Kamis, 21 November 2013

Kamisan #9 Meteor - Berkah Hari Jumat Dan Tuah Bintang Jatuh



Bolehkah bila kubilang aku sebenarnya hampir putus asa kala aku memulai tulisan ini? Ya, lebih baik aku beritahukan lebih awal sebelum kalian memutuskan hendak membaca tulisan ini lebih lanjut. Aku sedang tidak tahu akan menulis tentang apa saat ini. Maka, maklum dari kalian barangkali adalah semacam keberuntungan bagiku. Setidaknya mengurangi sedikit rasa maluku.

Jam digital di ruang tunggu bandara Adisucipto memberitahukan waktu sudah pukul 20.44 WIB, warnanya merah tua. Sudah hampir dua jam lewat dari jadwal semula yang tertera di kertas tiket di tanganku. Muka-muka lelah di sekitarku tak meninggalkan bekas kebaikan maskapai penerbangan yang telah menyogok penumpang terlantar dengan sebuah nasi kotak berisi gundukan kecil nasi yang mampat terbentuk ke dalam cetakan mangkuk dan sepotong ayam goreng tepung yang garing serta sebungkus saus sambal yang biasanya aku sukai.

Aku sedang membaca sebuah buku kumpulan cerpen yang baru saja kubeli siang tadi, sesaat sebelum aku berangkat, tepat seperti biasa aku lakukan ketika pulang kampung, berbelanja buku demi menjaga stok buku bacaanku selama nanti aku terasing dari buku-buku yang aku senangi, ketika kemudian perhatianku teralihkan dari rangkaian kata di kertas berkualitas baik yang menyenangkan mata kepada sesosok perempuan berkulit bersih tak jauh dari tempat aku duduk. Ada sekitar tiga ubin keramik putih yang membentangkan jarak di antara kami, sehingga memberiku kedok untuk bersembunyi dari mencuri pandang ke arah lehernya yang tidak tertutup kerah pendek bajunya. Kulitnya cerah, menggiurkan seperti langit biru yang menggoda untuk dipandang.

Hari ini hari kamis, malam jumat, malam di mana banyak orang menjadi orang yang taat beribadah demi menunaikan sunah Rasul. Malam jumat adalah hari yang indah dalam agama islam bagi sepasang suami istri. Malam jumat, dalam kalender jawa dan islam, sudah boleh disebut hari jumat. Tentu saja, seperti kalian ketahui, hari jumat adalah hari yang penuh berkah. Aku sedang memandang lapisan langit di luar sana, langit yang dipisahkan dariku oleh sebaris kaca yang tak tampak olehku. Khusuk sekali aku memandang hamparan langit itu seolah aku yakin bisa menemukan Tuhanku di luar sana, meminta bukti bahwa hari jumat adalah hari penuh keajaiban. Lalu selarik cahaya panjang melintas, tertangkap oleh mataku yang sedang melamun. Bintang jatuh, di satu pihak disebutkan sebagai pertanda Tuhan yang sedang melempar setan, dan di pihak lain banyak yang berpendapat bahwa bintang jatuh adalah saat yang tepat untuk membuat permohonan, sebuah doa yang konon lebih mungkin terkabul saat dibuat ketika kita melihat bintang jatuh. Sesungguhnya aku tahu bintang jatuh hanyalah meteor yang melintas dan bersinggungan dengan lapisan atmosfer bumi, yang dari gesekannya membuat meteor tersebut tampak bercahaya. Namun, sebagai orang hampir putus asa, tidak bolehkah aku terlalu berharap pada hari jumat penuh berkah dan kekuatan mitos bintang jatuh agar terjadi sebuah keajaiban?

Kemudian, salahkah jika akalku yang sejak awal tadi sudah kujelaskan sedang dalam keadaan tanpa harapan lalu dengan sendirinya menciptakan sebuah upaya untuk membuat aku mempercayai masih ada sedikit harapan buatku? Maka tanpa prasangka sedikitpun aku memutuskan membuat doa, atau sebut saja khayalan akan kebahagian, dan meyakini bahwa perempuan berambut ikal yang menutupi bidang bahunya tetapi secara ceroboh memamerkan ceruk melintang yang terbentuk dari lapisan lemak yang menunjukkan isi sebagian badannya yang terawat itu sebagai perempuan yang dulu, di masa yang telah lalu, bahkan mungkin pada kehidupan yang lain, adalah seorang perempuan yang pernah memelukku dan memanggilku dengan panggilan kekasih yang nyaman di telinga.

