian aku mencari tempat yang menurutku nyaman untuk duduk.
Ruangan setengah tertutup itu lengang, seperti goa di sebuah bukit batu. Baunya sama seperti bau amis di dek bawah. Hanya ada bangku-bangkku kesepian yang permukaannya dingin. Kursi-kursi plastik itu seperti rerumputan di musim kemarau, payah dan compang-camping. Bahkan muka penjual makanan di gerai butut dekat tangga tampak mengantuk, matanya cekung, berwarna gelap bundar, tak terawat. Lelaki penjual mie instan itu tampaknya tidak memiliki persediaan senyum lagi, barangkali senyum-senyum itu sudah ia habiskan untuk orang-orang berseragam yang penuh bau keringat, atau pergi mengikuti angin karena tak tahan dikurung di balik petak kecil yang di batasi oleh gerai butut tadi.
Aku berjalan ke kursi berwarna biru gelap di bagian belakang, jauh dari bau mulut manusia. Aku keluarkan telepon selulerku dari kantong tas yang kotor oleh debu. Garis-garis pendek di sudut atas layar telepon selulerku yang sombong tak memuaskan aku. Dalam gerak orang yang kalah aku memencet nomor kontak di phone book. Setelah nada sambung yang menjengkelkan kemudian penghitung waktu di layar teleponku mulai berjalan. Aku memasang headset, dan mulai mendengarkan dengus napas di seberang sana, tanpa suara. Tanpa memedulikan penjelasan yang mungkin seharusnya ingin ia dengar aku mengucapkan maaf. Aku tak peduli akan serapah apa yang mungki ia mampu tujukan padaku, aku bertekad untuk menyerah, melayani semua tuduhannya tanpa bantahan. Kemudian, seiring dengan angin berbau tanah di seberang yang menyapu bau garam dari hidungku, barangkali ia lelah, lalu mulai tersenyum. Aku mendengar senyum yang manis sekali dari suara feminim di sebarang sana. Lalu, seolah kapal melaju dengan daya hidup yang sempurna, riak besar berkecipak dengan riang di bawah sana. Dan penderitaan di bahuku lenyap begitu saja. Tawa dalam suaranya yang merdu benar benar mengangkat kemurungan dari mataku. Kemudian bintang-bintang muncul dengan sopan di hamparan langit, di sana, di sebelah utara, penuh kepercayaan diri memamerkan bintang terindahnya di langit utara.
Tiba-tiba aku rindu pada kasurku yang hangat, aku ingin lelap, mengunjungi mimpi yang baik hati, menyapa hari esok.

Kamis, 31 Oktober 2013

Buku Nh. Dini pertamaku



Judul            : Namaku Hiroko
Penulis         : Nh. Dini
Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit  : cetakan kesembilan, mei 2009
ISBN             : 978-979-655-587-1


Namaku Hiroko, adalah buku Nh. Dini pertama yang kubaca. Waktu itu sebenarnya aku mencari buku Nh. Dini yang lain, Pada Sebuah Kapal, tapi karena justru buku ini yang aku temukan, akhirnya tetap aku ambil. Dan agak takjubnya, buku 247 halaman ini selesai dalam 3 hari saja. Dan itu aneh buatku.


Namaku Hiroko adalah sebuah buku tentang seorang gadis desa yang dibesarkan dalam sopan santun keluarga yang taat. Hiroko muda adalah gadis desa yang lugu dan terbiasa hidup keras. Seorang perempuan desa yang hanya lulusan sekolah dasar. Hidup bersama seorang ayah, ibu tiri, dan dua orang adik lelaki. Ayahnya petani, ibu tirinya baik hati, dan kedua adik lelakinya adalah pangeran di rumah mereka. Dalam budaya jepang, di buku ini, betapa anak lelaki hidup dengan manja, tidak seperti anak perempuan yang justru dituntut lebih bekerja keras, dari sinilah Hiroko mulai tumbuh.

Perjalanan hidup Hiroko dimulai saat Hiroko disuruh tanpa kata oleh ayahnya menjadi seorang pembantu rumah tangga. Dalam masa Hiroko menjadi pembantu inilah Hiroko kemudian mengetahui kehidupan yang menurut Hiroko lebih baik. Hiroko mengenal kebersihan dan kerapihan, sebuah rumah yang bersih dan rapi kemudian menjadi sebuah rumah yang ia inginkan, tidak seperti rumah ayahnya di desa. Pada suatu hari, nenek Hiroko meninggal, Hiroko kemudian terpaksa pergi dari rumah tempat ia bekerja. Ketika Hiroko masih di desa, Hiroko kemudian mendapat kabar dari majikannya bahwa ia tak perlu kembali bekerja, sudah ada orang lain yang menggantikan pekerjaannya. Selama di rumah, Hiroko selalu mendambakan rumah yang lebih baik untuk tinggal.

