Kamis, 21 Mei 2015

Kamisan03 #9 Di Pinggir jalan



Gadis kecil itu menghampiri anak anjing yang meringkuk di kaki patung gajah. Gajah-gajah itu kesemuanya tiga ekor, berkulit putih dengan ornamen warna-warni memenuhi sekujur tubuhnya. Mereka seperti gajah putih dari Thailand yang baru saja mengikuti perayaan hari raya Holi di India. Atau barangkali pembuat patung gajah itu adalah seorang anak SMA yang baru saja mengetahui kelulusannya. Yang tidak cukup menghibur adalah pose gajah-gajah itu: kaki-kakinya tidak dalam posisi sedang berjalan, belalainya terjulur begitu saja tanpa gerak meliuk hendak menyemprotkan air dari belalainya, ekornya tidak melambai ke kanan atau ke kiri atau menghalau serangga di punggungnya, telinganya lurus bagaikan garis marka jalan, seolah gajah-gajah itu tidak kepanasan di tengah udara Jogja yang kian panas akhir-akhir ini.

Anjing itu meringkuk sama sekali. Bedanya dengan patung gajah di atasnya adalah anjing itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Gadis kecil itu menggaruk-garuk kepalanya sambil melihat ke arah pantat besar gajah di atasnya seolah anjing itu keluar dari sana. Dan seperti bayi yang baru lahir, anjing itu tampak lemah sekali. Dagunya yang berbulu pendek berwarna coklat jatuh diatas paving block. Lidahnya merah dan berliur seperti tangan pengemis.

Gadis belia itu berdiri, menoleh ke kiri dan kanan. Macam-macam rupa manusia singgah di kepalanya. Tak satu ia kenal. Kelopak matanya menyipit seperti seorang pemburu mengamati ladang buruannya. Ia menaruh tangan kirinya di atas alis untuk meneduhi matanya dari cahaya matahari sore. Kemudian ia berlari ke arah barat, ke seberang jalan. Tidak peduli pada padatnya kendaraan di ruas jalan. Ia berjalan miring mengikuti celah antar kendaraan yang malas melaju. Sebentar-sebentar bising klakson meningkahi keriuhan deru mesin kendaraan yang tak berhenti memproduksi asap panas.

Sambil meloncat-loncat ke tempat bayangan pohon jatuh di trotoar jalan, gadis cilik itu menghampiri seorang ibu yang tidak memerhatikan baju longgar dan berlubang di beberapa bagian, terkadang tanpa sadar ia memamerkan kulit kotor di balik bajunya. perempuan paruh baya itu lebih peduli pada karung besarnya yang berisi botol-botol minuman yang telah kosong. Di samping karung putih itu terduduk seorang anak lelaki yang berumur 2 tahun lebih muda darinya. Pada hari-hari biasa, anak kecil itu adalah teman bermainnya. Tapi hari itu, kotak rubik lusuh yang ada di tangan si bocah lelaki bahkan tak membangkitkan gairahnya sama sekali. Gadis bergaun kuning yang entah sudah berapa minggu tak dicuci itu lebih tertarik pada botol air mineral yang dikumpulkan oleh ibu pemilik karung. Ia cepat-cepat merebut botol minuman yang masih berisi setengah itu sebelum terlanjur dibuang isinya oleh si ibu. Lalu berlari cepat-cepat.

Di tengah jalan, ia berpapasan dengan seorang lelaki yang memakai kalung kertas di dadanya, ada tulisan ‘jual pulsa’. Ia tak terlalu sering bicara dengan lelaki yang kadang tiba-tiba berteriak “Pulsa... pulsa...” entah siapa yang ia ajak bicara. Ia kadang sedih melihat lelaki itu begitu keras berusaha bicara tetapi tidak ada yang mau mendengarnya. Ia ingin membantunya sesekali. Membawakan kalung kertas dengan tali rafia itu misalnya. Sering ia melamunkan bakal seperti apa rupanya bila mengenakan kalung kertas itu. Atau membeli jualannya. Tetapi setelah dipikir-pikir, akan ia gunakan untuk apa?

