Kamis, 18 Juni 2015

Kamisan03 #11 Sinting!!


Sustri tidak bisa beristirahat karena yang ia hadapi bukan sekadar rasa lelah. Bis malam yang ia tumpangi masih melaju pelan di jalan yang gelap. Sesekali lampu kuning menyorot tajam dari depan. Bila itu terjadi, Sustri akan cepat berlindung di belakang sandaran punggung kursi di depannya. Sudah sejak dari berangkat ia tak mampu memejamkan mata untuk sekadar tidur-tidur ayam. Di luar, kegelapan berlalu, ditinggal tanpa ampun. Sustri mengusap lengannya sambil membayangkan udara beku menjelang fajar.


Perempuan itu membelitkan kedua tangannya di depan dada. Memeluk dirinya sendiri lebih erat. Kulitnya mengeras oleh udara dingin. Tak ada gunanya menyesali naik bis patas-ac sekarang ini. Cuma bis patas-ac ini saja sekarang yang melayani rute Jogja-Karawang. Memang kini ia tak perlu repot memilih bis apa yang akan ia tumpangi. Namun juga tak gembira. Meski semuanya masuk akal. Ya, dilayani dengan satu armada pun tak semua kursi terisi. Hanya ada 12 orang lain selain dirinya di bis itu. Lelaki dengan parfum wangi yang tadinya duduk di sebelah kini telah menghilang di salah satu kursi tak berpenghuni di belakang sana. Baguslah! Sepi itu indah. Percayalah! Membisu itu anugrah.1

Lampu di langit-langit menyala ketika bis melewati jembatan Cikampek. Sustri menaikkan tudung jaketnya. Pandangannya terlempar ke sepanjang jalan raya yang terasa akrab di benaknya. Tiga tukang ojek telah sedia di pertigaan jalan menuju kawasan industri di mana salah satunya adalah tempat Sustri mendapat gaji bulanan di masa lalu.

Itu lima tahun yang lalu. Telah lama rupanya, Sustri terserap oleh kesadarannya. Perempuan itu membungkukkan tubuhnya. Merosot sedemikian rupa sampai tangannya terjulur ke dalam goodie bag yang ia taruh di bawah kursi. Ia mengeluarkan selembar kertas putih ukuran A4 yang ia terima kira-kira seminggu lalu. Sustri mengamati lagi gambar itu dengan teliti. Seorang lelaki berpakaian daun sedang berbisik di depan sekuntum bunga merah dan perempuan yang duduk di atas sulur pohon yang sama tampak khidmat mencoba menangkap apa yang dibisikkan lelaki itu. “Apa yang hendak kau sampaikan?” bisiknya lemah sambil mengusap pipi lekaki di dalam gambar itu.

Sustri meletakkan kertas itu di pangkuannya. Gambar itu tiba tiga hari setelah ia bercerai dengan suaminya. Entah dari mana Pigor mengetahui kabar perceraiannya. Tahukah Pigor? Ah lelaki itu masih saja tak dapat ditebak. Sejak kapan Pigor bisa menggambar sebagus gambar di pangkuannya itu? Sustri hanya tahu bahwa Pigor suka membaca.

Dahulu, setiap hari gajian Pigor selalu menyeret Sustri ke toko buku pertama yang ada di Karawang, yang ia tahu. Setelah memilih satu eksemplar buku yang mereka anggap menarik, mereka akan pergi ke Karang Pawitan. Duduk membaca di sebelah lapangan basket yang garis-garis pembatasnya telah memudar, hilang di beberapa bagian. Saat banyak orang mengambil jeda hidup mereka dari kerja tanpa lelah bersama mesin-mesin pabrik yang tidak mempedulikan kemampuan manusia, dengan bermain basket, atau berjalan-jalan memutari lapangan luas di sebelah lapangan basket, atau duduk-duduk memandangi orang-orang itu sambil menikmati jajanan serta makan malam, maka mereka akan duduk di sana berdiam-diam dengan menekuri buku masing-masing sambil menghadapi semangkuk wedang ronde.