Maka menjadi wajar ketika muncul keinginan untuk mengatakan padanya bahwa dia adalah kekasihku di masa lalu, di kehidupan yang sebelum ini. Tapi, lalu lalang orang banyak, dan keramaian yang mengelilingiku memaksaku menabung keinginan untuk mengucapkan kalimat itu. Satu-satunya kemungkinan terburuk yang menghalangiku adalah rasa malu yang menumpuk di mukaku jika tanggapan perempuan itu tidaklah seperti yang aku angankan. Bayang rasa malu itu cukup bagiku untuk tidak melakukan hal yang seolah konyol itu.

Namun, berkah hari jumat dan tuah bintang jatuh sepertinya tidak mengijinkan aku untuk berdiam diri. Setelah berusaha keras untuk menahan diri dan menyamankan diri agar aku tidak menyesal saat tak mengucapkan rangkaian kata manis yang tertera di pikiranku, tiba-tiba sesuatu yang kupaksakan untuk kuyakini itu kini tampak mengejekku, menimbulkan keraguan padaku dalam cara yang konyol, kalau tidak boleh aku sebut sebagai kebetulan yang biasa sekali terjadi dalam setiap jenis kehidupan seseorang. Perempuan yang mengenakan cardigan hitam itu duduk di baris yang sama denganku. Kenyataan bahwa ia duduk di kursi 24A di samping jendela dan aku duduk di kursi 24C di sebelah gang dalam kabin pesawat serta tidak adanya orang yang duduk di kursi 24B yang menghalangi kami, secara sadar membuat aku kembali meninjau keputusanku.

Lalu, saat perempuan berbibir penuh itu, entah sengaja atau tidak, menoleh ke arahku, secara spontan sesudah mengumpulkan secuil keberanian yang diperlukan, akupun menyapanya. “Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih.” Ujarku dengan suara datar yang tak kupaksa sedemikian rupa agar terdengar seolah aku tak mengharapkan reaksi apapun, demi terlihat meyakinkan di mata perempuan yang hidungnya menempel serasi di antara pipi-pipinya yang gemuk.

“Benarkah?” sahut perempuan bersuara seperti anak kecil itu setelah cukup lama memandangiku. Aku kemudian merasa kian yakin bahwa berkah malam jumat dan tuah bintang jatuh sedang bekerja.

“Tentu saja,” aku tak bersedia memberi ruang pada ragu untuk menyerang pikiran perempuan yang masih menoleh padaku itu “kau bisa percaya padaku, sepasang kekasih tak mungkin berbohong.”

Pada kesempatan ini percakapan mengalir begitu mudah. Sungguh, demi hormatku pada kalian sebaiknya aku tak terlalu banyak bercerita secara detail tentang apa yang kami bicarakan. Yang pasti, kami sedikit sekali berbicara tentang diri kami. Kami lebih banyak berbicara tentang hal-hal yang berkenaan dengan alasan perjalanan kami ke Balikpapan serta kronologi keberangkatan kami dari rumah ke bandara hingga tersesat dalam lelah karena kebosanan yang sangat ketika dipaksa harus menunggu pesawat yang akan kami tumpangi. Begitu larutnya dalam perbincangan, yang kian meyakinkanku akan doa atau khayalan yang terwujud karena berkah hari jumat dan tuah bintang jatuh, aku belum sempat menanyakan nama perempuan berdagu mancung itu, bahkan sampai pesawat mendarat di bandara Sepinggan dengan goncangan yang mengagetkan.

Sebelum aku melepas sabuk pengaman dan berdiri dari dudukku, aku kemudian bermaksud menanyakan sedikit identitas dirinya agar bisa tetap terhubung dengan perempuan sederhana yang bahkan tak mewarnai bibirnya yang berwarna coklat pucat itu. “Jadi, sebelum kita berpisah, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Perempuan itu tersenyum ramah padaku, sudut-sudut matanya berkerut membentuk lipatan kecil yang mempercantik bola matanya yang hitam dan sendu. “Kau sungguh tak mengenaliku, ya?” perempuan itu terdengar meyakinkan.