Gadis kecil itu memeriksa sakunya yang longgar dan pinggirannya berwarna hitam ketika melewati seorang penjual sate. Bau asapnya seperti mesin pencipta rasa lapar. Ada selembar uang limaribuan baru di sana. Kertasnya licin, membuatnya enggan menggunakannya, layaknya cincin milik Sauron bagi Gollum. Itu pula kenapa ia menahan laparnya sejak pagi. Ia mengulurkan uang itu dan menunggu tusuk-tusuk satenya matang di antara asap yang harum.

Anjing coklat itu masih melingkarkan tubuh. Kepalanya langsung terangkat ketika air mineral mengucur di lidahnya yang terjulur. Ia memandang gadis itu. Membasahi mulutnya dengan lidah lalu menjulurkan lidah itu kembali. Ia menerima satu tutup botol air mineral lagi. Tanpa menunggu perintah, anjing itu memakan potongan daging ayam yang sudah diloloskan dari tusuknya. Gadis itu juga menghamburkan beberapa potong lontong di dekat timbunan kecil daging sate. Sementara ia melahap sendiri potongan lontong yang tersisa.

Selesai pesta makan, gadis itu duduk sambil bersandar di salah satu kaki gajah yang mengkilat karena cat baru. Menunggu si anjing bangun. Anjing itu masih minum air yang dituangkan di atas daun pisang pembungkus sate tadi. Matahari makin turun sehingga sinarnya kini terhalang rimbunan pohon di seberang jalan.

Gadis itu masih tenggelam dalam lamunannya saat anjing itu bangkit tidur dan duduk di sebelahnya, sama-sama menatap lurus ke depan. Mereka seakan heran dengan orang-orang yang berpose dan melemparkan uang untuk berfoto dengan orang-orang yang berdandan segala rupa. Di lain waktu, mereka berdandan seperti pahlawan-pahlawan yang tak pernah diingat siapapun. Lalu, kadang mereka berdandan dengan pakaian-pakaian prajurit keraton. Dan hari ini mereka berdandan seperti hantu-hantu dengan muka rusak atau batok kepala yang ditancap dengan kaleng minuman soda. Mungkin kaleng soda tadi melukai otaknya sehingga tidak bisa membedakan kalau saat itu hari masih siang. Juga ada yang berfoto di depan sebuah plang jalan yang di letakkan di depan sebuah tempat sampah plastik untuk menampung uang. Tapi tak ada yang mengajak gadis cilik itu berfoto bersama. Barangkali karena bocah ingusan itu tak mengenakan sandal.

Menyadari hari telah beranjak sore, gadis kecil itu bangkit setelah mengusap punggung anjing di sampingnya. Ujung gaun kuningnya berkibar menyentuh paving block. Sementara anjing itu berlari kecil sambil menciumi jalan. Seorang perempuan yang baju dan celana pendeknya menguarkan aroma wangi parfum berhenti di depan seorang penjual bakpia yang duduk di atas kursi roda. Perempuan itu mengulurkan selembar uang berwarna hijau begitu saja, tanpa menawar. Padahal sebelumnya ia tak tampak tertarik atau kelaparan melihat bakpia yang wujud dan bungkus mikanya serupa dengan yang ditawarkan seorang perempuan sesaat sebelumnya.

Anjing itu mendadak berhenti mengendus jalanan ketika gadis di depannya memutuskan untuk berhenti melangkah. Gadis cilik itu membuang bungkus sate bekas ia makan tadi ke tempat sampah di dekat pagar jembatan. Kemudian ia berbalik memandangi punggung-punggung pengunjung yang ditutupi baju-baju bagus. Mereka terpukau menikmati pertunjukkan air mancur di kolam di depan benteng Vedrebug. Seakan-akan pertunjukkan air mancur itu adalah hal paling indah di tempat itu.

Gadis cilik itu dengan cepat menjadi bosan. Ia bersandar pada pagar besi yang baunya amis seperti bau tubuhnya. Mula-mula menyandarkan punggungnya. Namun kemudian ia berbalik dan mengamati ikan-ikan kecil yang berkerumun di sekitar sampah plastik bekas makanan. Ikan-ikan itu berenang kesana kemari. Ada juga yang bersembunyi di balik sampah plastik itu.