Mereka akan di sana sampai larut malam. Seringkali sampai buku-buku itu selesai mereka baca. Mendekati tengah malam, mereka akan beranjak ke Karawang Teather, atau naik ke arena permainan billiard. Pernah suatu malam, ketika mereka pulang dalam malam hujan, Pigor nekat menawar jaket seorang penumpang dalam angkot yang mereka tumpangi hanya karena Sustri tak mengenakan jaket malam itu. Jaket hitam bergambar lambang band Red Hot Chilli Peppers dengan tudung kepala. Jaket itulah yang Sustri kenakan saat ini.

Itu adalah malam terakhir Sustri di karawang. Pagi berikutnya, ia mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal. Sehabis Maghrib Pigor mengantarkannya ke Cikopo, lalu naik bis malam jurusan yang pertama lewat malam itu. Hari berikutnya, Sustri tahu bahwa ia tidak bisa kembali ke karawang, tidak tega membiarkan ibunya hidup sendirian di kampung. Empat bulan kemudian, seorang tetangga melamarnya. Hampir lima tahun ia melupakan sosok Pigor sebelum gambar itu tiba dalam sebuah paket bersama buku farewell party-nya Milan Kundera. Buku pertama yang Pigor beli di Karawang bersama Sustri. Perempuan itu menyukai buku itu.

Sustri terkesima ketika bis yang ia tumpangi tiba di sebuah jalan besar yang tidak ia kenali. Jalan itu besar dan hitam, tampak baru. Perempuan itu seolah tercerabut ke kenyataan. Di mana ia berada saat itu? Ia tak pernah ingat ada jalan sebesar itu di karawang. Sustri tidak lagi mengenali wajah baru pasar Kosambi. Yang membuatnya sadar bahwa ia akan turun sebentar lagi adalah kios bubur Bandung di pengkolan pertigaan pasar Kosambi.

Gambar di pangkuannya ia masukkan kembali ke goodie bag-nya. Perempuan itu berdiri untuk menurunkan tas ransel dari tempat tas di atas. Pom bensin Duren telah tampak tak jauh di depan sana. Sustri pergi ke depan lalu duduk di kursi dekat pintu. Tak ada kondektur. Bis itu berhenti tepat di jalan masuk kampung Duren.

Sustri diam sejenak ketika ia turun dari bus. Debu tebal mengepul di belakangnya. Bau comberan di pinggir 
jalan anyir terhidu cuping hidungnya yang bergerak-gerak menghirup udara pagi. Langit telah terang meski matahari belum jatuh ke tanah. Gapura di depannya masih sama. Tak jua terlihat cat baru di sana.
Seorang penjual nasi kuning tengah melayani para karyawan yang menunggu bus jemputan di pinggir jalan. Nasi kuning langganan yang sambalnya nikmat, manis serta pedas bercampur dengan liat. Sustri pergi duduk di kursi plastik berwarna merah. Ia tidak buru-buru memesan nasi kuning untuknya. Jantungnya bergemuruh, ramai seperti riuhnya celoteh para karyawan pabrik yang berebut dilayani. Mata perempuan itu tak lepas dari ujung gang tak jauh dari tempat ia duduk. Benaknya memainkan sebuah adegan ketika Pigor akan terkejut menemuinya di sana. Namun alam bawah sadarnya seakan berkhianat padanya. Sustri tidak mampu menemukan bayangan wajah Pigor di ingatannya.

Angin pagi berhembus. Dinginnya menembus tudung jaketnya, menggigit tengkuk. Ujung sinar matahari telah jatuh di kakinya. Tak seorangpun ia kenali di antara gerombolan manusia dengan seragam kerja yang munkin bekas dipakai kemarin. Tiada pula orang yang mengenalinya. Sustri tidak lagi merasa yakin bahwa keputusannya tepat. Ia teringat saat-saat ketika ia menunggu suaminya pulang ke rumah. Sehari, seminggu, sebulan... yang pulang pada telinganya hanyalah gunjingan tetangga. Wajahnya pucat disaput ingatan.

Sustri berdiri, lalu memesan dua bungkus nasi kuning. Kenyataan bahwa penjual nasi kuning itu masih mengenali tak sedikitpun mengusik kelusuhan dari raut mukanya. Sustri meminta ekstra sambal lalu membayarnya.

Langkah kakinya gamang. Ketika berdiri di depan gang, ia menghela nafas panjang. Dulu, sependek ingatannya, lorong gang itu agak sempit, dan tidak sepanjang saat ia melewatinya pagi itu. Biasanya, ia akan menoleh ke belakang untuk mengajak Pigor bicara. Tembok lorong itu makin kotor dan berlumut setelah lima tahun. Sustri memasukkan sebelah tangannya ke saku jaket.