Aku menarik kepalaku ke belakang, mengamatinya lebih seksama. Aku masih heran saat ia melanjutkan. “Menyedihkan sekali! Kau bahkan tidak pernah mengingatku sama sekali.” perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku Elly, teman SMP-mu yang sering mengerjakan PR-mu.” Elly mengambil jeda, menarik bibirnya untuk memamerkan senyum yang tak lagi nyaman dilihat. “Aku pernah menaruh rasa padamu, dulu,” Elly menekan suaranya pada kata terakhir “kesempatanmu sudah lewat. Sayang sekali.” Elly berdiri dari duduknya, tanpa permisi melewatiku yang masih duduk, memberikan aku pantatnya untuk kucium. [ ]



*tulisan ini terinspirasi dari cerpen ‘Perempuan Dari Masa Lalu’ – A.S Laksana.
*Di masa lalu, kita adalah sepasang kekasih ~ dikutip dari ‘Perempuan Dari Masa Lalu’ – A.S Laksana.

Kamis, 14 November 2013

kamisan #8 masa kecil - perkenalan pertama


Hari yang tadinya panas tiba-tiba hujan. Aku berlari keluar lapangan, meninggalkan teman-teman sepermaianku yang tetap melanjutkan bermain bola di belakang sana. Aku berteduh di bawah emperan rumah mbah Karto, mengerutkan diri sejauh mungkin dari percikan air hujan. Dengan melipatkan tangan di depan dada, aku terpana menatap kegembiraan teman-temanku merayakan hujan sambil bermain bola di atas lapangan tanah yang kemudian berlumpur. Masih ada sembilan orang yang berteriak-teriak meminta bola di sana. Selain aku, ada dua orang lain yang terbirit-birit menghindari hujan. Anto dan ali, mereka itu masuk ke rumah masing-masing. Kembali pada ibu-ibu mereka.

Hujan makin menjadi. Sementara keringat di dahiku belum sempat tumbuh, Cuma mengilapkan kulit coklatku saja. Kemudian iri dengan cepat memuati diri, berat seperti awan hitam yang mengandung air tapi belum menjadi hujan. Debu sisa tanah di lututku tampak cengeng, seperti merengek minta dikembalikan ke lapangan sana. Tapi bengek yang lembek mengekangku dari keinginan. Aku terbenak pada kemarahan dan kesusahan yang akan ibu tanggung bila aku memaksakan diri.

Bola plastik yang bocor meluncur kepayahan dihadang rintik hujan, jatuh di luar lantai semen, tak jauh dariku. Teman-temanku berteriak membujukku mengembalikan bola itu ke tengah lapangan. Kutatap bola itu dengan ragu. Bentuknya yang bulat dengan mudah menyaru selayaknya wajah yang meledekku. Aku kalap. Kutendang bola itu ke tengah lapangan, dan kukejar, masuk ke arena berlumpur; lupa akan bayangan Ibu.

Air hujan menggenang di bagian yang cekung, menciptakan keceriaan yang tumpah ruah saat bola mampir ke sana. Air coklat di tendang. Adi mengusap-usap wajahnya, mengerjapkan matanya cepat sebelum tertawa dan membalas siapa saja yang berkubang di sana. Aku melonjak dan menghentakkan kedua kaki demi membuat riak air besar yang akan mengenai semua temanku, lalu aku lari membawa bola sebelum siapapun sempat membalasku. Lalu tiba-tiba petir muncul, tangannya yang kurus dan bercahaya menyeruak dari kolong langit, seolah hendak meraih apapun atau siapapun yang sanggup ia raih. Suaranya yang memekakkan telinga mengagetkan aku, dan teman-temanku. Kami serentak tiarap, tanpa suara, dengan kedua tangan menutupi daun telinga. Kemudian semua bubar, lari menghambur ke rumah masing-masing.

Aku bangun, sendirian, tiba-tiba rasa takut mencengkeram tengkukku. Dingin mulai menyerang dadaku. Sekonyong-konyong aku teringat ibu. Aku berlari menuju rumah, lekas, tak peduli pada hujan. Di belokan terakhir aku terjatuh, pikiranku penuh duga dan alasan yang sengaja kusiapkan bila diperlukan. Lututku berdarah, bercampur tanah, tapi tak kuhiraukan. Aku terus berlari.