Tak jauh dari tempat ia berdiri, seorang lelaki tambun berseragam sekuriti baru saja mengusir satu rombongan terakhir dari komplek museum yang sudah saatnya tutup. Satpam museum Benteng Vedreburg itu lalu berjalan ke sebuah tiang bendera di sebelah kanan pintu gerbang museum. Inilah yang dinantikan gadis cilik itu. Secara khusuk, tak lepas ia mengamati lelaki tambun itu berdiri tegak di depan tiang bendera. Ia mendongakkan kepala lalu menaruh tangannya di atas topi seragam selama 8 detik. Setelah menurunkan hormatnya, satpam itu kemudian membuka tali lalu menurunkan bendera merah putih dengan latar musik gamelan jawa sayup-sayup di ujung sana.

Sementara itu orang-orang saling merangkul pingang pasangannya ketika semburan terakhir air mancur jatuh ke kolam. Gadis itu tersenyum ketika menyadari anjing kecil di sebelahnya duduk dengan pantatnya dan satu kaki depannya ia angkat ke kepala yang terarah pada lelaki yang tengah mengurai tali pengikat bendera itu. Gadis itu tersenyum lebih lebar lagi sambil mengusap bulu halus anjing di sebelahnya. Malam ini ia tak perlu takut lagi. Ia tidak akan tidur sendirian nanti malam. [  ]

Kamis, 07 Mei 2015

Kamisan03 #8 Wawancara



Pigor segera duduk di kursi kosong terakhir yang terletak di deretan paling ujung. Lelaki itu melongok jam tangannya yang tertutup ujung kemeja. Masih pukul sembilan lebih lima puluh dua menit. Ia menarik-narik kerah leher kemejanya yang terkancing sambil mencari sesuatu untuk ia perhatikan. Lelaki itu butuh melambatkan pikirannya yang sejak pagi diburu waktu. Udara sejuk pendingin udara membantunya mengeringkan keringat.

Ruangan itu cemerlang oleh warna cerah tembok dan lampu neon yang tak padam di langit-langit. Seorang perempuan sedang menunduk menghadapi sebuah buku besar dan sebidang layar monitor yang menyala. Mejanya panjang, juga berwarna putih, tampak berkilau ditimpa cahay lampu neon. Di belakangnya, sebuah tembok putih ternoda oleh kotak kelabu layar monitor mati, terhambur tanpa aturan dengan beragam ukuran. Pigor menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menyandarkan kepala ke tembok belakang.

Ketika sedang menenangkan pikiran sambil mencoba mencari jawaban paling masuk akal soal penempatan kotak-kotak kelabu itu di tembok, seolah mereka adalah teka-teki yang mesti dipecahkan; Pigor mendadak menyadari keberadaan perempuan yang duduk di sebelahnya. Mula-mula yang negusik adalah bau harum dari daerah sekitar leher dan baunya. Wangi segarnya kentara sekali mencemari udara ruangan yang tawar. Perempuan itu tengah khusuk membaca sebuah buku—entah apa—yang terbuka di pangkuannya. Ujung rambutnya tak mampu menutupi tengkuknya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Sebuah jam tangan mungil mengitari pergelangan tangan serupa gelang.

“Tentang apa?”

“Hmm... “ perempuan itu tak mengalihkan pandangannya dari halaman buku yang tengah ia baca.

“Buku itu,” Pigor nenunjuk buku itu dengan telunjuknya... “bagus?”

Sekarang perempuan itu menelengkan kepalanya sedikit ke arah Pigor, seolah tengah memutuskan apakah akan menanggapi ajakan bicara Pigor atau tidak. “Emm... kau tahu, seharusnya aku tak mengajakmu bicara.” Ujarnya sambil menyipitkan mata.

“kenapa begitu?”

“Karena, secara tidak langsung, kamu adalah musuhku.”

“Oh, tenang saja... aku bukan orang jahat. Kau tahu?”

“Nah... justru karena itu.” Pigor mengerutkan keningnya. “Kita, kamu dan aku ini saingan, untuk pekerjaan ini. Kau mengerti?”

“Ah... “ lelaki itu mengangguk. ”Namamu bukan Autumn, kan?”

Perempuan itu kini benar-benar menyodorkan wajahnya pada Pigor. “Kenapa engkau mengira begitu?”

“Karena ucapanmu barusan mirip sekali dengan dialog Autumn di film 500 Days of Summer.”

“Ah... film itu.” ia tersenyum.