Teleponnya bergetar tepat ketika perempuan itu keluar dari lorong dan tiba di areal petakan kamar. Sustri berhenti di teras kamar yang dulunya adalah bekas kamarnya. Ia duduk di dudukan pembatas kamarnya dulu dengan kamar Pigor. Keset karet berwarna merah dengan logo klub bola Liverpool terpasang di depan pintu kamar di sebelah bekas kamar kontrakannya dulu. Pigor masih tingal di sana.

 “Yaa... “ sapanya cepat-cepat ketika melihat nama Pigor di layar ponsel.

“Hai... kamu di mana?” tawa Pigor masih sama seperti dulu.

“Kenapa memangnya?”

Lagi-lagi ia tertawa. Menyebalkan. “Coba tebak aku di mana!”

“Ah paling di kasur!”

“Ngawur! Sudah, buruan mandi, dandan yang cantik! Aku di Terminal Jombor. 15 menit lagi aku sampai rumahmu.”

“Sinting!!”

“Kenapa? Kamu tak suka aku main ke rumahmu?”

“Bukan begitu...”

“Lalu?” Sustri menjatuhkan bungkusan nasi kuningnya ke lantai. Entah bagaimana, dia tiba-tiba menangis. 

”Heh.. kamu kenapa? Malah nangis? Aku salah ya datang ke jogja?”

“Beleguk! Aku di depan pintu kamar kontrakanmu sekarang!” hardik Sustri setengah berteriak.

“Apa?” seolah lelaki itu tak mendengar teriakan Sustri. Lalu ia tertawa. keras sekali. Sustri turut tertawa, meskipun kecil, masih dengan menangis. [ ]





 
1. Sepi itu indah. Percayalah! Membisu itu anugrah. = lirik lagu Hujan Di Mimpi ~ Banda Neira

Kamis, 04 Juni 2015

kamisan03 #10 Sampai Jumpa



Entah bagaimana, begitu melihat tembok penuh gambar aneka warna itu Sustri langsung teringat klip video lagu Bad day-nya Daniel Powter. Menurutnya, klip dalam video itu begitu manis. Tak sekadar bagaimana cara si cewek dan cowok di dalam klip itu bertemu, namun juga nuansa kesendirian yang mereka rasakan begitu kental oleh adegan di kereta api bawah tanah atau ketika makan siang. Dan cara mereka bertukar pesan lewat gambar iklan perempuan yang duduk sendirian di sebuah kursi, bagi Sustri itu adalah pertemuan paling manis yang bisa ia angankan.

Perempuan itu masih berdiri mengamati lukisan grafiti di depannya. Jarak yang terlalu dekat membuat Sustri kesulitan mengenali gambar apa yang sebenarnya tengah ia cermati. Garis-garisnya seolah terlalu besar untuk menjadi sebuah gambar utuh dalam bingkai benaknya. Warna-warnanya tak menunjukkan kedukaan, tetapi Sustri menjadi murung karena kesulitan memampatkan seluruh tembok di depannya ke dalam imaji. Sesekali ia membenarkan letak kacamatanya yang tak bergeser tempatnya sedikitpun dari tadi, seolah hal itu akan membantunya mengerti keseluruhan gambar itu.

“Apakah engkau akan berdiri di situ seharian?”

Seorang lelaki yang ingin lewat menegurnya. Sustri menoleh ke sekeliling, memastikan ia tidak menutupi jalan. Dan memang tidak. Masih ada cukup ruang untuk orang lewat di belakangnya. Namun, mungkin lelaki itu terlalu takut untuk berjalan terlalu dekat dengan jalan raya. “Maaf!” Sustri maju sejengkal lebih dekat ke tembok. Tetapi kepalanya justru diserang pening, dan lelaki itu masih juga berdiri di sebelahnya.

“Apa kamu suka baca buku?” tanya lelaki itu lagi.

“Kenapa?”

“Kamu berkacamata...”

“Ya. Lalu?”

“Kamu suka baca buku apa?”