Lalu, Hiroko bertemu dengan Tomiko, yang bekerja di kota Kansai, yang ada di pulau lain dari Kyushu, pulau tempat mereka tinggal. Setelah sepakat akan dicarikan pekerjaan di Kansai, Hiroko pun pergi turut dengan Hiroko ke Kansai. Selama perjalanan ke Kansai, Hiroko kemudian melihat Tomiko sebagai orang yang melekat ke dalam pikirannya sebagai orang panutannya. Selama belum bekerja, Hiroko untuk sementara tinggal berama Tomiko di rumah majikan Tomiko. Di sana, Hiroko bertemu dengan Emiko, salah seorang yang kemudian Hiroko belajar banyak hal darinya. Juga Michiko, seorang perempuan yang bekerja di kabaret. Dari merekalah kemudian Hiroko mulai belajar tentang hidup yang ia ingini.

Hiroko mendapatkan pekerjaan pertamanya di rumah sebuah keluarga kecil, suami istri yang mempunyai seorang anak balita. Dan dari rumah ini pulalah Hiroko mengenal cinta. Adalah Sanao, adik lelaki dari nyonya rumahnya, yang mengenalkan Hiroko pada tahap hidup yang ia anggap sebagai tahap ia melangkah ke dunia orang dewasa. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama, karena Sanao harus mengakhiri kunjungannya ke rumah kakak perempuannya dan pulang kembali ke Yokohama. Kemudian, Hiroko keluar dari rumah tempat ia bekerja saat tuannya melakukan hal-hal lebih yang ia—sebagai orang desa yang polos dan pembantu rumah tangga kedudukkannya—tidak bisa tolak. Hiroko memilih keluar dari rumah itu dengan dibantu Tomiko.

Selepas itu, nasib membawa Hiroko menjadi seorang pegawai toko besar. Di tempat itu Hiroko bertemu dengan Nakajima-san, atasannya, yang darinya Hiroko melengkapi dirinya menjadi seorang perempuan yang tahu apa yang ia inginkan. Hiroko berubah dari gadis desa menjadi perempuan kota yang komplit. Didorong oleh kehidupannya yang miskin di desa, Hiroko kemudian bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpinya, punya hidup yang terjamin dan tentu saja kebebasan. Hiroko menyukai uang, namun tak sampai mendewakan uang. Meski sempat terjebak pada hal yang tak ia inginkan, Hiroko mampu berlepas diri dari hal yang mungkin bisa dibilang menjual prinsip hidupnya, dan Hiroko pada akhirnya tidak sudi menjual hidupnya demi uang.

Kisah hidup Hiroko kemudian berlanjut menjadi rumit, terutama perihal lelaki yang ia anggap  sebagai kekasih. Tapi Hiroko sudah matang, Hiroko tahu apa yang ia inginkan, dan barangkali, novel ini telah selesai bagi saya di sini.

Dengan tulisan yang ringan dan rapi, Nh. Dini sungguh memukau dengan menyajikan sebuah cerita yang memikat hati saya. Sebuah buku yang harus anda baca. Setelah buku ini, maka saya tidak akan heran jika pada akhirnya nanti, saya takkan kapok membaca tulisan Nh. Dini yang lain. Jadi, selamat membaca!

Review Burung-burung Manyar


Judul : Burung-Burung Manyar
Penulis : Y. B. Mangunwijaya
Penerbit : Djambatan
Tahun terbit : 1999, cetakan kedelapan
ISBN : 979-428-358-4


Saya termasuk orang yang tidak peduli dengan cover buku, jadi saya tidak akan membahas cover buku ini. Judul, selain cover, juga bukanlah hal yang membuat saya tertarik pada sebuah buku atau tidak.
Buku ini terbagi atas tiga bagian, bagian pertama menceritakan peristiwa antara tahun 1934-1944, lalu bagian kedua menceritakan peristiwa antara tahun 1945-1950, dan bagian ketiga menceritakan peristiwa antara tahun 1968-1978.