Seorang lelaki keluar dari pintu di ujung sana. Pigor menduga ia baru saja selesai diwawancarai. Perempuan yang duduk di meja putih di depan mereka kemudian menyebut nama seorang perempuan. Namun perempuan di sebelahnya tak jua beranjak dari duduknya.

“Sebenarnya, kau bisa menanyakan langsung kalau engkau ingin mengetahuinya, aku tak keberatan sama sekali. Aku pasti akan menjawabnya.”

“Ah.. tidak. Itu tidak seru. Dan lagi pula kita musuh. Kau ingat?”

Perempuan itu setengah tersenyum. Lalu menggoyang-goyangkan tangannya seolah tengah memainkan sebuah gelang di pergelangan tangannya, jam mungil itu jatuh ke bawah, tepat di tengah antara pergelangan tangan dan sikunya. “Ya, kau benar, kita saingan. Tentu saja!”

“Begini...” Pigor mengacungkan tangannya ke atas. “kau tahu kan, hanya ada satu lowongan di kantor ini? Nah aku akan pergi dari sini jika kau mau pergi makan malam atau nonton denganku, bagaimana?”

Perempuan itu tersenyum, kali ini lebih lebar lagi. Ia memasukkan bukunya ke dalam tas. “Kenapa kamu pikir aku akan tertarik dengan lelaki yang tidak ambisius sepertimu?”

“Tentu saja aku ambisius.”

“Benarkah?”

“Ya! Tapi, mungkin tidak di kantor ini.”

Perempuan itu menoleh ke arah Pigor sekali lagi. Kali ini dengan setengah memutar badan. “Kenapa memangnya dengan kantor ini?”

Pigor diam sejenak menunggu perempuan yang baru saja selesai wawancara lewat. “Lihat itu.” Pigor menunjuk pada tembok di depan mereka.

“Kenapa dengan dinding itu?”

“Tidak teratur! Kupikir pasti isi di dalamnya akan serupa.”

“Nah ini menarik. Kau tahu, aku justru menyukai dinding itu.”

“Kenapa?”

“Pertama, alih-alih diisi oleh lukisan atau foto, tapi tembok itu justru berisi ornamen seperti itu, buatku itu jelas sebuah ide yang menarik. Aku merasa kantor ini akan membuatku merasa tertantang. Soal inovasi. Nah, perkara inovasi inipun sedikit banyak menyinggung apa yang engkau sebut sebagai tidak teratur. Alih-alih melihat itu sebagai tidak teratur, aku justru merasa bahwa ketidakteraturan itu justru menunjukkan bahwa kantor ini menjanjikan kebebasan, dalam artian tidak kaku atau mengekang. Soal imajinasi. Apa yang kurang hebat dari pekerjaan yang seperti itu? Nah, itu yang kedua.”

“Hmmm... tapi bidang pekerjaan yang diiklankan dalam koran bukanlah bidang soal imajinasi. Justru bidang kerja yang membutuhkan keteraturan dan ketepatan. Bukan soal yang bisa diperdebatkan.”
Tapi perempuan itu buru-buru memotong argumen dari Pigor. “Hei... lihat itu.”

Mereka memperhatikan dua orang lelaki yang sedang berbicara dengan perempuan yang sejak tadi duduk di belakang meja putih. Lelaki yang lebih tua berbicara tak peduli pada orang-orang yang duduk di kursi tempat Pigor menunggu. Sementara perempuan itu memasang tampang seorang budak. Yang keluar dari mulutnya hanya iya dan iya sambil sesekali menelpon entah siapa. Dan lelaki muda yang berdiri di sebelahnya dia seperti patung sambil sesekali memeriksa pakaiannya.

Begitu pintu di ujung sana terbuka, lelaki tambun yang sedari tak pernah terlihat masuk kantor tiba-tiba muncul sambil tergopoh-gopoh menyalami lelaki tua yang masih berdiri di dekat meja putih. Setelah bertukar senyum mereka bertiga menghilang masuk ke balik pintu di ujung ruangan itu.

“Kau tahu, aku tarik ucapanku tentang kantor ini. Kurasa kamu benar. Mungkin ini bukan kantor yang tepat untuk kita.” Perempuan itu berdiri dari duduknya. ”Jadi, apa tawaranmu tadi masih berlaku? Kalau masih, aku akan memilih makan saja. Lapar. Belum sarapan nih.”
 