Segumpal asap hitam bergulung menyela jawaban Sustri. Perempuan itu segera menutup hidung dan mulutnya. Sekonyong-konyong ia teringat akan buku Italo Calvino yang baru saja diselesaikannya minggu. Sejak itu, setiap kali Sustri menemui keadaan udara yang tercemar polusi, maka yang muncul di kepala Sustri adalah cerpen ‘Kabut Asap’. Rambut di tengkuknya yang tertutupi rambut sebahunya seketika berdiri. Perempuan itu selalu bertanya-tanya, akan butuh berapa tahun lagi untuk menjumpai kotanya menjadi kota yang selamanya terkepung kabut-asap-debu yang bergulung-gulung? Masihkah ia hidup ketika semua orang harus memakai masker setiap kali bepergian keluar rumah? Apa yang membuat Italo Calvino menulis cerita itu ya? Apakah Itali juga mengalami polusi udara? Itali kah yang menjadi latar tempat cerita itu? Sustri bertanya-tanya sendiri.

“Kenapa? Kamu mau membelikan aku buku?”

“Hmm... kamu mau buku apa? Aku bisa mengajakmu ke perpustakaan kota kalau kamu mau.”

Perempuan itu ingin tertawa tapi ia tahan sebisa mungkin. Ia pura-pura membetulkan letak kacamatanya. “Wah... tawaran yang menggairahkan... “

“Kamu minus berapa?”

“Kenapa memangnya?”

“Aku minus 3 kanan dan kiri. Yah.. kalau kamu berminat, aku bersedia menukar kacamataku dengan kacamatamu.* bagaimana?”

Sustri mengubah posisi tubuhnya menjadi berhadap-hadapan dengan lelaki itu. Demi gengsi, ia melebarkan senyum untuk mereduksi gelak tawa yang menggelagak ingin tumpah.

“Kenapa?” Perempuan itu menelengkan kepalanya ke kiri.

“Entah kenapa aku menyukai frame kacamatamu.” Kata lelaki itu mantab.”

“Enggak ah.”

“Kenapa? Kacamataku baru lho...” betapa bangga lelaki itu mengatakan kalau kacamatanya baru.

“Eh....” Sustri bingung bukan buatan. Ia tak tahu hendak menanggapi apa. Entah lelaki itu sebegitunya ingin mengesankannya hingga tidak sadar kalau ia berbuat bodoh atau memang ia sengaja melakukannya. “Enggak deh. Lagipula mataku silinder, bukan minus... sayang sekali ya. Padahal tawaranmu, sekali lagi, sungguh menggairahkan.” Sustri sekali lagi sengaja menggunakan kata menggairahkan, alih-alih menggiurkan atau kata lain yang setara artinya dengan kata menggairahkan.

Lelaki itu sebentar murung sebelum kembali menegakkan kepalanya. “Wah... engkau sungguh beruntung.”

“Karena?”

“Mmmmm... Tuhan menjagamu dari silau lelaki tampan.”

Tentu saja Sustri tahu maksudnya. Ia memang sudah tak bisa menikmati wajah tampan lelaki pada jarak lebih dari 20 meter, garis wajah mereka berbayang, yah, mungkin sudah waktunya Sustri periksa mata dan mengganti kacamatanya.

Sustri pura-pura menengok jam tangan ketika melihat sebuah bus kota yang datang dari arah punggung lelaki itu. Perempuan itu takut makin tertarik dengan lelaki itu. Ia ingin memuji upaya lelaki itu untuk menarik perhatiannya. Tapi yang terucap dari mulutnya adalah “Aku harus pergi.” Sustri memaksakan sebuah senyum datar sambil menarik tali tas punggungnya ke depan. “Selamat tinggal.”

Sustri telah berjalan ke tepi trotoar menjemput bus kota yang melambat dan berhenti di depannya. Tepat ketika Sustri hendak melangkah, lelaki berucap “Tidak! Sampai jumpa!”

Dari atas bus kota Sustri melihat lelaki itu mengeluarkan spidol dan mulai menuliskan nomer ponselnya di tembok. Sustri tersenyum karena tahu ia akan kembali ke sana, barangkali, ya barangkali. “sampai jumpa.” Bisiknya pada bus kota yang kosong. [ ]



*dikutip bebas dari Angsukma Putri Dewayanti, 27 tahun(semoga ang enggak baca keterangan umur ini deh bahahahahhaahak), Surabaya.