Bagian pertama, seperti kita tahu, tahun 1934-1944 adalah tahun sebelum masa kemerdekaan Indonesia. Bagian pertama buku ini menceritakan masa kecil Teto dan Atik, tokoh Utama buku ini. Teto, atau yang mempunyai nama asli Setadewa, adalah anak dari seorang ningrat Jawa yang menjadi seorang Letnan KNIL, yang lahir dari rahim seorang perempuan Belanda. Sementara Atik, Larasati, anak dari ibu yang masih punya hubungan dengan lingkungan keraton, dan seorang ayah dari rakyat, bukan keturunan ningrat Jawa. Pada bagian pertama ini diceritakan bagaimana Teto dan Atik tumbuh dalam dunia yang berbeda. Teto, yang Papi dan Maminya yang kental dengan pengaruh dari Belanda, tumbuh dengan menjalani kehidupan anak kolong, yang sedikit banyak kemudian mempengaruhi bagaimana Teto memandang hidup. Sementara Atik, tumbuh menjadi perempuan berpendidikan yang bisa dibilang perempuan modern, namun tetap tidak melupakan akar budayanya sendiri.

Pada bagian kedua buku ini, menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di rentang tahun 1945-1950. Diceritakan bagaimana peristiwa selama masa kemerdekaan mengubah kehidupan Teto dan Atik secara drastis, dan bertolak belakang. Teto, yang menaruh kebencian kepada Jepang, yang telah merenggut keluarganya, kemudian menjadi tentara KNIL, melawan republik yang menurut pemahamannya adalah sekutu Hepang. Sementara Atik yang berpendidikan baik, berdiri di pihak republik.

Di bagian ketiga buku ini, diceritakan Teto dan Atik pada usia matang mereka. Ah, sebaiknya saya tak bicara terlalu banyak tentang bagian ketiga ini, tidak adil rasanya kalau saya bicara terlalu banyak, saya takut bahwa ada kemungkinan saya merenggut keasyikan membaca buku ini.

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 1981, dari sana saya kemudian menjadi maklum dengan begitu banyaknya kata-kata yang masih menggunakan bahasa Jawa dan Belanda. Tapi tak menjadi soal, sebab ada banyak catatan kaki seandainya tidak paham dengan beberapa kata bukan dalam bahasa Indonesia. Dengan ejaan dan tata bahasa yang belum menggunakan EYD bahasa Indonesia mutakhir, hal itu justru membuat saya menikmati bahasa yang digunakan penulis, seperti juga saya menikmati tulisan-tulisan klasik penulis Indonesia.



kamisan #6 insomnia - lanturan lelaki tengah malam


Lampu kamar masih menyala terang, tiada lelah melawan malam. Sinarnya yang putih menerangi langit-langit kamar dimana aku sering menggantungkan angan. Di sudut sana, di atas pintu kamar, terdapat noda kuning yang melebar bekas air hujan musim hujan tahun lalu. Nodanya tampak masih muda. Aku suka melukis bermacam khayalan di sana, mulai  dari wajah perempuan ercantik yang mampu aku inginkan hingga tentang masa depan yang tak jauh dari hal-hal Wah yang sering aku lihat di dalam layar televisi. Barangkali, dalam kubangan kecil warna kuning pudar itu terkumpul seluruh hidupku, kini maupun nanti.

Alunan lembut musik dari laptop yang sedari tadi menyala membangunkanku dari lamunan. Sebuah lagu syahdu terlantun dari suara Monita yang mengcover lagu keliru yang dulu dipopulerkan Ruth Sahanaya. Dengan cara yang aneh lagu itu membawaku larut dalam memori lama tentang kisah asmaraku yang telah lama mati. Entah kenapa aku teringat pada sosok Ira kembali muncul dibenakku. Sebenarnya, kalau aku pikir-pikir lagi, tak ada yang terlalu istimewa dari Ira. Ira adalah gadis lugu yang sempat mengisi hariku dengan senyum malu-malunya setelah aku berlepas dari bayangan cinta pertamaku. Ira sempat lama menjadi bagian cerita hidupku yang kurasa tak bisa terlalu kubanggakan. Tidak ada yang cukup mampu kuingat darinya kecuali senyum tipisnya saat aku goda dengan pujian yang sengaja kuucapkan untuk membuatnya senang. Dan kenyataan bahwa Ira menyukai Ruth Sahanaya adalah kemungkinan paling masuk akal yang membuatnya muncul dipikiranku malam ini. Secepat itu dia datang, secepat itu pula sosoknya pudar bersama selesainya lagu Monita di laptop.