Pigor tersenyum. Masih belum paham benar kenapa perempuan itu meninggalkan wawancara yang sudah dari tadi ditunggunya. Tapi Pigor tak mau ambil pusing, sigap ia berdiri dan meninggalkan tempat itu. [  ]

Kamis, 23 April 2015

Kamisan03 #7 Sahabat



Sudah seminggu ini aku tak melihat Asa. Pintu kamar kosnya selalu rapat tertutup. Terakhir kali aku masuk ke kamarnya, kira-kira sepuluh hari yang lalu, kusangka ia tengah menggali kuburnya. Kertas HVS putih berhamburan seperti asap menguar di udara. Beberapa gumpal kertas yang ia bulatkan dengan tangan memenuhi keranjang sampah plastik berwarna abu-abu. Beberapa lagi terserak di sekitarnya. Sementara Asa kokoh duduk di depan meja menghadapi laptop yang menyala. Tak tampak sekalipun minatnya untuk sekadar menoleh dan menyapaku.

Perempuan itu memutuskan keluar dari tempat kami bekerja sebulan yang lalu. Ia bilang butuh suasana baru. Kendati aku yakin bahwa sesungguhnya Asa mengundurkan diri karena tidak tahan melihat Sustri bahagia. Pigor, kekasih Asa, tertangkap basah selingkuh dengan Sustri ketika Asa dan Pigor tengah mempersiapkan desain undangan pernikahan mereka. Asa bukanlah perempuan yang sudi berkompromi perkara selingkuh. ia mengabaikan semua rencana pernikahannya dengan Pigor. Hingga kemudian akhirnya Pigor menikah dengan Sustri. Tiga hari setelah Sustri kembali masuk kerja usai cuti bulan madu, Asa tidak lagi masuk kantor. Asa mulai tidak masuk kantor tepat ketika sebuah cerpennya dimuat di koran nasional.

Waktu itu aku baru saja pulang dari kantor ketika Asa muncul di depan pintu kamarku. Ia bilang ia butuh bantuanku. Bau kecut tercium dari badannya ketika aku berjalan di belakangnya. Rambutnya belum disisir. Di kamarnya, ia menunjukkan sebuah gaun putih. Asa ingin aku mengambil foto ketika ia mengenakan gaun itu. Perempuan itu menjadi pendiam selama memakai gaun itu; secara cermat ia memperhatikan lipatan-lipatan kecil yang mengembang itu. Ia melihatku di dalam cermin tempat ia mematut diri dan memaksakan sebuah senyum.

“Aku sedang menulis tentang seorang pengantin perempuan, jadi aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengenakan gaun pengantin dan juga bagaimana seorang perempuan tampak dalam gaun pengantin.” Aku sesungguhnya tidak ingin benar mengetahui alasannya, tetapi tampaknya Asa merasa perlu untuk menjelaskan hal itu.

Kemudian aku mengambil beberapa foto seperti yang ia minta. Asa bergaya dalam beberapa pose; sementara tidak dalam satu fotopun dia tertangkap kamera tengah tersenyum. Sesungguhnya, Asa tampak seperti bidadari seperti dalam iklan televisi atau dongeng-dongeng. Ia begitu terserap dalam perannya sebagai mempelai wanita. Setelah itu, tanpa melepas kembali gaunnya, perempuan itu lalu duduk di kursi kerjanya, memandangi laptop, mengetikkan sesuatu, lalu memejamkan mata sejenak untuk kemudian mengetik lagi.

Aku duduk di ranjang Asa sambil memindahkan foto-foto itu ke dalam ponselnya. Kasurnya begitu rapi dan halus, berbeda sekali dengan keadaan kamar itu sendiri di mana segalanya teronggok kasar tanpa perhatian; seolah kasur itu tidak pernah ditiduri. Aku mengabaikan selembar kertas penuh deretan huruf yang terinjak di bawah kakiku. Bukan sama sekali tak tertarik; Asa pasti akan memintaku membacanya jika ia ingin aku membaca tulisannya.

Karena tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku kemudian menghampiri Asa. Meletakkan ponselnya di sebelah laptop. Tulang-tulang bahunya terasa menonjol ketika aku menelekan tanganku di sana. Entah didorong oleh apa, aku memeluknya sekejap, mencium pipinya lalu meninggalkan kamar.