Pintu rumah masih tertutup. Ibu belum pulang. Aku pergi ke sumur cepat-cepat. Kurendam baju-baju kotorku. Menimba air dari sumur, kusiram lantai dari noda bercak tanah. Selesai mandi, kukerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah agar ibu senang; mencuci piring, menyapu, memasak nasi, mengisi gentong dengan air sumur, memasak air panas, serta mencuci baju kotorku tadi siang. Selesai semua itu, ibu masih belum pulang.

Aku hampir lega, saat mendadak nafasku mulai berat. Tentu saja aku tidak bisa berbohong kalau sesak nafasku kambuh. Ibu pasti tahu aku habis bermain hujan. Aku ke dapur, menyeduh teh. lalu menenggaknya panas-panas. Perlahan hangat mulai menyusupi dadaku, sedikit meringankan tarikan nafasku.

Pintu depan terbuka, Ibu muncul sambil membawa plastik besar ditangannya. Wajah Ibu yang lelah memandangiku seksama. Bulir air hujan menetes dari ujung rambutnya yang basah. Bajunya turut basah sebagian, pasti Ibu berlari juga untuk menghindari air hujan. Tanpa berkata apapun Ibu pergi ke belakang setelah meletakkan plastik hitam bawaannya di atas meja, tak jauh di depanku. Hendak sekali memeriksanya, tapi urung.

Ibu muncul dengan handuk yang dililitkan di atas kepalanya dan segelas teh hangat. Aku berusaha keras menahan nafasku sebiasa mungkin saat Ibu mengambil duduk di sebelahku. Ibu memegang dahiku sesudah meletakkan gelas teh di depanku. Kemudian, masih tanpa kata-kata ibu mengeluarkan kumpulan majalah Bobo dan Donald Bebek serta Asterix dan obelix. Majalah-majalah itu compang-camping, majalah bekas milik anak majikan Ibu, tetapi tetap saja tampak menggiurkan buatku.

“nih baca, biar gak bosan diam di rumah.” Yang aku dengar adalah ‘nih baca, dan jangan main hujan lagi.’

Aku tersenyum. Ibu tahu aku habis bermain hujan-hujanan, tapi aku tidak khawatir. Untuk kali ini. [ ]