Layar laptop tampak bosan memamerkan tugas yang masih setia menunggu untuk kuselesaikan. Namun aku sendiri justru yang tak bergairah untuk menyentuhnya. Ada yang lelah di diriku menghadapi layar laptop terus-terusan. Aku sudah lupa kapan terakhir aku memanjakan diri. Ada agenda atau mungkin lebih tepat bisa dibilang wacana, hendak pergi ke lombok yang sudah kuangankan semenjak tahun lalu, tetapi masih belum terwujud juga hingga hari ini. Akhir-akhir ini terasa sekali kalau aku sudah tak bisa menikmati hari-hariku, entah kenapa. Ada yang kurang atau hilang atau apalah itu namanya, seringkali ada perasaan hampa setiap kali aku melakukan hal-hal yang pada hari biasanya seringkali membuatku tersenyum dan merasa ceria, tapi kini tidak lagi. Aku sendiri tak pernah berhasil mengidentifikasi jenis perasaan itu, apa yang salah, apa yang sebenarnya hilang dari diriku. Jenuh, jenuh pada rutiniitas harian yang sudah otomatis, terikat keteraturan, barangkali. Ah, mungkin refreshing itu memang perlu!

Sebuah jam keramik pemberian teman yang berdiri diam di sebelah layar laptop tiba-tiba menarik perhatianku, mengalihkan pandanganku. Sebuah logo klub sepakbola kesayanganku terpampang manja tepat ditengahnya, tertindih jarum-jarum yang bergerak teratur dan mengkultuskan diri sebagai panutan waktu. Warnanya merah menyala, dengan gambar meriam di atasnya. Jam itu adah jam pemberian seorang teman sebagai hadiah ulang tahunku. Seorang teman yang tergabung dalam komunitas penggemar klub sepakbola yang sama denganku. Seorang teman yang aku temukan di jejaring sosial. Karir pertemananku dengannya sungguh memuaskan, bisa dibilang istimewa. Meskipun hanya sekilas lintas bertemu di dunia maya, aku sudah bisa dengan sombong menyebutnya saudaraku, entah jika itu dari pihaknya. Hanya saja aku sudah memutuskan bahwa ia adalah orang yang pantas untuk aku sebut saudara. Sepele saja, pada suatu malam ketika aku sedang berada di kotanya dalam perjalanan pulangku dari rumah seorang teman di semarang waktu itu, dalam kondisi lelah dan sudah kemalaman, dengan mudahnya dia bilang untuk tidur di rumahnya. Dan cara dia serta keluarganya memperlakukan aku kala itu sungguh tidak memalukan untuk dikenang. Yah, engkau tidak tahu siapa saja yang mungkin mau menganggapmu sebagai seorang teman atau saudara, bahkan mungkin musuh.

Jarum jam itu sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi, dan aku belum mampu tertidur. Sudah tiga gelas kopi yang tandas menemani malam ini. Seharusnya aku tak perlu heran bukan kenapa aku masih terjaga? Ah, besok masih ada kerja tetapi hingga saat ini aku masih belum ada akal untuk menidurkan diri. Mataku sepertinya jenis mata yang tengah tidak disukai apa yang biasa disebut kantuk itu. Tak peduli sekuat apapun aku meniatkan diri untuk tidur, setiap aku menutup mata selalu saja kelopak mataku berubah menjadi layar bioskop yang memutar film yang disutradarai dan dikehendaki pikiran. Pikiranku terlalu kreatif, itu kata seorang teman yang suka meremehkan kemampuan tidurku. Disuruhnya aku mencari seorang teman tidur, seseorang yang cukup tabah untku aku panggil istri. Biasanya, aku hanya tertawa saja menanggapi gurauan serius temanku itu. Jujur saja, aku masih belum berani memikirknkehidupan berumah tangga. Ah mungkin bkan belum berani, Cuma belum ada bayangan dalam pikiranku perihal pernikahan. Itu bukan alasan, sungguh, aku bilang dengan kesungguhan hati. Namun bila engkau bilang itu hanya alasanku saja, lalu apa hakku untuk melarang anggapan-anggapan itu? Mentang-mentang pikiran itu bukan Cuma pikiran satu atau dua orang, tidak berarti pendapat banyak orang adalah pendapat yang paling benar, bukan? Tetapi, kupikir lagi, buat apa aku memikirkan hal itu, yah barangkali hal itu sama pentingnya dengan perihal pernikahan, tetapi kiranya bukan itu yang perlu aku khawatirkan saat ini. Belum!