Dua hari setelah itu ia muncul tiba-tiba dari celah pintu kamarnya ketika aku baru saja akan membuka pintu kamarku.

“Aku harus sembunyi untuk sementara waktu. Tulisan terakhirku ternyata membuat beberapa orang marah.” bisiknya pelan tanpa membuka celah pintunya lebih lebar. Aku hanya bisa melihat separuh wajahnya. Ada lingkaran hitam di matanya. Dan Asa masih mengenakan gaun putih tempo hari.

“Apa yang kamu tulis?”

“Bukan hal penting.”

Aku menyipitkan mataku. “Mana mungkin? Kalau tidak penting, kenapa kamu harus sembunyi?”
Perempuan itu mengibaskan tangan di depan mukanya. “Pokoknya, kalau ada yang mencariku, bilang saja aku sudah pindah dari tempat ini! Lagipula, aku memakai nama samaran. Hanya untuk jaga-jaga saja.”

Aku mengangguk. Ia menutup pintunya tanpa sapatah katapun. Bahkan ia tak menjawab ketika aku menanyakan apakah ia sudah makan.

Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihat Asa. tak ada tanggapan apapun dari kamarnya kemarin ketika aku menggedor-gedor kamarnya. Lampu kamarnya tak pernah lagi menyala sejak seminggu yang lalu. Tadi pagi, ibunya menelponku dan menanyakan keadaan Asa. Aku tidak tahu harus berkata apa kepada seorang ibu yang merasa kehilangan anaknya.

Aku sedang menatap keluar jendela ketika selesai menelpon pemilik kosan mengenai situasi Asa. Ia memarahiku karena memberitahukan keadaan itu sekarang. Di luar terang oleh sinar rembulan yang tengah purnama. Cahaya bulan jatuh ke tanah menerobos celah-celah pohon. Lalu, sesosok bayangan berpendar di balik batang pohon duku di halaman. Sesosok perempuan bergaun putih itu melayang. Ia menoleh kepadaku. Namun, tak jelas benar raut wajahnya. Ia menengadahkan wajahnya lalu menekuk kaki ke belakang. Perlahan, sosok itu terangkat makin tinggi. Ketika aku kehilangan keterperanjatanku dan membuka pintu kamar, aku berlari ke halaman. Tak ada siapapun di sana. Aku menatap pintu kamar Asa. Kurasa sudah lama sahabaku jadi hantu.* [ ]


*Sahabatku Jadi Hantu adalah judul lagu milik Dialog Dini Hari.

Kamis, 09 April 2015

Kamisan03 #6 jangan bilang-bilang!



Deru mesin-mesin pabrik telah lama berhenti ketika Sustri memutuskan menyudahi pekerjaannya sore itu. Kalau sekadar menuruti kemauan bos, bukan tak mungkin ia harus pulang tengah malam. Lagipula ada yang harus ia kerjakan sore ini. Sustri ada janji temu dengan seorang lelaki yang ia kenal lewat twitter.

Sebelum pergi, Sustri pergi ke kamar mandi. Di depan cermin Sustri memeriksa bentuk kerudungnya yang hari itu berwarna biru. Setelah agak lama memerhatikan wajahnya di cermin, perempuan itu mencopot kacamata silindernya. Sedikit-sedikit memicingkan mata mengetes pandangannya. Kemudian, seolah ada sisa makanan di sudut bibirnya, Sustri mengusap kedua ujung bibirnya dengan tangan kanan. Melihat bahwa keletihan membekas jelas di wajahnya, perempuan itu kemudian membasuh wajahnya dengan air keran, empat kali. Sambil bertelekan pada pinggiran wastafel, Sustri menimbang-nimbang akan ia apakan wajahnya. Setelah mengusap bintik-bintik air di pipi kirinya, ia kemudian memutuskan untuk membiarkan wajahnya polos tanpa polesan make-up. Sustri kemudian melangkah pergi. Tapi baru satu langkah ia kemudian menengok ke arah cermin, memastikan letak jilbabnya untuk terakhir kalinya. Tersenyum pada dirinya sendiri di dalam cermin.

Dengan cermat ia memasukkan barang-barangnya ke dalam tas. Charger ponsel yang masih tertancap di colokan, flashdisk berisi file film ‘Meet Joe Black’ yang akan ia serahkan pada lelaki itu nanti. Terakhir, Sustri menggeser letak mouse ke tengah bantalan mouse bergambar Harry Potter yang sedang menghunus tongkat sihirnya, lalu berlalu meninggalkan ruangan yang telah kosong itu.