Kamis, 21 Mei 2015

Kamisan03 #9 Di Pinggir jalan



Gadis kecil itu menghampiri anak anjing yang meringkuk di kaki patung gajah. Gajah-gajah itu kesemuanya tiga ekor, berkulit putih dengan ornamen warna-warni memenuhi sekujur tubuhnya. Mereka seperti gajah putih dari Thailand yang baru saja mengikuti perayaan hari raya Holi di India. Atau barangkali pembuat patung gajah itu adalah seorang anak SMA yang baru saja mengetahui kelulusannya. Yang tidak cukup menghibur adalah pose gajah-gajah itu: kaki-kakinya tidak dalam posisi sedang berjalan, belalainya terjulur begitu saja tanpa gerak meliuk hendak menyemprotkan air dari belalainya, ekornya tidak melambai ke kanan atau ke kiri atau menghalau serangga di punggungnya, telinganya lurus bagaikan garis marka jalan, seolah gajah-gajah itu tidak kepanasan di tengah udara Jogja yang kian panas akhir-akhir ini.

Anjing itu meringkuk sama sekali. Bedanya dengan patung gajah di atasnya adalah anjing itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis kecil itu menggaruk-garuk kepalanya sambil melihat ke arah pantat besar gajah di atasnya seolah anjing itu keluar dari sana. Dan seperti bayi yang baru lahir, anjing itu tampak lemah sekali. Dagunya yang berbulu pendek berwarna coklat jatuh diatas paving block. Lidahnya merah dan berliur seperti tangan pengemis.

Gadis belia itu berdiri, menoleh ke kiri dan kanan. Macam-macam rupa manusia singgah di kepalanya. Tak satu ia kenal. Kelopak matanya menyipit seperti seorang pemburu mengamati ladang buruannya. Ia menaruh tangan kirinya di atas alis untuk meneduhi matanya dari cahaya matahari sore. Kemudian ia berlari ke arah barat, ke seberang jalan. Tidak peduli pada padatnya kendaraan di ruas jalan. Ia berjalan miring mengikuti celah antar kendaraan yang malas melaju. Sebentar-sebentar bising klakson meningkahi keriuhan deru mesin kendaraan yang tak berhenti memproduksi asap panas.

Sambil meloncat-loncat ke tempat bayangan pohon jatuh di trotoar jalan, gadis cilik itu menghampiri seorang ibu yang tidak memerhatikan baju longgar dan berlubang di beberapa bagian, terkadang tanpa sadar ia memamerkan kulit kotor di balik bajunya. perempuan paruh baya itu lebih peduli pada karung besarnya yang berisi botol-botol minuman yang telah kosong. Di samping karung putih itu terduduk seorang anak lelaki yang berumur 2 tahun lebih muda darinya. Pada hari-hari biasa, anak kecil itu adalah teman bermainnya. Tapi hari itu, kotak rubik lusuh yang ada di tangan si bocah lelaki bahkan tak membangkitkan gairahnya sama sekali. Gadis bergaun kuning yang entah sudah berapa minggu tak dicuci itu lebih tertarik pada botol air mineral yang dikumpulkan oleh ibu pemilik karung. Ia cepat-cepat merebut botol minuman yang masih berisi setengah itu sebelum terlanjur dibuang isinya oleh si ibu. Lalu berlari cepat-cepat.

Di tengah jalan, ia berpapasan dengan seorang lelaki yang memakai kalung kertas di dadanya, ada tulisan ‘jual pulsa’. Ia tak terlalu sering bicara dengan lelaki yang kadang tiba-tiba berteriak “Pulsa... pulsa...” entah siapa yang ia ajak bicara. Ia kadang sedih melihat lelaki itu begitu keras berusaha bicara tetapi tidak ada yang mau mendengarnya. Ia ingin membantunya sesekali. Membawakan kalung kertas dengan tali rafia itu misalnya. Sering ia melamunkan bakal seperti apa rupanya bila mengenakan kalung kertas itu. Atau membeli jualannya. Tetapi setelah dipikir-pikir, akan ia gunakan untuk apa?

Gadis kecil itu memeriksa sakunya yang longgar dan pinggirannya berwarna hitam ketika melewati seorang penjual sate. Bau asapnya seperti mesin pencipta rasa lapar. Ada selembar uang limaribuan baru di sana. Kertasnya licin, membuatnya enggan menggunakannya, layaknya cincin milik Sauron bagi Gollum. Itu pula kenapa ia menahan laparnya sejak pagi. Ia mengulurkan uang itu dan menunggu tusuk-tusuk satenya matang di antara asap yang harum.