Nah dengar, adzan Subuh sudah berkumandang. Sebaiknya aku segera mengambil air wudlu, ada hutang tidur yang harus kukejar setelah selesai dua raka’at. Semoga masih ada berkah tidur untukku. Nah selamat pagi, dan jangan lupa doakan aku untuk nikmat tidur yang semoga masih tersisa untukku, jika manusia tak terlalu tamak dan rela menyisakan barang secuil nikmat itu untukku, ah engkau tahu itu hanya harapan. Atau bangunkan aku jam tujuh, itu lebih berguna bagiku, kiranya! Nah selamat pagi, selamat merayakan hari.

Kamis, 24 Oktober 2013

kamisan #5 Lupa - Urusan Sepele Tentang KTP


Hendra berjalan cepat menghindari terik matahari. Rumah Pak RT sudah tampak di ujung jalan. Temboknya yang berwarna putih mengilap terlihat seperti mengejek pohon pisang kepok yang tumbuh di halaman depan. Daun-daun pohon pisang itu compang-camping. Hendra berhenti dalam jarak satu langkah dari rumpun pohon pisang itu, mengatur nafas dan menyeka keringat di keningnya dengan punggung tangan. Kemudian, dengan langkah teguh Hendra mulai mendekati rumah itu.

Hendra mengetuk pintu, mengucap salam. Sambil memandang celana panjang miliknya, Hendra tersenyum setelah memastikan lipatan celananya tak rusak. Terbayang sudah pekerjaan yang telah dijanjikan Karyo di kota. Sebentar lagi Hendra akan mampu membelikan emaknya baju baru untuk lebaran tahun ini. Pintu dibuka dari dalam, wajah Pak RT yang keras muncul dari balik pintu, keningnya berkilat seperti bekas keringat yang mengering.

"Eh kamu Hen, mari masuk"
"Iya, Pak. Maaf mengganggu istirahat Bapak."
"Ah tidak apa-apa. Mari silahkan duduk." Hendra duduk di kursi yang menghadap Pak RT. "Jadi, ada urusan apa?"
"Ini Pak, saya mau mengambil KTP." jawab hendra dengan sudur bibir yang ditarik keatas.

"Ah iya, soal itu. Ini tadi Bapak sedang terburu-buru Hen, jadi Bapak kelupaan untuk membawa KTPmu, masih di kelurahan. Besok lah kamu ambil kemari lagi." sahut Pak RT sambil menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Senyumnya tipis terangkat tanpa beban.

Hendra diam, tatapannya jatuh ke meja kayu di antara mereka.

"Nah begitu saja ya Hen, saya ambilkan KTP-mu besok." ulang Pak RT mencoba menegaskan.
"Iya, Pak. Saya ke sini lagi besok." jawab Hendra datar. Hendra bangkit dari duduknya. "Maaf, Pak, sudah mengganggu istirahatnya. Terima kasih."

Sekonyong-konyong Hendra gelisah sendiri, langkah kakinya cepat dan panjang-panjang. Pikirannya melayang, sudah terlambat kalau ia berangkat ke kelurahan sekarang, kelurahan sudah tutup saat ia sampai nanti. Satu-satunya harapan Hendra adalah Karyo yang saat ini menunggu di warung mbok Darmi. Hendra melangkah cepat lewat jalan terdekat yang ia tahu.

Karyo masih duduk di kursi panjang warung Mbok Darmi. Karyo meletakkan gelas kopinya yang masih sisa setengah. Tersenyum panjang melihat Hendra datang. Tapi saat melihat Hendra tak membalas senyumnya, Karyo buru-buru menyembunyikan bekas senyumnya. Raut wajahnya menjadi serius.

"Yo, Pak RT lupa membawa KTPku." Hendra langsung menyudutkan Karyo dengan kabar KTP itu.

Karyo mengerutkan keningnya, agak lama tak langsung menanggapi berita itu. Karyo menenggak sisa kopinya sebelum bicara "Bagaimana kalau kita ke kelurahan sekarang?"
"Terlambat Yo, kalaupun kita berangkat sekarang, kelurahan sudah tutup saat kita sampai nanti."
"Bangsat memang Pak RT-mu itu!"