Perempuan itu reflek meletakkan tangannya di depan mata untuk melindunginya dari sinar matahari ketika ia membuka pintu. Hawa panas sisa siang hari telah mereda dibawa pergi angin sore. Pohon jambe di dekat pintu gerbang pabrik bergoyang pelan ujung-ujung daunnya. Sustri membuang nafas panjang, seolah itu adalah awal hari yang baru untuknya. Sambil mengucapkan Bismillah, ia melangkah pelan, menekan luapan perasaan bahwa ia akan bertemu dengan seorang lelaki yang seingatnya cukup terlihat tampan di ava Whatsapp.

“Neng, nanti masak sayur kangkung dan tempe goreng aja ya, ini kuncinya. Eh, sambelnya jangan lupa.” Teriak seorang satpam dari bilik pos jaganya di gerbang masuk kawasan industri. Seorang rekannya yang duduk di luar pos tertawa lebar menimpali godaan satpam itu.

Sustri masih menunduk menatapi jalan aspal tempat kakinya memijak. Ia berusaha untuk tidak mendengar apapun yang mampir ke telinga di balik kerudungnya. Perempuan itu memperbaiki letak kacamatanya seolah kacamata itu telah melorot. Dari bingkai kacamatanya, Sustri dapat melihat kumpulan tukang ojek yang menunggu di pinggir jalan keluar komplek kawasan industri. Seketika Sustri cemberut. Namun begitu, ia terus berjalan, semakin khusuk menekuri jalan aspal yang mulai berlubang. Sustri harus mulai memilih jalan halus yang akan ia lewati. Perempuan itu berhati-hati berjalan menyamping agar tak menyenggol motor-motor berdebu yang diparkir memakan jalan.

“Mah, masak apa tadi di rumah?”

“Neng, jalan aja nih? Ojek-ojek atuh, gratis buat Neng, mah.” Celetuk seorang tukang ojek yang duduk di atas sadel motornya.

Sekali lagi Sustri berusaha menulikan telinga. Memandang tajam ke ujung sepatu. Mulutnya monyong seakan marah pada debu yang mengotori ujung sepatunya. Dahulu, Sustri pernah sengaja naik ojek agar tidak digoda lagi. Tapi apa lacur? Percuma, rutinitas itu tak pernah berhenti. Sejak itu ia tak pernah mencoba peduli akan goda-goda mereka. Lebih sering perempuan itu mengenakan earphone di balik kerudungnya, meski lebih sering sia-sia karena suara musik kadang terlalu lembut sehingga dengan mudah dirusak celoteh kurang ajar mereka.

 Namun semua itu reda ditelan belokan jalan. Dengan sedikit katarsis helaan nafas seperti biasa, Sustri melanjutkan perjalanannya. Teringat pada lelaki yang barangkali telah menunggunya di warung mie ayam di dekat kos, Perempuan itu kemudian memeriksa tas, flashdisk tidak lupa ia bawa. Ada di dalam tas. Melihat botol minyak zaitun di sana, Sustri mengeluarkannya. Meneteskan sedikit di pergelangan tangannya, menutup botol lalu memasukkannya ke dalam tas. Sambil masih berjalan, ia menggosokkan kedua pergelangan tangannya, menghidunya sekejap, lalu menempelkan pergelangan tangannya ke kerudung dan bajunya. Sore masih merayap, hangat, angin sore menabur debu ke udara.

Bulat matahari menuju senja malu-malu bersembunyi di balik bangunan-bangunan pabrik; rumah-rumah tua yang miring; ruko-ruko mentereng yang warnanya seperti pelangi. Sustri kadang meloncat seleret cahaya mentari yang jatuh ke trotoar, seolah sedang meloncati tanggul dari cahaya. Perempuan itu tak berniat berlomba balap dengan angkot-angkot atau kendaraan pribadi yang tak peduli dengan rambu-rambu lalu lintas atau lampu merah. Sopir-sopir angkot yang memanggil-manggilnya untuk naik. Tidak, sustri tengah menikmati jalan kaki.