Anjing coklat itu masih melingkarkan tubuh. Kepalanya langsung terangkat ketika air mineral mengucur di lidahnya yang terjulur. Ia memandang gadis itu. Membasahi mulutnya dengan lidah lalu menjulurkan lidah itu kembali. Ia menerima satu tutup botol air mineral lagi. Tanpa menunggu perintah, anjing itu memakan potongan daging ayam yang sudah diloloskan dari tusuknya. Gadis itu juga menghamburkan beberapa potong lontong di dekat timbunan kecil daging sate. Sementara ia melahap sendiri potongan lontong yang tersisa.

Selesai pesta makan, gadis itu duduk sambil bersandar di salah satu kaki gajah yang mengkilat karena cat baru. Menunggu si anjing bangun. Anjing itu masih minum air yang dituangkan di atas daun pisang pembungkus sate tadi. Matahari makin turun sehingga sinarnya kini terhalang rimbunan pohon di seberang jalan.

Gadis itu masih tenggelam dalam lamunannya saat anjing itu bangkit tidur dan duduk di sebelahnya, sama-sama menatap lurus ke depan. Mereka seakan heran dengan orang-orang yang berpose dan melemparkan uang untuk berfoto dengan orang-orang yang berdandan segala rupa. Di lain waktu, mereka berdandan seperti pahlawan-pahlawan yang tak pernah diingat siapapun. Lalu, kadang mereka berdandan dengan pakaian-pakaian prajurit keraton. Dan hari ini mereka berdandan seperti hantu-hantu dengan muka rusak atau batok kepala yang ditancap dengan kaleng minuman soda. Mungkin kaleng soda tadi melukai otaknya sehingga tidak bisa membedakan kalau saat itu hari masih siang. Juga ada yang berfoto di depan sebuah plang jalan yang di letakkan di depan sebuah tempat sampah plastik untuk menampung uang. Tapi tak ada yang mengajak gadis cilik itu berfoto bersama. Barangkali karena bocah ingusan itu tak mengenakan sandal.

Menyadari hari telah beranjak sore, gadis kecil itu bangkit setelah mengusap punggung anjing di sampingnya. Ujung gaun kuningnya berkibar menyentuh paving block. Sementara anjing itu berlari kecil sambil menciumi jalan. Seorang perempuan yang baju dan celana pendeknya menguarkan aroma wangi parfum berhenti di depan seorang penjual bakpia yang duduk di atas kursi roda. Perempuan itu mengulurkan selembar uang berwarna hijau begitu saja, tanpa menawar. Padahal sebelumnya ia tak tampak tertarik atau kelaparan melihat bakpia yang wujud dan bungkus mikanya serupa dengan yang ditawarkan seorang perempuan sesaat sebelumnya.

Anjing itu mendadak berhenti mengendus jalanan ketika gadis di depannya memutuskan untuk berhenti melangkah. Gadis cilik itu membuang bungkus sate bekas ia makan tadi ke tempat sampah di dekat pagar jembatan. Kemudian ia berbalik memandangi punggung-punggung pengunjung yang ditutupi baju-baju bagus. Mereka terpukau menikmati pertunjukkan air mancur di kolam di depan benteng Vedrebug. Seakan-akan pertunjukkan air mancur itu adalah hal paling indah di tempat itu.

Gadis cilik itu dengan cepat menjadi bosan. Ia bersandar pada pagar besi yang baunya amis seperti bau tubuhnya. Mula-mula menyandarkan punggungnya. Namun kemudian ia berbalik dan mengamati ikan-ikan kecil yang berkerumun di sekitar sampah plastik bekas makanan. Ikan-ikan itu berenang kesana kemari. Ada juga yang bersembunyi di balik sampah plastik itu.