Kamis, 07 November 2013

Tak Semua Hal Memerlukan Alasan


Alasan hanyalah salah satu cara seorang pengecut untuk mengatakan tidak. Tidak! Sesuatu hal seringkali, sesungguhnya, hanya memerlukan iya atau tidak, sedangkan alasan hanyalah salah satu hal penguat cerita, tetapi tetap tidak akan mengubah sesuatu inti cerita tersebut. Alasan adalah hal sepele. Percayalah, sepele. Dalam banyak hal, sesuatu yang terjadi hanya terlihat antara iya atau tidak, tidak ada hal lain.
***
Apa alasan engkau hidup di dunia? Apakah hidup memerlukan alasan? Kenapa hidup memerlukan alasan?
Dalam hubungan manusia dengan Tuhannya, barangkali alasan itu penting. Alasan mungkin perlu dalam hal ibadah. Tapi tidak semua hal tentang ibadah memerlukan alasan. Saat engkau beribadah, sedekah atau sembahyang, mungkin alasan bisa mempengaruhi nilai ibadahmu. Tapi, bahkan dalam hal ibadahpun alasan tidak mutlak diperlukan. Aku melihat ada dua macam alasan yang bisa dibedakan pada hal ini. Pertama, untuk apa engkau beribadah? Tujuan engkau beribadah? Alasan yang paling sering diberikan adalah untuk mendapatkan ridhla ALLAH. Maka, di sini alasan menjadi perlu dan penting, akan mempengaruhi nilai ibadahmu. Apa motivasimu dalam beribadah itu penting bagi ibadahmu. Namun, pada hal kedua, kenapa engkau beribadah? Apa perlunya engkau beribadah? Pertanyaan ini seharusnya tidak memerlukan alasan. Kenapa? Karena ibadah itu sejatinya bukan untuk ALLAH. Ibadah itu untuk diri sendiri. Karena ALLAH tidak memerlukan pujian dan penghambaanmu, sungguh Maha Besar ALLAH yang tidak akan berkurang kebesaran-NYA tanpa pujian/penghambaanmu, bahkan ALLAH tidak memerlukan manusia. Bahkan, jika seandainya seluruh manusia di bumi ini seluruhnya tidak menyembah ALLAH maka niscaya hal itu tidak akan mengurangi keagungan ALLAH.
Namun, bagaimana saat hal itu harus bersinggungan dengan keikhlasan? Ikhlas; tanpa pamrih; tak mengharapkan imbalan. Masihkah alasan diperlukan? Aku berbuat baik karena ingin mendapatkan pahala dari ALLAH, ingin mendapatkan surga-NYA. Apakah alasan itu bisa diterima? Manusia memang mahkluk lemah yang tak bisa berlepas diri dari Tuhannya, berdoa atau meminta pada Tuhan bahkan dianjurkan. Tapi, apakah aku ikhlas saat aku berbuat baik? Tidak bila aku masih mengharapkan imbalan berupa pahala dari ALLAH. Berbuat baik sepertinya termasuk hal yang tidak memerlukan alasan. Berbuat baik untuk ALLAH dan berbuat baik untuk mengharapkan pahala dari ALLAH, bagiku adalah hal yang berbeda. Berbuat baik untuk mengharapkan pahala dari ALLAH itu boleh, tidak salah. Tetapi apakah itu termasuk ikhlas? Ikhlas itu tidak mengharapkan imbalan, termasuk pahala. Ikhlas itu saat engkau berbuat sesuatu tanpa alasan apapun. Nah, di sini, dalam keikhlasan, alasan tidak diperlukan.
Lalu, di mana alasan berdiri di sebuah peristiwa yang lepas dari kedua hal tadi? Seperti, ambil contoh, ketidakhadiran seseorang dalam sebuah tes wawancara. Saat ia tidak hadir dalam sebuah tes wawancara untuk sebuah lowongan pekerjaan apakah alasan diperlukan? Tidak. Apapun alasanya? Tidak. Bagaimana bila alasannya atas kesengajaan atau karena kecerobohannya? Jelas alasan tersebut tidak diperlukan. Lalu, bagaimana bila alasannya dikarenakan oleh sesuatu yang di luar kuasanya? Bahwa ia tidak bisa hadir dalam wawancara tersebut karena ia terjebak macet karena ada demo buruh misalnya. Barangkali, meskipun sangat aku sangsikan, ia bisa meminta kelonggaran dari pihak perusahaan untuk diberi kesempatan wawancara di lain waktu, tetapi hal itu tidak bisa merubah fakta bahwa ia tidak bisa hadir dalam wawancara di kesempatan pertama. Situasi akan menjadi lebih jelas saat seseorang itu berhadapan dengan situasi jadwal keberangkatan pesawat terbang. Alasan apapun tidak akan diterima, tiket tetap hangus bukan? Di sini, alasan tidak diperlukan (lagi).
Seorang siswa tidak masuk sekolah, alasan dipandang sebagai sesuatu yang perlu, sakit atau ada izin ataukah tanpa keterangan sama sekali. Seorang pegawai yang tidak masuk kerja? Sama dengan kasus pertama, alasan diperlukan.
Dalam hubungan manusia dengan manusia: Di sini posisi alasan menjadi tidak pasti. Alasan yang di luar kuasa seorang manusia dan tersebab dari kelemahan manusia tersebut. Dan juga ada faktor dari toleransi seorang manusia. Apakah manusia tersebut cukup penuh pengertian untuk menerima alasan seseorang yang lain?