Warung mie ayam yang ia tuju itu masih agak jauh, tetapi sudah tampak dalam jangkauan matanya. Tempat itu berada di kanan jalan. Dan masih ada sekitar seratus meter lagi jalannya. Namun, ada pedagang-pedagang kaki lima yang memisahkannya dari warung itu. pedagang-pedagang itu memenuhi trotoar dengan barang jualannya. Mau tak mau Sustri harus turun dari trotoar. Perempuan itu masih berjalan sambil mengamati jalan aspal tempat ia berpijak. Kemudian, dari arah depan, sebuah motor yang melawan arus oleng karena roda depannya masuk ke satu lubang yang agak dalam. Stang motor itu menarik tangan kanan Sustri yang erat menggenggam tali tas selempangnya. Beruntung ia tidak sampai jatuh. Tapi motor itu kemudian jatuh menabrak sisi luar trotoar. Pengemudi motor itu menggeram seperti seekor anjing yang berahi. Sustri sambil mengusap lengannya yang tersangkut stang motor berlari seperti seorang buronan dengan menahan sakit.

Setelah agak jauh, baru Sustri berjalan seperti biasa. Lagi-lagi menghela nafas tak bosan-bosan. Mengatur detak jantungnya karena warung mie ayam itu telah ada di seberangnya, juga untuk meredakan ketegangan karena peristiwa di belakang tadi. Langit sore masih terang. Matahari belum juga tenggelam. Ia masih berdiri menunggu lalu lalang kendaraan agak sepi.

“Neng, sudah nikah?”

Sustri menoleh ke arah datangnya suara. Seorang pemuda yang menggenggam tumpukan lembaran uang tengah tersenyum ke arahnya. “Udah.”

“Suaminya mana?”

“Ada di rumah.”

“Waaaah kalau Aa punya istri kayak Neng, pasti nggak akan ditinggal ke mana-mana sendirian.”

Sustri tak menghiraukannya. Ia melangkah turun ke jalan. Berjalan cepat demi jalan lengang yang sebentar.

Perempuan itu berhenti di depan pintu masuk, lalu memeriksa isi warung dari lubang pintu masuk. Ia melihat lelaki itu, tapi entah kenapa enggan untuk menghampiri lelaki itu. lelaki itu terlihat lebih tampan di dunia nyata. Sustri mengambil ponselnya dari tas. Membuka-buka tab chat di ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada lelaki itu.

aku udah sampai. Kamu di mana?’

Dari sudut matanya, Sustri tak lepas memperhatikan lelaki itu. Deg plash. Hampir saja perempuan itu pingsan kala melihat lelaki itu mengambil tersenyum saat membuka pesan masuk diponselnya. Sustri diam tak bergerak seperti patung lilin, ia lupa akan kejengkelan-kejengkelan yang memenuhi hatinya sepanjang perjalan tadi. Lalu tak lama kemudian lelaki itu menghampirinya.

***

“Kamu masih ingat flashdisk ini, Dek?”

Istriku tersenyum melihatku menunjukkan Flashdisk miliknya itu. ia kemudian duduk di pangkuanku setelah meletakkan segelas teh hangat untukku di meja. “Tentu saja. Bagaimana mungkin aku lupa akan hal yang kemudian mempertemukan kita?”

“Kenapa kamu bisa suka padaku?”

“Apa aku harus punya alasan untuk suka padamu?” perempuan berpipi gemuk itu melingkarkan tangannya ke leherku.

“Katakan padaku, apa saja. Aku ingin tahu.”

Ia mengamati kerah bajuku. ”Mmmmm entahlah.”

“Ayo katakan padaku.”

“Baiklah... begini, kamu ingat pas aku dateng terus aku chat kamu?” aku mengangguk. “Demi apa, pas melihat kamu senyum, hatiku langsung lumer.”

Istriku itu langsung memerah pipinya. “Sesederhana itu?”

Ia mengangguk dan mengecup pipiku lembut. Setelah mencoba mengingat peristiwa itu tiba-tiba aku menjadi malu. Aku tidak tega untuk mengatakan hal ini pada istriku: bahwa pada saat itu, sesungguhnya aku tersenyum karena membaca pesan dari Asa, teman sekantor yang mengiyakan ajakanku nonton bioskop keesokan harinya. Tapi aku tidak memberitahukan hal itu, aku membalas ciumannya dan menggendongnya ke kamar. [  ]