Tak jauh dari tempat ia berdiri, seorang lelaki tambun berseragam sekuriti baru saja mengusir satu rombongan terakhir dari komplek museum yang sudah saatnya tutup. Satpam museum Benteng Vedreburg itu lalu berjalan ke sebuah tiang bendera di sebelah kanan pintu gerbang museum. Inilah yang dinantikan gadis cilik itu. Secara khusuk, tak lepas ia mengamati lelaki tambun itu berdiri tegak di depan tiang bendera. Ia mendongakkan kepala lalu menaruh tangannya di atas topi seragam selama 8 detik. Setelah menurunkan hormatnya, satpam itu kemudian membuka tali lalu menurunkan bendera merah putih dengan latar musik gamelan jawa sayup-sayup di ujung sana.

Sementara itu orang-orang saling merangkul pingang pasangannya ketika semburan terakhir air mancur jatuh ke kolam. Gadis itu tersenyum ketika menyadari anjing kecil di sebelahnya duduk dengan pantatnya dan satu kaki depannya ia angkat ke kepala yang terarah pada lelaki yang tengah mengurai tali pengikat bendera itu. Gadis itu tersenyum lebih lebar lagi sambil mengusap bulu halus anjing di sebelahnya. Malam ini ia tak perlu takut lagi. Ia tidak akan tidur sendirian nanti malam. [  ]

Kamis, 07 Mei 2015

Kamisan03 #8 Wawancara



Pigor segera duduk di kursi kosong terakhir yang terletak di deretan paling ujung. Lelaki itu melongok jam tangannya yang tertutup ujung kemeja. Masih pukul sembilan lebih lima puluh dua menit. Ia menarik-narik kerah leher kemejanya yang terkancing sambil mencari sesuatu untuk ia perhatikan. Lelaki itu butuh melambatkan pikirannya yang sejak pagi diburu waktu. Udara sejuk pendingin udara membantunya mengeringkan keringat.

Ruangan itu cemerlang oleh warna cerah tembok dan lampu neon yang tak padam di langit-langit. Seorang perempuan sedang menunduk menghadapi sebuah buku besar dan sebidang layar monitor yang menyala. Mejanya panjang, juga berwarna putih, tampak berkilau ditimpa cahay lampu neon. Di belakangnya, sebuah tembok putih ternoda oleh kotak kelabu layar monitor mati, terhambur tanpa aturan dengan beragam ukuran. Pigor menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyandarkan kepala ke tembok belakang.

Ketika sedang menenangkan pikiran sambil mencoba mencari jawaban paling masuk akal soal penempatan kotak-kotak kelabu itu di tembok, seolah mereka adalah teka-teki yang mesti dipecahkan; Pigor mendadak menyadari keberadaan perempuan yang duduk di sebelahnya. Mula-mula yang negusik adalah bau harum dari daerah sekitar leher dan baunya. Wangi segarnya kentara sekali mencemari udara ruangan yang tawar. Perempuan itu tengah khusuk membaca sebuah buku—entah apa—yang terbuka di pangkuannya. Ujung rambutnya tak mampu menutupi tengkuknya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Sebuah jam tangan mungil mengitari pergelangan tangan serupa gelang.

“Tentang apa?”

“Hmm... “ perempuan itu tak mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang tengah ia baca.

“Buku itu,” Pigor nenunjuk buku itu dengan telunjuknya... “bagus?”

Sekarang perempuan itu menelengkan kepalanya sedikit ke arah Pigor, seolah tengah memutuskan apakah akan menanggapi ajakan bicara Pigor atau tidak. “Emm... kau tahu, seharusnya aku tak mengajakmu bicara.” Ujarnya sambil menyipitkan mata.

“kenapa begitu?”

“Karena, secara tidak langsung, kamu adalah musuhku.”

“Oh, tenang saja... aku bukan orang jahat. Kau tahu?”

“Nah... justru karena itu.” Pigor mengerutkan keningnya. “Kita, kamu dan aku ini saingan, untuk pekerjaan ini. Kau mengerti?”

“Ah... “ lelaki itu mengangguk. ”Namamu bukan Autumn, kan?”

Perempuan itu kini benar-benar menyodorkan wajahnya pada Pigor. “Kenapa engkau mengira begitu?”

“Karena ucapanmu barusan mirip sekali dengan dialog Autumn di film 500 Days of Summer.”

“Ah... film itu.” ia tersenyum.

Seorang lelaki keluar dari pintu di ujung sana. Pigor menduga ia baru saja selesai diwawancarai. Perempuan yang duduk di meja putih di depan mereka kemudian menyebut nama seorang perempuan. Namun perempuan di sebelahnya tak jua beranjak dari duduknya.