Dalam hal yang lain, saat engkau meminta bantuan dari seorang teman; meminta kesediaan seseorang untuk menjadi kekasihmu, atau meminta kekasih untuk mau menikahimu, alasan apapun yang ia kemukakan tidak akan merubah apapun jawaban yang ia berikan. Seperti aku bilang pada awal tulisan ini, alasan hanyalah cara seorang pengecut untuk bilang tidak, untuk membela diri dan keputusannya. Saat seseorang memberikan bermacam alasan, maka percayalah, dari keberbelit-belitan itu, dari sebanyak apapun penjelasan yang ia berikan, semua itu hampir pasti bisa disederhanakan dengan satu kata, TIDAK. Ia tidak mau, tidak bersedia atau tidak mampu.
Bagiku pribadi? Bila aku berbuat sebuah kesalahan, hal pertama yang aku seringkali lakukan adalah mengakui kesalahan. Aku tidak menyukai alasan untuk membenarkan kesalahanku, meskipun kesalahan itu mungkin terjadi bukan karena kuasaku, di luar kuasaku, sesuatu yang bisa aku cegah. Aku bersalah, engkau terima atau tidak, aku telah bersalah, aku meminta maaf. Alasan adalah hal terakhir yang akan muncul untuk kukatakan. Aku tak memerlukan alasan. Sesuatu terjadi atau tidak, tidak memerlukan alasan, dalam duniaku.
Begitu juga dalam hal-hal yang hendak dan telah aku lakukan. Tidak ada alasan khusus yang aku butuhkan untuk melakukan sesuatu, untuk hidup. Aku tidak memerlukan alasan untuk memberikan uang recehku kepada seorang pengamen; untuk membantu seseorang yang memerlukan bantuan; untuk tetap menjalani hidup yang ini-ini saja; untuk hidup dalam dunia yang serba teratur atau dunia yang penuh spontanitas. Aku tak memerlukan alasan untuk hidup, aku hanya tahu untuk bertahan hidup dan menjalani hidupku yang seperti ini. Ya, engkau boleh bilang hidupku menyedihkan atau apapun. Kau boleh kasihan padaku. Itu jika engkau tidak setuju denganku, tentang hidup yang tak memerlukan alasan. Tapi, izinkan juga aku untuk kasihan kepadamu, kepada orang yang membutuhkan alasan untuk hidup; kepada orang-orang yang membutuhkan alasan untuk tertawa, untuk bahagia. Aku sama tidak habis pikirnya denganmu yang menganggap hidupku menyedihkan, bagaimana mungkin hidup seorang manusia bisa ditentukan oleh sebuah alasan? Penting atau tidak, alasan tetaplah alasan. Dan aku tidak menyukainya.
Seperti juga dengan sebuah peristiwa yang baru saja aku alami. Aku mengecewakan seseorang. Aku telah berjanji memberikan sebuah hadiah untuk seseorang, lewat sebuah sambungan telepon. Namun pada hari yang dijanjikan itu, pada hari yang telah direncanakan, dengan rencana awal aku akan menelpon pada saat hari sedang tua, pada suatu waktu menjelang sore. Dengan estimasi perjalan yang harus aku tempuh dari tanjung(kalimantan selatan) menuju Batu Kajang(kalimantan timur) akan mampu ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam perjalanan darat, maka aku memutuskan untuk berangkat pada pukul 9 pagi dari tanjung. Dengan perkiraan dalam bayanganku, beangkat jam 9, menunggu angkot paling lama satu jam, perjalanan bila lancar akan bisa ditempuh dalam waktu 3 sampai 4 jam, maka aku merasa akan punya cukup waktu untuk menunaikan janjiku, menelepon, paling lama aku akan sampai tujuan pukul 2 siang paling lambat. Namun rencana tinggal rencana, ada hal yang memaksa aku pergi melakukan kerja yang tak tertunda, pergi ke lokasi(hutan) setengah jam kemudian, sebelum sempat aku menunaikan janji. Yang lebih celaka adalah di tempat lokasi aku harus melakukan kerja tidaklah menyediakan sinyal seluler untukku menelpon. Aku baru selesai melakukan kerja dan keluar dari lokasi pada pukul sembilan malam dikarenakan jauhnya akses jalan yang harus dilalui. Lalu, keadaan belum selesai, aku dipaksa mengikuti kemauan atasanku, melanjutkan perjalanan lagi ke Balikpapan, dengan estimasi waktu 3 sampai 4 jam perjalanan darat. Karena keadaan sinyal yang tidak merata sepanjang jalan dan situasi aku sedang di jalan dan berada di tengah banyak orang, aku menunda(lagi) menunaikan hutangku. Saat telah tiba di penajam, di atas kapal Feri dengan sinyal yang mendukung barulah aku memutuskan untuk menelepon. Namun itu sudah terlambat, aku sudah membuat seseorang kecewa.
Percayalah, uraian itu bukanlah usahaku untuk membangun sebuah alasan. Aku tak menganggap perlu untuk mencari alasan. Yang jelas adalah aku telah bersalah. Dengan atau tanpa alasan, seseorang telah kecewa karena aku.  Alasan sungguh tidak diperlukan untuk urusan ini, alasan takkan mampu mengubah apa yang sudah terjadi.
Lalu masihkah hidup memerlukan alasan? Apakah alasan masih bisa diterima? Ya atau tidak, terjadi atau tidak, hanya itu.
Aku sudah memilih, hidup tanpa alasan adalah yang paling aku sukai. Kamu?