"Apa tidak bisa kau tunda sehari keberangkatanmu?" Tanya Hendra menaruh harap.
"Tidak bisa Hen, kalau aku berangkat besok, jangankan kamu, bisa-bisa aku tak punya pekerjaan."
"Bagaimana kalau aku tetap ikut berangkat hari ini?"
"Tanpa KTP?" Hendra mengangguk. "Tidak bisa Hen, mandorku takkan mau mempekerjakanmu tanpa KTP. Kau lihat sendiri kan di berita tentang razia KTP di jakarta?"
"Jadi bagaimana?"
Karyo menepuk bahu Hendra. "Apa boleh buat Hen, tahun depan saja kau ikut aku."

Karyo membayar kopinya lalu meninggalkan Hendra di warung. [ ]

Kamis, 17 Oktober 2013

kenapa menjadi orang baik bisa begitu rumit?

Tiba-tiba saja aku merasa perlu untuk bersedih. Aku baru saja mengetahui bahwa barangkali aku telah menyakiti perasaan seorang perempuan, lagi. Baru saja aku membaca status orang itu di salah satu akun sosial media miliknya. Ia bilang aku meninggalkan bekas luka, meski ia tidak secara tegas menyebutkan bahwa orang itu aku, tetap saja aku merasa bahwa ia tengah berbicara tentangku.
Kenyataannya adalah aku tidak pernah merasa hendak dengan sengaja menyakiti perasaanya. Hal seperti ini bukanlah yang pertama kalinya buatku, tapi tetap saja itu membuatku sedih, dan justru kian memaksaku untuk berpikir bahwa mungkin kesalahan ada padaku dan aku saja yang barangkali tidak menyadarinya.

Yang paling sering terjadi adalah aku pada awalnya, seperti setiap kali aku berlaku, beramah-tamah. Aku suka mempunyai banyak teman, akrab dengan semua orang, mempunyai banyak saudara adalah sesuatu yang aku inginkan. Pada satu waktu, mungkin aku menjadi terlalu gampang bilang iya. Aku mudah sekali meluluskan permintaan yang sekiranya itu sepele buatku. Membuat orang senang, tersenyum adalah kesenangan yang lain. Saat melihat seseorang bersedih aku tidak pernah tak tergiur untuk sekadar membuatnya tersenyum. Memberi hadiah atau kado adalah sesuatu yang lain yang menjadi kegemaranku, biasanya. Lalu, lambat laun, satu atau dua orang kemudian menganggap hal-hal itu sebagai sesuatu yang lain bagi mereka. Lalu kesalahan akan dengan mudah menjadi milikku. Kenapa menjadi orang baik menjadi begitu rumit sekarang ini? Oke mungkin aku terlalu naif saat bilang aku orang baik. Tapi bagaimana nanti nasib manusia saat kebaikan kemudian dianggap sebagai hal buruk? Sebagai pemberi harapan, lalu saat kebaikan itu tidak sesuai dengan harapannya, dengan mudah ia bilang itu sebagai pemberi harapan palsu??

Apakah salah menjadi orang baik? Lalu, bila aku menjadi orang jahat apa kalian masih mau berteman denganku? Bahkan antara para penjahat pun mereka selalu saling berbuat baik.
Kenapa berbuat baik harus selalu dengan alasan? Kenapa keramahan harus dicurigai? Hidup sudah sulit, kenapa harus mempersulit diri dengan prasangka dan harapan tinggi? Saranku, selama itu tidak merugikan, ambil saja apa yang ada.
Ah iya, orang yang tidak bisa menerima kita saat kita bilang tidak padanya adalah orang yang ingin mengendalikan hidup kita. Kau tahu apa yang harus kalian lakukan pada orang seperti itu, bukan? Iya, setidaknya aku sedang belajar untuk berkata tidak, aku agak terpaksa barangkali. Namun hal itu tidak aku yakini akan dengan sungguh-sungguh aku laksanakan tanpa kompromi. Meminjam perkataan temanku ‘sempit sekali duniaku kalau hidupku harus selalu berpusat pada perkataan orang-orang yang bahkan tidak menaruh peduli padaku.’ Aku masih enggan percaya bahwa berbuat baik adalah sebuah kejahatan. Mungkin aku hanya harus agak berhati-hati untuk berbuat baik. Sudah pasti tidak semua orang bisa menerima kebaikan. Tidak sekali aku mendapat kerumitan gara-gara berbuat kebaikan. Inilah ‘Bumi manusia’, tidak sekali-kali aku tak setuju oleh Pram dalam hal ini.