“Sebenarnya, kau bisa menanyakan langsung kalau engkau ingin mengetahuinya, aku tak keberatan sama sekali. Aku pasti akan menjawabnya.”

“Ah.. tidak. Itu tidak seru. Dan lagi pula kita musuh. Kau ingat?”

Perempuan itu setengah tersenyum. Lalu menggoyang-goyangkan tangannya seolah tengah memainkan sebuah gelang di pergelangan tangannya, jam mungil itu jatuh ke bawah, tepat di tengah antara pergelangan tangan dan sikunya. “Ya, kau benar, kita saingan. Tentu saja!”

“Begini...” Pigor mengacungkan tangannya ke atas. “kau tahu kan, hanya ada satu lowongan di kantor ini? Nah aku akan pergi dari sini jika kau mau pergi makan malam atau nonton denganku, bagaimana?”

Perempuan itu tersenyum, kali ini lebih lebar lagi. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas. “Kenapa kamu pikir aku akan tertarik dengan lelaki yang tidak ambisius sepertimu?”

“Tentu saja aku ambisius.”

“Benarkah?”

“Ya! Tapi, mungkin tidak di kantor ini.”

Perempuan itu menoleh ke arah Pigor sekali lagi. Kali ini dengan setengah memutar badan. “Kenapa memangnya dengan kantor ini?”

Pigor diam sejenak menunggu perempuan yang baru saja selesai wawancara lewat. “Lihat itu.” Pigor menunjuk pada tembok di depan mereka.

“Kenapa dengan dinding itu?”

“Tidak teratur! Kupikir pasti isi di dalamnya akan serupa.”

“Nah ini menarik. Kau tahu, aku justru menyukai dinding itu.”

“Kenapa?”

“Pertama, alih-alih diisi oleh lukisan atau foto, tapi tembok itu justru berisi ornamen seperti itu, buatku itu jelas sebuah ide yang menarik. Aku merasa kantor ini akan membuatku merasa tertantang. Soal inovasi. Nah, perkara inovasi inipun sedikit banyak menyinggung apa yang engkau sebut sebagai tidak teratur. Alih-alih melihat itu sebagai tidak teratur, aku justru merasa bahwa ketidakteraturan itu justru menunjukkan bahwa kantor ini menjanjikan kebebasan, dalam artian tidak kaku atau mengekang. Soal imajinasi. Apa yang kurang hebat dari pekerjaan yang seperti itu? Nah, itu yang kedua.”

“Hmmm... tapi bidang pekerjaan yang diiklankan dalam koran bukanlah bidang soal imajinasi. Justru bidang kerja yang membutuhkan keteraturan dan ketepatan. Bukan soal yang bisa diperdebatkan.”
Tapi perempuan itu buru-buru memotong argumen dari Pigor. “Hei... lihat itu.”

Mereka memperhatikan dua orang lelaki yang sedang berbicara dengan perempuan yang sejak tadi duduk di belakang meja putih. Lelaki yang lebih tua berbicara tak peduli pada orang-orang yang duduk di kursi tempat Pigor menunggu. Sementara perempuan itu memasang tampang seorang budak. Yang keluar dari mulutnya hanya iya dan iya sambil sesekali menelpon entah siapa. Dan lelaki muda yang berdiri di sebelahnya dia seperti patung sambil sesekali memeriksa pakaiannya.

Begitu pintu di ujung sana terbuka, lelaki tambun yang sedari tak pernah terlihat masuk kantor tiba-tiba muncul sambil tergopoh-gopoh menyalami lelaki tua yang masih berdiri di dekat meja putih. Setelah bertukar senyum mereka bertiga menghilang masuk ke balik pintu di ujung ruangan itu.

“Kau tahu, aku tarik ucapanku tentang kantor ini. Kurasa kamu benar. Mungkin ini bukan kantor yang tepat untuk kita.” Perempuan itu berdiri dari duduknya. ”Jadi, apa tawaranmu tadi masih berlaku? Kalau masih, aku akan memilih makan saja. Lapar. Belum sarapan nih.”
 
Pigor tersenyum. Masih belum paham benar kenapa perempuan itu meninggalkan wawancara yang sudah dari tadi ditunggunya. Tapi Pigor tak mau ambil pusing, sigap ia berdiri dan meninggalkan tempat itu. [  ]