kamisan #7 melankholia - saat engkau mengecewakan seseorang


Malam ini bulan tampak begitu pucat. Sinarnya jatuh tanpa gairah memenuhi ruang pandangku. Jalanan sepi, aspal jalan yang hitam menambah muram kesunyian.
Aku sering bilang bahwa aku sudah tidak punya hati lagi, tapi semalam aku merasakan ada yang teriris-iris di dadaku. Memang aku tidak bisa memastikan bahwa yang tengah teriris itu hatiku. Namun aku tak mampu mencari tahu bahwa itu bisa jadi adalah hal lain.
Aku (lagi-lagi) telah mengecewakan seseorang. Sepertinya aku memang berbakat sekali  tentang hal itu. Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasinya?
Aku bahkan tengah dalam perjalanan kembali dari kerja ketika aku tahu bahwa aku telah mengecewakan seseorang. Menggigil oleh kegunaan pendingin udara yang dinyalakan untuk mengusir embun pada kaca mobil, aku duduk termenung di kabin belakang mobil, memenggengam telepon seluler yang baru saja mendapat sinyal dari tower relay dan menyampaikan padaku pesan-pesan secara bertubi-tubi dengan barisan huruf kecil yang terserak dan muncul leher serta kaki yang memanjang karena mengambil tempat begitu banyak dan hanya menyisakan sedikit tempat untukku bernapas. Kaca mobil yang dilapisi plastik film tak memberiku banyak kesempatan untukku mencari pemandangan nyata bagi kedua mataku yang lelah, telah lebih dari 10 jam aku berada di dalam mobil ini. Lelah, kursi mobil yang longgar dan berlapis kulit sungguh tak mampu menggairahkan kantukku. Aku tak  bernafsu untuk melampiaskan niatku beristirahat di atas permukaan kulit mati dan berbau keringat itu. Duduk murung sembari mengalihkan perhatiannku darilayar telepon seluler.
Didik, lelaki beranak satu yang jauh dari istri yang barangkali tengah menyusui bayi kecilnya itu tampak serius memandangi ujung cahaya lampu depan berwarna kuning yang seolah berlari menjauh dari kami. Tak ada nyanyian atau celoteh panjang yang biasa ia lontarkan untuk menjaga kesiagaannya agar mobil tak memberontak dan lari ke bahu jalan aspal yang tak mempunyai marka jalan. Aspalnya baru, entah belum sempat dibuatkan marka jalan atau memang uang untuk mengecat garis putih panjang itu telah digunakan seseorang untuk membuat tertawa orang lain yang cukup penting atau cukup berarti. Dalam malam gelap seperti ini jelas hal itu berbahaya, sungguh melelahkan bagi Didik untuk terus sepenuh perhatian menunggu kesempatan untuk sekadar mengendurkan sedikit kewaspadaannya. Bahkan jalanan pun seperti tak mengizinkan aku menikmati perjalanan pulang ini.
Kami bertiga di dalam mobil ini, tetapi tak ada daya hidup yang meu memenuhi udara dingin di antara kami. Pakdhe Hadi sepertinya terlelap dan enggan mempedulikan kesadaran Didik. Membiarkan Didik sendirian membawa kami lebih dekat pada tempat di mana aku biasa memerangkap diri dalam selimut kemalasan, membiarkan diri dikuasai nyamannya tempat tidur. Aku suka membuat diri terlena dan menganggap sinar matahari sebagai sesuatu yang jahat dan mampu melukai mataku, maka aku mengerut bersama khayalan di bawah atap seng yang membohongiku setiap kali aku merasa harus bangun, keremangan di mana-mana selalu berhasil membujukku mematung dan melesak lebih dalam di permukaan kasur yang mengembung pada pinggir-pinggirnya.