Masih ada orang-orang di luar sana yang mempertanyakan apa motivasi dari kebaikan yang sering kita perbuat tanpa sesuatu maksud apapun. Perlukah kita berhati-hati dalam berbuat baik? Aku percaya perlu. Namun berbuat baik, bagiku, jauh lebih dari perlu!

kamisan #4 cinta yang menyembuhkan - menghibur penghibur


Ida membuka pintu kamar kost Neni secara serabutan. Bau apak segera menyerbu paru-paru Ida. Ida menyibak kan tirai jendela. Neni menutupi matanya yg masih terpejam dengan punggung tangannya, terkejut oleh intensitas cahaya dari luar yang menyerobot masuk lewat lubang pintu dan jendela. Ida membuka daun jendela, membiarkan udara masuk banyak-banyak.
Ida mengambil bungkusan nasi goreng yang ia bawa kemarin, masih utuh, Ida membuangnya ke tempat sampah di luar kamar. Ida menyingkirkan gelas teh yang telah dingin di dekat kasur Neni, menaruhnya di dekat dispenser. Lalu Ida duduk di bibir kasur, tangannya jatuh di paha Neni. Neni menurunkan tangan yang menutupi matanya. Neni memandang lurus ke langit-langit kamar kost nya.

"Ayo bangun, mandi sana!" Ida menarik sebelah lengan Neni. Neni memiringkan tubuhnya, memunggungi Ida, menatap tembok. "Hendak sampai kapan kau akan begini?"

"Apa salahku, Da? Apa menurutmu aku salah?"  ujar Neni tanpa membalikkan tubuhnya. Suaranya serak dan bergetar, ada tangis di suaranya. Neni masih terpukul, pacarnya selingkuh, ada rasa bersalah yang masih tinggal di dirinya. Dan Neni tidak tahu cara menghapus rasa bersalahnya.

"Tidak ada yang salah padamu. Lelaki itu yang brengsek, yang tidak bisa memperlakukanmu dengan layak." Neni kemudian terisak. "Kau tidak bisa terus-terusan menyia-nyiakan hidupmu seperti ini, Nen."

Ida bangkit, memanaskan air dalam dispenser, lalu kembali menghampiri Neni."Sudah ayo mandi dulu, biar wangi." bujuk Ida seraya melebarkan bibirnya.

Neni bangkit dengan malas. Matanya yang bengkak berkedip sekali, tanpa menatap Ida, Neni berjalan ke kamar mandi. Ida membereskan kasur Neni, menyapu lantai. Membuat segelas teh hangat untuk Neni.
   
Neni keluar dari kamar mandi. Bau sabun dengan cepat mengisi udara kamar. Rambutnya yang basah menguarkan bau shampo. Namun kesegaran itu tidak terlalu membekas di raut muka Neni, sorot matanya kosong.
"Minumlah!" Ida menyodorkan teh hangat ke depan Neni yang duduk bersimpuh di kasur, menyandarkan dirinya ke tembok. "Jadi, mau kemana kita hari ini?" tanya Ida dengan mata berbinar. Neni menggeleng. "Kamu mau eskrim? Ada warung es krim baru di dekat toko buku di ujung jalan." Neni diam, meratapi keengganan yang tumbuh pada makanan favoritnya itu. "Ah pasti menyenangkan makan es krim panas-panas begini. Nah, nanti kita mampir ke toko buku, sudah lama kan kita tidak belanja buku bareng?" Ida tidak berniat menyerah kepada Neni. "Atau kita bisa shoping aja, bagaimana?" Ida melirik nakal pada Neni.
Neni diam, memandang gelas teh di depannya tanpa gairah. Ida menghela nafas, lalu duduk pasrah di samping Neni. Ida memeluk lututnya seraya menyandarkan bahunya pada tembok.

Neni memandang pada Ida, Neni tahu dia tak bisa menyia-nyiakan usaha Ida menghiburnya. Neni tersenyum, “tentu saja kita akan ke sana Da. Aku ingin eskrim vanilla.” ujar Neni sambil bangkit. Ida tersenyum. [ ]