Pada akhirnya jalan hitam serta gelap itu berakhir juga. Habis di bibir teluk yang lebar memangsa waktu dan daya manusia yang ingin melompat ke daratan di seberang sana menjemput kemalasan yang melimpah diwartakan setan. Dengan merayap seperti sloth, mobil kami kemudian masuk ke dalam lambung sebuah kapal feri yang besinya sudah tua. Cat-catnya bengak tergusur oleh lubang udara yang terjadi oleh karat yang semakin tua menggerogoti besi pejal dibaliknya, menyembul seperti gundukan tanah dari makam seseorang yang baru dikuburkan siang tadi. Bau garam yang biasanya nikmat di lidah berubah menjadi amis dan menjijikkan bagi hidung dan paru-paruku. Aku turun dari mobil. Bermaksud untuk mencari angin malam berbau garam dan dingin di tingkat atas, aku berjalan miring menghindari untuk tidak terpapar permukaan mengilap dan lengket cat dinding lambung kapal seolah ada noda ataupun bakteri yang barangkali bisa menulari kerentaan kapal ini padaku. Aku agak takut saat harus melewati anak-anak tangga yang begitu sinis padaku. Rentang tangga itu tidak panjang dengan lebar yang tidak ramah bagi orang berpantat penuh. Setelah bersusah payah membawa badan kepada ruangan berangin kencang, kemudian aku mencari tempat yang menurutku nyaman untuk duduk.
Ruangan setengah tertutup itu lengang, seperti goa di sebuah bukit batu. Baunya sama seperti bau amis di dek bawah. Hanya ada bangku-bangkku kesepian yang permukaannya dingin. Kursi-kursi plastik itu seperti rerumputan di musim kemarau, payah dan compang-camping. Bahkan muka penjual makanan di gerai butut dekat tangga tampak mengantuk, matanya cekung, berwarna gelap bundar, tak terawat. Lelaki penjual mie instan itu tampaknya tidak memiliki persediaan senyum lagi, barangkali senyum-senyum itu sudah ia habiskan untuk orang-orang berseragam yang penuh bau keringat, atau pergi mengikuti angin karena tak tahan dikurung di balik petak kecil yang di batasi oleh gerai butut tadi.
Aku berjalan ke kursi berwarna biru gelap di bagian belakang, jauh dari bau mulut manusia. Aku keluarkan telepon selulerku dari kantong tas yang kotor oleh debu. Garis-garis pendek di sudut atas layar telepon selulerku yang sombong tak memuaskan aku. Dalam gerak orang yang kalah aku memencet nomor kontak di phone book. Setelah nada sambung yang menjengkelkan kemudian penghitung waktu di layar teleponku mulai berjalan. Aku memasang headset, dan mulai mendengarkan dengus napas di seberang sana, tanpa suara. Tanpa memedulikan penjelasan yang mungkin seharusnya ingin ia dengar aku mengucapkan maaf. Aku tak peduli akan serapah apa yang mungki ia mampu tujukan padaku, aku bertekad untuk menyerah, melayani semua tuduhannya tanpa bantahan. Kemudian, seiring dengan angin berbau tanah di seberang yang menyapu bau garam dari hidungku, barangkali ia lelah, lalu mulai tersenyum. Aku mendengar senyum yang manis sekali dari suara feminim di sebarang sana. Lalu, seolah kapal melaju dengan daya hidup yang sempurna, riak besar berkecipak dengan riang di bawah sana. Dan penderitaan di bahuku lenyap begitu saja. Tawa dalam suaranya yang merdu benar benar mengangkat kemurungan dari mataku. Kemudian bintang-bintang muncul dengan sopan di hamparan langit, di sana, di sebelah utara, penuh kepercayaan diri memamerkan bintang terindahnya di langit utara.
Tiba-tiba aku rindu pada kasurku yang hangat, aku ingin lelap, mengunjungi mimpi yang baik hati, menyapa hari esok.